Penadah Minyak Rusia Diancam AS, Apakah China Bernasib Sama dengan India

Senin, 25 Agustus 2025 - 21:12 WIB
loading...
Penadah Minyak Rusia...
Kilang minyak China terus meningkatkan impor minyak mentah Rusia setelah India mengurangi pembelian di bawah tekanan tarif AS (Amerika Serikat). Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Kilang minyak China terus meningkatkan impor minyak mentah Rusia setelah India mengurangi pembelian di bawah tekanan tarif AS (Amerika Serikat). Seperti diketahui China dan India menjadi pembeli utama minyak Rusia setelah sanksi Barat menghantam Moskow menyusul eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022.

Presiden AS, Donald Trump baru-baru ini memberlakukan tarif 25% pada impor India, yang mulai berlaku pada 27 Agustus, mendatang mengacu pada perdagangan minyak New Delhi yang terus berlanjut dengan Rusia. India harus menghadapi pungutan tarif 25% setelah gagal mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS.

Langkah baru ini dilaporkan telah membuat kilang negara India untuk sementara menghentikan impor minyak mentah Rusia, yang sebelumnya menyuplai 36% dari total pasokan nasional seperti dilansir RT.

Baca Juga: Profil 4 Perusahaan India Pembeli Minyak Mentah Rusia

Analis minyak mentah senior di Kpler, Muyu Xu mengatakan, bahwa pabrik pengolahan milik negara dan swasta besar China telah membeli sekitar 13 muatan minyak mentah Rusia untuk bulan Oktober dan setidaknya dua untuk bulan November, yang akan dikirim dari pelabuhan Arktik dan Laut Hitam Rusia, rute yang biasanya melayani India.

Langkah ini dilaporkan terjadi di tengah penurunan pembelian dari India menyusul ancaman tarif dari Trump seperti diungkapkan Muyu Xu dikutip CNN. Xu menyebutkan langkah itu "opportunistik," mengacu pada diskon harga USD3 per barel untuk minyak mentah Rusia dibandingkan alternatif dari Timur Tengah.

Ia memprediksi China kemungkinan akan terus meningkatkan impor saat Trump "masih menekan keras" India. Sementara Trump mengatakan, dia mungkin mengenakan tarif pada China karena membeli minyak Rusia juga, dia juga mengutarakan seperti dilansir Fox News, bahwa Trump masih mempertimbangkan hal itu.

Penyuling India belum mengomentari secara publik, meskipun Bloomberg dan Reuters melaporkan pada hari Rabu bahwa India melanjutkan pembelian minyak Rusia setelah sempat jeda singkat. Lalu Indian Oil dan Bharat Petroleum minggu ini telah mengamankan pengiriman untuk bulan September dan Oktober.

India mengecam tarif Trump dengan menyebutkan sebagai kebijakan yang "tidak adil, tidak terjustified, dan tidak masuk akal,". Negara ini juga berulang kali berjanji untuk memprioritaskan keamanan energi di atas politik.

Dalam pertemuan antar pemerintahan pada tengah pekan kemarin, Wakil Perdana Menteri Rusia, Denis Manturov mengonfirmasi bahwa Moskow terus memasok crude dan produk minyak ke India. Baca Juga: Minyak Mentah Rusia Mengalir Deras ke Negara BRICS

Sementara Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar, yang menjadi co-chair pembicaraan selama kunjungannya tiga hari ke Moskow, memuji hubungan bilateral dan mendesak perusahaan-perusahaan Rusia untuk memperdalam kerja sama dengan pengusaha India. Kedua belah pihak sepakat untuk mendiversifikasi keterlibatan ekonomi dan menegaskan tujuan untuk mencapai nilai perdagangan bilateral USD100 miliar pada tahun 2030.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Panel Energi SPIEF 2026...
Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
ART RI-AS Dinilai Tidak...
ART RI-AS Dinilai Tidak Mencerminkan Prinsip Timbal Balik, Indonesia Tanggung Beban Lebih Besar
Polemik Perjanjian Dagang...
Polemik Perjanjian Dagang RI–AS di Tengah Pembatalan Tarif Trump
Trump Berubah Lagi,...
Trump Berubah Lagi, Tiba-tiba Naikkan Tarif Global dari 10 Jadi 15%
Rekomendasi
MLSC All-Stars 2026:...
MLSC All-Stars 2026: 12 Tim Terbaik Siap Berebut Gelar Juara di Kudus
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Cibis Park Satukan Jazz Modern dan Betawi dalam Panggung Budaya Urban
Berita Terkini
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved