Pengambilan Paksa Aset Rusia Rp4.859 Triliun Berlanjut, AS Bakal Mendesak G7

Sabtu, 13 September 2025 - 08:45 WIB
loading...
A A A
Sementara itu beberapa pemimpin dan ahli Uni Eropa telah memperingatkan terhadap aksi pengambilalihan secara langsung dapat melanggar hukum internasional, merusak kepercayaan investor, dan mengganggu pasar keuangan. Sedangkan Moskow telah mengecam pembekuan aset tersebut dan memperingatkan bahwa pengambilalihan akan dianggap sebagai “perampokan” dan melanggar hukum internasional.

Selain itu upaya pengambilan paksa aset Rusia diyakini bakal berdampak negatif pada Barat. Selain penyitaan aset, AS juga punya berbagai cara untuk meredam mesin perang Rusia. Salah satunya yakni usulan penerapan tarif 50% hingga 100% pada China dan India yang bertujuan untuk membatasi penjualan energi Rusia dan memblokir transfer teknologi yang dapat digunakan ganda, tulis Bloomberg.

Rencana ini juga termasuk sanksi terhadap apa yang disebut 'armada bayangan' Rusia, raksasa energi Rosneft, dan asuransi maritim, bersamaan dengan sanksi terhadap bank regional. Selain itu sanksi juga menyasar perusahaan yang terhubung dengan sektor pertahanan, dan pembatasan pada layanan AI dan fintech di Zona Ekonomi Khusus Rusia.

Baca Juga: Sanksi Barat Bakal Dihapus, Perusahaan Raksasa AS Bersiap Kembali ke Pasar Rusia

Presiden AS Donald Trump, yang mendesak adanya pertemuan langsung antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Vladimir Zelensky dari Ukraina, telah mengancam akan memberlakukan sanksi baru terhadap Moskow.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
5 Negara yang Mampu...
5 Negara yang Mampu Membuat Jet Tempur Sendiri, Ada yang Produksinya Mencapai Ratusan Unit per Tahun
IRGC Serang 3 Pangkalan...
IRGC Serang 3 Pangkalan Militer Zionis, Israel Gempur 5 Kota Iran
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
Rekomendasi
Demi Framing, Pengamat...
Demi Framing, Pengamat Menilai Jusuf Hamka Catut Nama Mbak Tutut dan TPI ke Polemik CMNP dengan MNC Asia
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Honda Siap Luncurkan...
Honda Siap Luncurkan 2 Motor Listrik Terbaru Lagi
Berita Terkini
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
BKI dan ASDP Perkuat...
BKI dan ASDP Perkuat Sinergi Keselamatan Kerja Melalui Audit SMK3
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
DPR Ingatkan Potensi...
DPR Ingatkan Potensi Moral Hazard Penambahan Layer Rokok Ilegal
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved