Baru Mau Pulih, Bisnis Ritel Dihajar Lagi PSBB Jilid II
Selasa, 15 September 2020 - 09:00 WIB
loading...
Bisnis ritel diprediksi kembali terpukul. Foto:SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKi Jakarta kembali memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diperketat, sejak Senin (14/9). Kebijakan ini pun diyakini akan kembali membawa pengaruh terhadap aktifitas ekonomi. Dan bisa jadi, kebijakan ini akan diikuti oleh provinsi lain.
Sektor ritel, hotel dan restoran pun diprediksi akan menerima dampak terbesar dari kebijakan ini. Sektor ini akan makin tertekan karena memang daya beli masyarakat memang belum pulih. Baca juga: Ayo Pemerintah Genjot Terus BLT, Sektor Ritel Mulai Tumbuh 8-10%
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menegaskan Pandemi Covid 19 yang kemudian diikuti oleh kebijakan PSBB di berbagai daerah telah memukul bisnis ritel. Banyak peritel yang akhirnya menutup toko (gerai), karena pendapatan yang anjlok lebih dari 10%. Sementara biaya sewa, maintenance dan gaji karyawan, harus dibayar.
Sebagai gambaran, sejak PSBB tahap pertama dimulai, menurut Roy Mandey, diperkirakan hingga kini ada sekitar 6% anggota Aprindo yang tutup dan belum bisa membuka kembali usahanya.
Sebagai gambaran saat ini anggota Aprindo sekitar 600 peritel yang memiliki jaringan sekitar 40 ribu toko. Saat PSBB Jilid II diberlakukan, diperkirakan akan makin banyak anggota Aprindo yang bakal menutup usahanya.
Pada PSBB tahap pertama yang dilakukan di berbagai daerah menjadi pukulan berat bagi para pelaku retail. Ia memperkirakan, terdapat 5-6% anggota Aprindo yang tutup dan belum bisa kembali buka hingga kini. “Jadi belum recovery, tetapi mulai membaik. Kalau sekarang masih 9%, tetapi sudah ada pertumbuhan,” ujarnya.
Ellen May, pendiri Ellen May Institute, menjelaskan saat PSBB jilid pertama saja sudah membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,2%. Kontraksi pertumbuhan ekonomi ini membawa dampak negatif terhadap semua sektor ekonomi, termasuk di bisnis ritel.
Menurut Ellen, kebijakan PSBB total berpotensi membuat kinerja keuangan perusahaan-perusahaan ritel tersebut menjadi sangat berat. Imbasnya, sejak awal pandemi sampai saat ini terdapat kurang lebih 10 ribu karyawan perusahaan ritel mengalami PHK, dan jumlahnya berpotensi terus bertambah. PSBB jilid II ini diprediksi bakal makin menekan kinerja sektor ritel. Baca juga : PSBB Jakarta Dadakan, Pengusaha: Kita Tak Ingin Serahkan Nyawa kepada Keadaan
Sementara itu Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono juga mengingatkan PSBB di DKI Jakarta yang kembali diberlakukan akan menimbulkan pengaruh besar pada aktivitas sektor ritel dan restoran. Sebab aktifits masyarakat sebagai konsumen dibatasi, begtu juga dengan pengunjung mall dan pusat niaga lainnya juga makin diperketat. Padahal kunjungan konsumen jadi penentu omset bisnis ritel dan restoran.
Sektor ritel, hotel dan restoran pun diprediksi akan menerima dampak terbesar dari kebijakan ini. Sektor ini akan makin tertekan karena memang daya beli masyarakat memang belum pulih. Baca juga: Ayo Pemerintah Genjot Terus BLT, Sektor Ritel Mulai Tumbuh 8-10%
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menegaskan Pandemi Covid 19 yang kemudian diikuti oleh kebijakan PSBB di berbagai daerah telah memukul bisnis ritel. Banyak peritel yang akhirnya menutup toko (gerai), karena pendapatan yang anjlok lebih dari 10%. Sementara biaya sewa, maintenance dan gaji karyawan, harus dibayar.
Sebagai gambaran, sejak PSBB tahap pertama dimulai, menurut Roy Mandey, diperkirakan hingga kini ada sekitar 6% anggota Aprindo yang tutup dan belum bisa membuka kembali usahanya.
Sebagai gambaran saat ini anggota Aprindo sekitar 600 peritel yang memiliki jaringan sekitar 40 ribu toko. Saat PSBB Jilid II diberlakukan, diperkirakan akan makin banyak anggota Aprindo yang bakal menutup usahanya.
Pada PSBB tahap pertama yang dilakukan di berbagai daerah menjadi pukulan berat bagi para pelaku retail. Ia memperkirakan, terdapat 5-6% anggota Aprindo yang tutup dan belum bisa kembali buka hingga kini. “Jadi belum recovery, tetapi mulai membaik. Kalau sekarang masih 9%, tetapi sudah ada pertumbuhan,” ujarnya.
Ellen May, pendiri Ellen May Institute, menjelaskan saat PSBB jilid pertama saja sudah membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,2%. Kontraksi pertumbuhan ekonomi ini membawa dampak negatif terhadap semua sektor ekonomi, termasuk di bisnis ritel.
Menurut Ellen, kebijakan PSBB total berpotensi membuat kinerja keuangan perusahaan-perusahaan ritel tersebut menjadi sangat berat. Imbasnya, sejak awal pandemi sampai saat ini terdapat kurang lebih 10 ribu karyawan perusahaan ritel mengalami PHK, dan jumlahnya berpotensi terus bertambah. PSBB jilid II ini diprediksi bakal makin menekan kinerja sektor ritel. Baca juga : PSBB Jakarta Dadakan, Pengusaha: Kita Tak Ingin Serahkan Nyawa kepada Keadaan
Sementara itu Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono juga mengingatkan PSBB di DKI Jakarta yang kembali diberlakukan akan menimbulkan pengaruh besar pada aktivitas sektor ritel dan restoran. Sebab aktifits masyarakat sebagai konsumen dibatasi, begtu juga dengan pengunjung mall dan pusat niaga lainnya juga makin diperketat. Padahal kunjungan konsumen jadi penentu omset bisnis ritel dan restoran.
Lihat Juga :