Baru Mau Pulih, Bisnis Ritel Dihajar Lagi PSBB Jilid II
Selasa, 15 September 2020 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
Saat PSBB transisi atau PSBB yang dilonggarkan diterapkan (Juli-Agustus) , terlihat mulai ada peningkatan kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan dan restoran. Sebenarnya ini menjadi tanda-tanda adanya pemulihan di bisnis ini. Teguh Yudo menilai, PSBB yang kembali diterapkan akan kembali menurunkan angka kunjungan masyarakat yang sudah mulai meningkat.
Riset yang dilakukan oleh Mandiri Institute selama periode Juli-Agustus memperlihatkan mobilitas masyarakat ke tempat belanja memang telah meningkat dari 43% di Bulan Juli menjadi 57% pada Agustus 2020. Meskipun terjadi peningkatan angka ini masih di bawah kunjungan normal. Data menunjukkan, angka kunjungan tertinggi ritel pada Agustus 2020 adalah ke pusat perbelanjaan yang mencapai 61%, diikuti oleh supermarket 56%, dan toko lainnya 55%.
Seperti diketahui, sejak Juni 2020 Jakarta dan sekitarnya mulai menrapkan PSBB Transisi. Mandiri Institute pun mulai melakukann riset ini pada minggu pertama Juli melalui metode live monitoring. Pelacakan dengan metode ini dilakukan dari 5.968 lokasi toko dan 7.531 restoran di 8 kota besar. “Kenaikan kunjungan ke pusat belanja umumnya didorong oleh pekerja yang mulai bekerja dari kantor dan keinginan konsumen untuk mendapatkan entertainment setelah berakhirnya PSBB," jelas Yudo.
Dari lokasi 8 kota besar yang disurvei, tingkat kunjungan pusat belanja di Makasar (66%) jadi yang tertinggi. Diikuti kemudian oleh Denpasar (59%) dan Jakarta (57%). Kunjungan ke pusat belanja yang ada di Kota Bogor, menjadi yang terendah yakni 51%.
Baca juga: PSBB Total Jakarta, Rem Darurat Pahit Anies yang Berujung Manis
Hasil riset ini juga menunjukkan angka makan di tempat (dine-in) pada Agustus 2020 telah mencapai 52,3% dari sebelumnya 40,2% di Juli 2020. Kunjungan ke restoran dengan kategori general menjadi yang tertinggi yakni mencapai 54,5% di Agustus dari sebelumnya yang hanya 36,9% di Bulan Juli.
Kenaikan dine-in restoran didorong oleh restoran kategori general. Hal ini disebabkan karena menu makanan yang lebih beragam dan selera yang lebih sesuai dengan kelompok masyarakat menengah. Adapun, kenaikan signifikan dine-in berasal dari kunjungan restoran di Jabotebek, yang tercatat mencapai 54%, meningkat dari sebelumnya 35% pada Juli 2020.
Menurut Yudo, kebijakan PSBB yang lebih longgar, terutama terkait dengan kebijakan operasional restoran mendorong tingginya angka dine-in di kota-kota tersebut.
Dari hasil riset yang dilakukan Mandiri Institute ini juga dapat menunjukkan bahwa dinamika kunjungan akan sangat bergantung dengan kebijakan PSBB. Pemberlakuan PSBB akan cenderung menurunkan angka kunjungan. Menerapkan protokol kesehatan yang ketat di pusat belanja dan restoran, terutama untuk dine-in dapat menjadi jalan tengah antara pencegahan infeksi COVID-19 dan menjaga kondisi ekonomi di dua sektor tersebut.
Jagonya Ayam Ikut Terpuruk
Kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan yang belum normal ini juga membawa konsekwensi anjloknya kinerja keuangan perusahaan ritel. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), misalnya. Selama Semester I-2020 penjualannya tercatat Rp 1,47 triliun. Turun sebanyak 57,8 %, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,49 triliun.
Riset yang dilakukan oleh Mandiri Institute selama periode Juli-Agustus memperlihatkan mobilitas masyarakat ke tempat belanja memang telah meningkat dari 43% di Bulan Juli menjadi 57% pada Agustus 2020. Meskipun terjadi peningkatan angka ini masih di bawah kunjungan normal. Data menunjukkan, angka kunjungan tertinggi ritel pada Agustus 2020 adalah ke pusat perbelanjaan yang mencapai 61%, diikuti oleh supermarket 56%, dan toko lainnya 55%.
Seperti diketahui, sejak Juni 2020 Jakarta dan sekitarnya mulai menrapkan PSBB Transisi. Mandiri Institute pun mulai melakukann riset ini pada minggu pertama Juli melalui metode live monitoring. Pelacakan dengan metode ini dilakukan dari 5.968 lokasi toko dan 7.531 restoran di 8 kota besar. “Kenaikan kunjungan ke pusat belanja umumnya didorong oleh pekerja yang mulai bekerja dari kantor dan keinginan konsumen untuk mendapatkan entertainment setelah berakhirnya PSBB," jelas Yudo.
Dari lokasi 8 kota besar yang disurvei, tingkat kunjungan pusat belanja di Makasar (66%) jadi yang tertinggi. Diikuti kemudian oleh Denpasar (59%) dan Jakarta (57%). Kunjungan ke pusat belanja yang ada di Kota Bogor, menjadi yang terendah yakni 51%.
Baca juga: PSBB Total Jakarta, Rem Darurat Pahit Anies yang Berujung Manis
Hasil riset ini juga menunjukkan angka makan di tempat (dine-in) pada Agustus 2020 telah mencapai 52,3% dari sebelumnya 40,2% di Juli 2020. Kunjungan ke restoran dengan kategori general menjadi yang tertinggi yakni mencapai 54,5% di Agustus dari sebelumnya yang hanya 36,9% di Bulan Juli.
Kenaikan dine-in restoran didorong oleh restoran kategori general. Hal ini disebabkan karena menu makanan yang lebih beragam dan selera yang lebih sesuai dengan kelompok masyarakat menengah. Adapun, kenaikan signifikan dine-in berasal dari kunjungan restoran di Jabotebek, yang tercatat mencapai 54%, meningkat dari sebelumnya 35% pada Juli 2020.
Menurut Yudo, kebijakan PSBB yang lebih longgar, terutama terkait dengan kebijakan operasional restoran mendorong tingginya angka dine-in di kota-kota tersebut.
Dari hasil riset yang dilakukan Mandiri Institute ini juga dapat menunjukkan bahwa dinamika kunjungan akan sangat bergantung dengan kebijakan PSBB. Pemberlakuan PSBB akan cenderung menurunkan angka kunjungan. Menerapkan protokol kesehatan yang ketat di pusat belanja dan restoran, terutama untuk dine-in dapat menjadi jalan tengah antara pencegahan infeksi COVID-19 dan menjaga kondisi ekonomi di dua sektor tersebut.
Jagonya Ayam Ikut Terpuruk
Kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan yang belum normal ini juga membawa konsekwensi anjloknya kinerja keuangan perusahaan ritel. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), misalnya. Selama Semester I-2020 penjualannya tercatat Rp 1,47 triliun. Turun sebanyak 57,8 %, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,49 triliun.
Lihat Juga :