Panas Bumi Jadi Tulang Punggung Transisi Energi, Analis Nilai Prospek PGEO Positif
Selasa, 30 Desember 2025 - 14:53 WIB
loading...
A
A
A
Perkuat Peran Panas Bumi dalam Bauran Listrik Nasional
Lebih lanjut, Jeremy menilai prospek sektor EBT di Indonesia akan semakin menguat seiring dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dalam dokumen tersebut, kontribusi listrik dari EBT ditargetkan mencapai 30% pada 2034, dengan tambahan kapasitas terpasang EBT sebesar 52,8 GW. Dari jumlah tersebut, panas bumi diproyeksikan berkontribusi sekitar 5,2 GW, meningkat signifikan dari kapasitas eksisting saat ini. Kemudian pangsa pasar EBT berdasarkan kapasitas terpasang ditargetkan meningkat menjadi 37,5% pada 2034, naik dari sekitar 9,6% saat ini.
“Melihat pergerakan beberapa saham di sektor EBT, tampaknya minat investor terhadap sektor EBT mulai terlihat. Sementara itu, untuk PGEO, saat ini sahamnya terlihat berada dalam fase koreksi setelah mengalami kenaikan pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini. Namun, secara fundamental, prospek jangka menengahnya masih tetap menarik,” katanya.
Terkait aspek eksekusi proyek, Jeremy menilai sinergi antar pemangku kepentingan menjadi faktor penting. Ia menyoroti peran Danantara dalam mendukung kesepakatan kerja sama antara PGEO dan PT PLN (Persero), termasuk dengan anak usaha PLN Indonesia Power, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Kerja sama tersebut mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi dengan total potensi tambahan kapasitas hingga 530 megawatt (MW).
“Dengan keterlibatan Danantara, kami melihat koordinasi antara PGEO dan PLN sebagai offtaker tunggal dapat berjalan lebih selaras dalam pengembangan proyek ke depan,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Jeremy menilai prospek sektor EBT di Indonesia akan semakin menguat seiring dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dalam dokumen tersebut, kontribusi listrik dari EBT ditargetkan mencapai 30% pada 2034, dengan tambahan kapasitas terpasang EBT sebesar 52,8 GW. Dari jumlah tersebut, panas bumi diproyeksikan berkontribusi sekitar 5,2 GW, meningkat signifikan dari kapasitas eksisting saat ini. Kemudian pangsa pasar EBT berdasarkan kapasitas terpasang ditargetkan meningkat menjadi 37,5% pada 2034, naik dari sekitar 9,6% saat ini.
“Melihat pergerakan beberapa saham di sektor EBT, tampaknya minat investor terhadap sektor EBT mulai terlihat. Sementara itu, untuk PGEO, saat ini sahamnya terlihat berada dalam fase koreksi setelah mengalami kenaikan pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini. Namun, secara fundamental, prospek jangka menengahnya masih tetap menarik,” katanya.
Terkait aspek eksekusi proyek, Jeremy menilai sinergi antar pemangku kepentingan menjadi faktor penting. Ia menyoroti peran Danantara dalam mendukung kesepakatan kerja sama antara PGEO dan PT PLN (Persero), termasuk dengan anak usaha PLN Indonesia Power, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Kerja sama tersebut mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi dengan total potensi tambahan kapasitas hingga 530 megawatt (MW).
“Dengan keterlibatan Danantara, kami melihat koordinasi antara PGEO dan PLN sebagai offtaker tunggal dapat berjalan lebih selaras dalam pengembangan proyek ke depan,” pungkasnya.
(wur)
Lihat Juga :