Babak Baru BRICS 2026, Bakal Dipimpin India di Tengah Gejolak Era Trump

Rabu, 07 Januari 2026 - 07:26 WIB
loading...
Babak Baru BRICS 2026,...
India mengambil alih kepresidenan BRICS di tengah intervensi besar-besaran oleh pemerintahan Donald Trump yang memiliki implikasi geopolitik signifikan di seluruh dunia. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - India mengambil alih kepresidenan BRICS di tengah intervensi besar-besaran oleh pemerintahan Donald Trump yang memiliki implikasi geopolitik signifikan di seluruh dunia. Pada 12 Desember, Brasil secara resmi menyerahkan kepresidenan kelompok tersebut kepada India dalam pertemuan sherpa BRICS di Brasilia.

Sherpa Brasil, Duta Besar Mauricio Lyrio secara simbolis menyerahkan palu kepresidenan BRICS kepada rekan sejawatnya dari India yakni Duta Besar Sudhakar Dalela, dengan mencatat bahwa objek tersebut melambangkan keberlanjutan dan akar kerja sama yang mendalam untuk menyatukan negara-negara berkembang dalam kelompok ini.

Baca Juga: Menuju Peluncuran Mata Uang Bersama di 2026, BRICS Masih Terbelah

Dalela menekankan, bahwa prioritas kelompok selama kepresidenan India akan tetap dipandu oleh prinsip-prinsip dasar kontinuitas, konsolidasi, dan konsensus, "sambil tetap responsif terhadap perkembangan global yang muncul dan prioritas yang berkembang dari Global South."



Bergabungnya India terjadi pada saat kelompok BRICS berharap untuk memperluas pengaruhnya. Kepresidenan 2026 akan diawasi dengan seksama, karena Presiden AS Donald Trump telah menyatakan ketidaksukaannya terhadap BRICS dengan sangat jelas.

Saat New Delhi mengambil alih kepresidenan blok ini, mereka masih merundingkan kesepakatan perdagangan dengan Washington. Pembicaraan ini berjalan alot sejak Trump memberlakukan tarif 50% pada barang-barang India – setengahnya sebagai sanksi atas pembelian minyak India dari Rusia.

Konflik Venezuela

Penunjukan New Delhi sebagai presidensi BRICS di tahun baru bertepatan dengan aksi pasukan AS yang menyergap ibu kota Venezuela, Caracas, dan menculik Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya. Hal ini memicu kecaman internasional yang keras, terutama dari negara-negara BRICS seperti China, Brasil, dan Rusia.

Terkait hal itu, India bersikap hati-hati dalam menanggapi, tetapi dengan memegang presidensi BRICS, New Delhi akan menghadapi tugas yang sulit dalam menyeimbangkan isu-isu seperti ini.

Konflik Venezuela juga memberi kesempatan bagi negara-negara BRICS untuk mengangkat isu kegagalan yang dianggap terjadi dalam tata kelola global, dengan merujuk pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sebuah kelompok negara-negara berkembang BRICS, dengan India di pucuk pimpinan lebih siap menghadapi kompleksitas dalam merancang tatanan perdagangan baru dibandingkan dengan China yang lebih dominan dan tegas, dari sudut pandang AS yang antagonis.

Tugas utama India yakni mengarahkan mandat ekonomi dan politik dari sebuah blok dengan proporsi sebesar itu. Pada saat yang sama, India harus berharap untuk menyeimbangkan kompleksitas geopolitik dalam menghadapi kekuatan global, dengan kepentingan di berbagai bidang mulai dari ekonomi dan teknologi hingga energi dan mineral penting.

Ancaman Trump

Pada bulan Juli 2025 lalu, Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan 10% pada negara-negara yang bersekutu dengan BRICS. “Setiap negara yang bersekutu dengan kebijakan anti-Amerika BRICS, akan dikenakan Tarif tambahan 10%. Tidak akan ada pengecualian untuk kebijakan ini,” kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Presiden AS tersebut tidak menyebutkan kebijakan spesifik dari kelompok tersebut untuk membenarkan tuduhannya mengenai sikap 'anti-Amerika'.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Rekomendasi
Gempa Besar Berkekuatan...
Gempa Besar Berkekuatan M6,7 Guncang Palu Sulteng
Presiden Mahmoud Abbas:...
Presiden Mahmoud Abbas: Pilpres Palestina Digelar Awal 2027
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Berita Terkini
Revisi UU Hak Cipta...
Revisi UU Hak Cipta Dikhawatirkan Bebani UMKM hingga Startup
Libur 1 Muharram, Harga...
Libur 1 Muharram, Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,7 Juta per Gram
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Ini Prinsip Dasar Manajemen...
Ini Prinsip Dasar Manajemen Risiko yang Wajib Dipahami Setiap Trader Forex
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved