Babak Baru BRICS 2026, Bakal Dipimpin India di Tengah Gejolak Era Trump
Rabu, 07 Januari 2026 - 07:26 WIB
loading...
A
A
A
Deklarasi tersebut menyatakan keprihatinan atas peningkatan langkah tarif dan non-tarif sepihak, karena langkah-langkah tersebut merusak perdagangan dan tidak konsisten dengan aturan WTO.
PDB gabungan dari 11 negara anggota BRICS diproyeksikan melampaui rata-rata global pada tahun 2025, menurut laporan World Economic Outlook yang dirilis pada bulan April oleh IMF. Data tersebut memperkirakan bahwa kelompok ini akan mencapai pertumbuhan PDB sebesar 3,4%, sementara rata-rata dunia akan berada di angka 2,8%.
Secara ukuran kolektif, ekonomi BRICS kerap disebut sudah lebih besar daripada G7. Pangsa BRICS dari PDB global yang diukur dalam dolar AS yang disesuaikan dengan daya beli (PPP) meningkat dari 33% menjadi 38% pada tahun 2024, dan pangsa ekspor barang globalnya dari 20% menjadi 23%.
Pada periode yang sama, sebaliknya G7 yang terdiri dari AS, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris, hanya menyumbang 10% dari populasi dunia, 29% dari PDB global yang diukur dalam dolar AS yang disesuaikan dengan PPP, dan 29% dari ekspor barang global.
Faktor tersebut terlalu besar untuk diabaikan. Perluasan BRICS makin besar uang terjadi pada tahun 2024, ketika Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab menghadiri KTT pertama sebagai negara anggota penuh di Kazan, Rusia.
Selanjutnya Indonesia secara resmi bergabung sebagai anggota penuh pada awal 2025, menjadi anggota pertama dari Asia Tenggara. Sumber daya inilah yang akan diupayakan India untuk dimanfaatkan sebagai cara untuk mendiversifikasi mekanisme perdagangan global setelah tarif yang diberlakukan oleh AS.
Rezim tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Trump telah mempengaruhi pandangan banyak negara tentang mendiversifikasi diri dari AS sebagai mitra dagang utama. Tarif AS juga mendorong para ekonom untuk mendesak BRICS menggantikan “sistem keuangan internasional AS yang otoriter.”
Kepresidenan India di BRICS mungkin dapat membantu menarik banyak negara untuk bergabung dalam kelompok ini sebagai suatu kebutuhan dalam konteks tarif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan potensi ekonomi kolektif negara-negara tersebut dalam membangun mekanisme yang tepat untuk kerjasama keuangan, perdagangan, dan ekonomi.
India harus memastikan keseimbangan kepentingan yang beragam, dan pada saat yang sama menghindari ranjau diplomatik yang dapat mengecewakan kekuatan perdagangan global utama, terutama AS. Menariknya, pemerintahan Trump melihat China sebagai saingan ekonomi utama AS, bukan sebagai pesaing militernya.
Pengaruh BRICS
Saat ini secara kolektif, BRICS mencakup lebih dari seperempat ekonomi global dan hampir setengah populasi dunia. Pada tahun 2024, BRICS mencapai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4%, sementara pertumbuhan dunia berada di angka 3,3%.PDB gabungan dari 11 negara anggota BRICS diproyeksikan melampaui rata-rata global pada tahun 2025, menurut laporan World Economic Outlook yang dirilis pada bulan April oleh IMF. Data tersebut memperkirakan bahwa kelompok ini akan mencapai pertumbuhan PDB sebesar 3,4%, sementara rata-rata dunia akan berada di angka 2,8%.
Secara ukuran kolektif, ekonomi BRICS kerap disebut sudah lebih besar daripada G7. Pangsa BRICS dari PDB global yang diukur dalam dolar AS yang disesuaikan dengan daya beli (PPP) meningkat dari 33% menjadi 38% pada tahun 2024, dan pangsa ekspor barang globalnya dari 20% menjadi 23%.
Pada periode yang sama, sebaliknya G7 yang terdiri dari AS, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris, hanya menyumbang 10% dari populasi dunia, 29% dari PDB global yang diukur dalam dolar AS yang disesuaikan dengan PPP, dan 29% dari ekspor barang global.
Faktor tersebut terlalu besar untuk diabaikan. Perluasan BRICS makin besar uang terjadi pada tahun 2024, ketika Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab menghadiri KTT pertama sebagai negara anggota penuh di Kazan, Rusia.
Selanjutnya Indonesia secara resmi bergabung sebagai anggota penuh pada awal 2025, menjadi anggota pertama dari Asia Tenggara. Sumber daya inilah yang akan diupayakan India untuk dimanfaatkan sebagai cara untuk mendiversifikasi mekanisme perdagangan global setelah tarif yang diberlakukan oleh AS.
Rezim tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Trump telah mempengaruhi pandangan banyak negara tentang mendiversifikasi diri dari AS sebagai mitra dagang utama. Tarif AS juga mendorong para ekonom untuk mendesak BRICS menggantikan “sistem keuangan internasional AS yang otoriter.”
Kepresidenan India di BRICS mungkin dapat membantu menarik banyak negara untuk bergabung dalam kelompok ini sebagai suatu kebutuhan dalam konteks tarif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan potensi ekonomi kolektif negara-negara tersebut dalam membangun mekanisme yang tepat untuk kerjasama keuangan, perdagangan, dan ekonomi.
India harus memastikan keseimbangan kepentingan yang beragam, dan pada saat yang sama menghindari ranjau diplomatik yang dapat mengecewakan kekuatan perdagangan global utama, terutama AS. Menariknya, pemerintahan Trump melihat China sebagai saingan ekonomi utama AS, bukan sebagai pesaing militernya.
(akr)
Lihat Juga :