Babak Baru BRICS 2026, Bakal Dipimpin India di Tengah Gejolak Era Trump
Rabu, 07 Januari 2026 - 07:26 WIB
loading...
A
A
A
Sementara, tuduhan itu muncul setelah para pemimpin blok mengkritik kebijakan tarif, dengan menyebutnya sebagai “tindakan proteksionis sepihak yang tidak berdasar, termasuk kenaikan tarif timbal balik secara sembarangan.”
Pada Agustus 2025, Trump memberlakukan tarif sanksi 25% atas sebagian besar impor dari India karena negara itu terus membeli minyak Rusia. Bea tersebut ditambahkan di atas tarif 25% yang sebelumnya sudah dikenakan pada negara Asia Selatan itu.
Masih sama di bulan Juli, Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif yang memberlakukan bea masuk ad valorem sebesar 40% pada impor asal Brasil. Sehingga total bea untuk sebagian besar produk Brasil menjadi 50%.
Tarif ini diberlakukan untuk menghukum Brasil terkait penuntutan mantan presidennya dan sekutu Trump, Jair Bolsonaro, atas tuduhan kudeta. Namun, pada bulan November, Trump mencabut tarif 40% untuk produk makanan Brasil, termasuk daging sapi, kopi, kakao, dan buah-buahan.
Pembatalan kebijakan pada beberapa tarif, lantaran telah meningkatkan biaya makanan di Amerika Serikat. Misalnya, Brasil merupakan pemasok sepertiga kopi yang digunakan di AS dan setelah tarif diberlakukan, harga eceran kopi di AS naik lebih dari 40%.
Ini juga penting mengingat India sendiri sedang mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan selusin negara atau blok perdagangan. Pada tahun 2025, India menandatangani tiga perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris, Oman, dan Selandia Baru.
Baca Juga: 2026, Akankah Menjadi Tahun Runtuhnya Dominasi Dolar AS?
Langkah-langkah India dipandang sebagai upaya untuk mendiversifikasi dari pasar ekspor utamanya, yaitu AS. Bagi banyak negara yang bergelut dengan tarif, kondisi itu merupakan indikasi kemungkinan dari banyak hal.
“Jika Anda menutup AS bagi India melalui tarif besar, India harus mencari tempat lain untuk menjual ekspornya – seperti Rusia yang menemukan tempat lain untuk menjual energinya. India akan menjual ekspornya – tidak lagi ke AS – tetapi ke negara-negara BRICS lainnya,” ungkap seorang ekonom top Amerika memberikan peringatan seperti dilansir RT.
Itu bisa menjadi trajektori yang mungkin bagi negara-negara di luar blok yang terkena serangkaian tarif. Seiring dengan perang teknologi, tarif, dan sanksi yang menjadi panggung utama pada era Trump, negara-negara Global South harus mengejar perjanjian perdagangan bebas dan pakta bilateral untuk mengakses lebih banyak peluang perdagangan.
BRICS bisa menjadi platform yang sempurna. Pada Mei 2025, anggota BRICS memperbarui Strategi Kemitraan Ekonomi BRICS 2030 dan menyetujui Deklarasi BRICS tentang Reformasi WTO dan Penguatan Sistem Perdagangan Multilateral.
Menurut kelompok tersebut, reformasi diperlukan untuk mencerminkan transformasi ekonomi global, karena Brasil, Afrika Selatan, Arab Saudi, Tiongkok, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, India, Indonesia, Iran, dan Rusia mewakili 39% dari ekonomi global dan 24% dari perdagangan internasional.
Pada Agustus 2025, Trump memberlakukan tarif sanksi 25% atas sebagian besar impor dari India karena negara itu terus membeli minyak Rusia. Bea tersebut ditambahkan di atas tarif 25% yang sebelumnya sudah dikenakan pada negara Asia Selatan itu.
Masih sama di bulan Juli, Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif yang memberlakukan bea masuk ad valorem sebesar 40% pada impor asal Brasil. Sehingga total bea untuk sebagian besar produk Brasil menjadi 50%.
Tarif ini diberlakukan untuk menghukum Brasil terkait penuntutan mantan presidennya dan sekutu Trump, Jair Bolsonaro, atas tuduhan kudeta. Namun, pada bulan November, Trump mencabut tarif 40% untuk produk makanan Brasil, termasuk daging sapi, kopi, kakao, dan buah-buahan.
Pembatalan kebijakan pada beberapa tarif, lantaran telah meningkatkan biaya makanan di Amerika Serikat. Misalnya, Brasil merupakan pemasok sepertiga kopi yang digunakan di AS dan setelah tarif diberlakukan, harga eceran kopi di AS naik lebih dari 40%.
Perdagangan Jadi Alat
Tak diragukan lagi, perdagangan akan menjadi inti BRICS dalam konteks geopolitik saat ini karena negara-negara di seluruh dunia mengejar kepentingan mereka, terutama dalam hal energi dan mineral kritis.Ini juga penting mengingat India sendiri sedang mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan selusin negara atau blok perdagangan. Pada tahun 2025, India menandatangani tiga perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris, Oman, dan Selandia Baru.
Baca Juga: 2026, Akankah Menjadi Tahun Runtuhnya Dominasi Dolar AS?
Langkah-langkah India dipandang sebagai upaya untuk mendiversifikasi dari pasar ekspor utamanya, yaitu AS. Bagi banyak negara yang bergelut dengan tarif, kondisi itu merupakan indikasi kemungkinan dari banyak hal.
“Jika Anda menutup AS bagi India melalui tarif besar, India harus mencari tempat lain untuk menjual ekspornya – seperti Rusia yang menemukan tempat lain untuk menjual energinya. India akan menjual ekspornya – tidak lagi ke AS – tetapi ke negara-negara BRICS lainnya,” ungkap seorang ekonom top Amerika memberikan peringatan seperti dilansir RT.
Itu bisa menjadi trajektori yang mungkin bagi negara-negara di luar blok yang terkena serangkaian tarif. Seiring dengan perang teknologi, tarif, dan sanksi yang menjadi panggung utama pada era Trump, negara-negara Global South harus mengejar perjanjian perdagangan bebas dan pakta bilateral untuk mengakses lebih banyak peluang perdagangan.
BRICS bisa menjadi platform yang sempurna. Pada Mei 2025, anggota BRICS memperbarui Strategi Kemitraan Ekonomi BRICS 2030 dan menyetujui Deklarasi BRICS tentang Reformasi WTO dan Penguatan Sistem Perdagangan Multilateral.
Menurut kelompok tersebut, reformasi diperlukan untuk mencerminkan transformasi ekonomi global, karena Brasil, Afrika Selatan, Arab Saudi, Tiongkok, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, India, Indonesia, Iran, dan Rusia mewakili 39% dari ekonomi global dan 24% dari perdagangan internasional.
Lihat Juga :