Jaga Keberlanjutan Industri Sawit, 3 Serangga Penyerbuk Baru Diintroduksi
Kamis, 09 April 2026 - 18:21 WIB
loading...
Ketua Umum Gapki Eddy Martono. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Marihat resmi memperkenalkan tiga spesies serangga penyerbuk baru dari Tanzania untuk mendukung peningkatan produktivitas kelapa sawit nasional.
Langkah tersebut melanjutkan upaya yang dimulai lebih dari empat dekade lalu, yang mampu mengubah wajah industri kelapa sawit Indonesia. Pada tahun 1982, introduksi serangga penyerbuk menjadi titik balik yang mendorong lonjakan produktivitas secara signifikan.
Tiga jenis serangga penyerbuk baru yang diintroduksi PPKS Marihat yakni Elaeidobius Subvittatus, Elaeidobius Kamerunicus, dan Elaeidobius Plagiatus. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut inovasi ini sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang industri sawit nasional. "Kita belajar dari sejarah bahwa inovasi kecil bisa membawa dampak besar," ungkap Amran dalam sambutannya, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: GAPKI: Industri Sawit Berkomitmen Wujudkan Kesetaraan bagi Perempuan Pekerja
Ketiga spesies penyerbuk tersebut telah melalui serangkaian pengujian ilmiah dan dinyatakan aman untuk dikembangkan. Harapannya, mereka dapat memperkuat sistem penyerbukan sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem perkebunan.
Direktur Perbenihan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti menambahkan, momentum ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga penyerbuk tersebut, jelas dia, mampu menekan biaya dalam kegiatan budi daya, khususnya pada aspek penyerbukan, sehingga mendukung efisiensi di sektor perkebunan kelapa sawit.
"Kita menandai langkah strategis dalam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga ini sangat mampu menurunkan cost dalam produktivitas sawit," kata Ebi dalam sambutan pelepasan serangga penyerbuk di Simalungun yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-45 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Selain Kementan dan Gapki, introduksi serangga penyerbuk hingga pelepasan ini juga melibatkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Badan Karantina Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), dan konsorsium perusahaan anggota Gapki.
Baca Juga: BPDP Lokomotif Pelatihan dan Pengembangan SDM Sawit Nasional
Ebi menegaskan, seluruh proses yang dilakukan sudah melalui tahapan ilmiah dan regulasi yang sangat ketat serta dapat dipertanggungjawabkan. Seluruh pengujian tersebut menunjukkan bahwa spesies yang diintroduksi memiliki tingkat keamanan yang tinggi. "Langkah yang kita ambil ini adalah kebijakan berbasis sains, terukur dan tetap menjujung tinggi prinsip kehati-hatian," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Gapki Eddy Martono menilai momentum ini sebagai simbol kesinambungan inovasi. "Ini bukan hanya soal serangga, tetapi tentang bagaimana kita menjaga masa depan industri sawit Indonesia," tandasnya.
Menurut Eddy, pelepasan serangga ini juga menjadi ruang refleksi bahwa masa depan industri sawit nasional sangat bergantung pada kemampuan menggabungkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kolaborasi.
Langkah tersebut melanjutkan upaya yang dimulai lebih dari empat dekade lalu, yang mampu mengubah wajah industri kelapa sawit Indonesia. Pada tahun 1982, introduksi serangga penyerbuk menjadi titik balik yang mendorong lonjakan produktivitas secara signifikan.
Tiga jenis serangga penyerbuk baru yang diintroduksi PPKS Marihat yakni Elaeidobius Subvittatus, Elaeidobius Kamerunicus, dan Elaeidobius Plagiatus. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut inovasi ini sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang industri sawit nasional. "Kita belajar dari sejarah bahwa inovasi kecil bisa membawa dampak besar," ungkap Amran dalam sambutannya, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: GAPKI: Industri Sawit Berkomitmen Wujudkan Kesetaraan bagi Perempuan Pekerja
Ketiga spesies penyerbuk tersebut telah melalui serangkaian pengujian ilmiah dan dinyatakan aman untuk dikembangkan. Harapannya, mereka dapat memperkuat sistem penyerbukan sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem perkebunan.
Direktur Perbenihan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti menambahkan, momentum ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga penyerbuk tersebut, jelas dia, mampu menekan biaya dalam kegiatan budi daya, khususnya pada aspek penyerbukan, sehingga mendukung efisiensi di sektor perkebunan kelapa sawit.
"Kita menandai langkah strategis dalam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga ini sangat mampu menurunkan cost dalam produktivitas sawit," kata Ebi dalam sambutan pelepasan serangga penyerbuk di Simalungun yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-45 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Selain Kementan dan Gapki, introduksi serangga penyerbuk hingga pelepasan ini juga melibatkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Badan Karantina Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), dan konsorsium perusahaan anggota Gapki.
Baca Juga: BPDP Lokomotif Pelatihan dan Pengembangan SDM Sawit Nasional
Ebi menegaskan, seluruh proses yang dilakukan sudah melalui tahapan ilmiah dan regulasi yang sangat ketat serta dapat dipertanggungjawabkan. Seluruh pengujian tersebut menunjukkan bahwa spesies yang diintroduksi memiliki tingkat keamanan yang tinggi. "Langkah yang kita ambil ini adalah kebijakan berbasis sains, terukur dan tetap menjujung tinggi prinsip kehati-hatian," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Gapki Eddy Martono menilai momentum ini sebagai simbol kesinambungan inovasi. "Ini bukan hanya soal serangga, tetapi tentang bagaimana kita menjaga masa depan industri sawit Indonesia," tandasnya.
Menurut Eddy, pelepasan serangga ini juga menjadi ruang refleksi bahwa masa depan industri sawit nasional sangat bergantung pada kemampuan menggabungkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kolaborasi.
(nng)
Lihat Juga :