Rupiah Tembus Rp17.930 per Dolar AS, Risiko Impor Minyak Makin Besar
Rabu, 03 Juni 2026 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Apalagi, indikator pasar tenaga kerja di AS saat ini dilaporkan masih cukup solid. Kondisi tersebut membuat arah kebijakan moneter The Fed tidak diorientasikan pada mode ekspansi ekonomi, melainkan berfokus penuh untuk meredam laju inflasi agar tidak kembali bergejolak.
Baca Juga: IHSG Mendadak Jeblok 4,49% ke Bawah 6.000, Ini Penyebabnya
Dengan kondisi makroekonomi tersebut, The Fed diperkirakan masih membuka peluang besar untuk menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi pada tahun ini. Prospek pengetatan moneter tersebut berpotensi memperlebar selisih suku bunga (interest rate differential) dan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.
Adapun hingga pukul 11.00 WIB, kurs rupiah mencatatkan pelemahan sekitar 0,51% secara harian. Jika diakumulasikan, nilai tukar rupiah tercatat telah terdepresiasi hingga 9,9% secara tahunan (year-on-year) dan diproyeksikan masih akan dibayangi tekanan berlapis dalam jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Mendadak Jeblok 4,49% ke Bawah 6.000, Ini Penyebabnya
Dengan kondisi makroekonomi tersebut, The Fed diperkirakan masih membuka peluang besar untuk menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi pada tahun ini. Prospek pengetatan moneter tersebut berpotensi memperlebar selisih suku bunga (interest rate differential) dan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.
Adapun hingga pukul 11.00 WIB, kurs rupiah mencatatkan pelemahan sekitar 0,51% secara harian. Jika diakumulasikan, nilai tukar rupiah tercatat telah terdepresiasi hingga 9,9% secara tahunan (year-on-year) dan diproyeksikan masih akan dibayangi tekanan berlapis dalam jangka pendek.
(nng)
Lihat Juga :