Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Jum'at, 05 Juni 2026 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.930 per Dolar AS, Risiko Impor Minyak Makin Besar
Pengakuan tersebut menjadi momen pertama kalinya pejabat tinggi Kremlin mengonfirmasi penurunan produksi minyak Rusia sepanjang tahun 2026. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat output minyak mentah Rusia merosot 460.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi sekitar 8,8 juta barel per hari.
Sementara itu, JPMorgan memproyeksikan persediaan minyak komersial di negara-negara maju akan segera mendekati "tingkat stres operasional" pada awal Juni ini. Cadangan produk olahan bahkan diperkirakan bakal menyentuh ambang batas kritis pada periode Juli atau Agustus mendatang.
Menurut laporan The Cipher Brief, pemodelan pasar dari JPMorgan menunjukkan stok minyak mentah bisa mencapai "lantai operasional" pada akhir bulan ini. Jika kondisi tersebut tercapai, maka kenaikan harga akan menjadi satu-satunya mekanisme pasar yang tersisa untuk merasionalkan keterbatasan pasokan.
Saat ini, pelaku pasar ekonomi dan bisnis global masih terjebak di antara dua sentimen yang saling bertentangan. Sentimen tersebut adalah prospek perpanjangan gencatan senjata AS-Iran yang dapat melonggarkan pengiriman di Selat Hormuz, melawan realitas fisik penipisan cadangan yang berpotensi memicu lonjakan harga jika blokade terus bertahan hingga musim panas.
Pengakuan tersebut menjadi momen pertama kalinya pejabat tinggi Kremlin mengonfirmasi penurunan produksi minyak Rusia sepanjang tahun 2026. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat output minyak mentah Rusia merosot 460.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi sekitar 8,8 juta barel per hari.
Sementara itu, JPMorgan memproyeksikan persediaan minyak komersial di negara-negara maju akan segera mendekati "tingkat stres operasional" pada awal Juni ini. Cadangan produk olahan bahkan diperkirakan bakal menyentuh ambang batas kritis pada periode Juli atau Agustus mendatang.
Menurut laporan The Cipher Brief, pemodelan pasar dari JPMorgan menunjukkan stok minyak mentah bisa mencapai "lantai operasional" pada akhir bulan ini. Jika kondisi tersebut tercapai, maka kenaikan harga akan menjadi satu-satunya mekanisme pasar yang tersisa untuk merasionalkan keterbatasan pasokan.
Saat ini, pelaku pasar ekonomi dan bisnis global masih terjebak di antara dua sentimen yang saling bertentangan. Sentimen tersebut adalah prospek perpanjangan gencatan senjata AS-Iran yang dapat melonggarkan pengiriman di Selat Hormuz, melawan realitas fisik penipisan cadangan yang berpotensi memicu lonjakan harga jika blokade terus bertahan hingga musim panas.
(nng)
Lihat Juga :