Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
Selasa, 16 Juni 2026 - 15:41 WIB
loading...
A
A
A
Dalam skenario pesimistis apabila gangguan pasokan energi berlanjut, permintaan batu bara global diperkirakan meningkat sekitar 90 juta ton pada 2026. Dengan demikian, akumulasi tambahan permintaan batu bara dalam jangka pendek dapat mencapai sekitar 190 juta ton.
Baca Juga: Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
Kenaikan permintaan tersebut diperkirakan akan menopang harga batu bara acuan Newcastle 6.000 kkal. Rystad Energy memperkirakan harga rata-rata batu bara Newcastle mencapai sekitar USD125 per ton pada 2026 sebelum turun ke kisaran USD115 per ton pada 2027 seiring membaiknya pasokan LNG dan mulai beroperasinya kembali sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir.
Rystad Energy mencatat belum ada produsen batu bara utama yang menyetujui proyek tambang skala besar baru ataupun perpanjangan umur tambang secara signifikan sebagai respons terhadap lonjakan konsumsi tersebut. Kondisi itu berpotensi membuat pasar batu bara tetap ketat apabila gangguan pasokan energi global berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Baca Juga: Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
Kenaikan permintaan tersebut diperkirakan akan menopang harga batu bara acuan Newcastle 6.000 kkal. Rystad Energy memperkirakan harga rata-rata batu bara Newcastle mencapai sekitar USD125 per ton pada 2026 sebelum turun ke kisaran USD115 per ton pada 2027 seiring membaiknya pasokan LNG dan mulai beroperasinya kembali sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir.
Rystad Energy mencatat belum ada produsen batu bara utama yang menyetujui proyek tambang skala besar baru ataupun perpanjangan umur tambang secara signifikan sebagai respons terhadap lonjakan konsumsi tersebut. Kondisi itu berpotensi membuat pasar batu bara tetap ketat apabila gangguan pasokan energi global berlangsung lebih lama dari perkiraan.
(nng)
Lihat Juga :