Riset Terbaru Novo Nordisk: Wegovy Dosis Tinggi Efektif Pangkas Berat Badan

Kamis, 09 Juli 2026 - 15:56 WIB
loading...
Riset Terbaru Novo Nordisk:...
Terapi Wegovy dosis 7,2 miligram mampu menurunkan berat badan rata-rata hingga 27,7 persen. FOTO/CNBC
A A A
JAKARTA - Perusahaan farmasi global Novo Nordisk melaporkan hasil analisis terbaru yang menunjukkan terapi Wegovy dosis 7,2 miligram mampu menurunkan berat badan rata-rata hingga 27,7 persen pada sebagian pasien obesitas setelah menjalani pengobatan selama 72 minggu. Temuan tersebut memperkuat prospek pengembangan terapi obesitas berbasis hormon GLP-1 sekaligus memperketat persaingan inovasi di industri farmasi global.

"Pasien yang tidak termasuk kelompok early responders tetap memperoleh penurunan berat badan yang substansial dan bermakna secara klinis," ujar Associate Clinical Professor of Internal Medicine, Faculty of Medicine and Health Sciences, Tel Aviv University, Israel, Dr. Dror Dicker, sebagaimana dikutip dalam laporan CNBC International, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: Efektivitas Wegovy Jaga Massa Otot Perkuat Posisi Pasar Novo Nordisk

Data tersebut dipresentasikan Novo Nordisk dalam European Congress on Obesity (ECO) 2026 dan berasal dari analisis lanjutan uji klinis Wegovy dosis 7,2 miligram yang diluncurkan di Amerika Serikat sekitar satu bulan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan hingga 27,7 persen dicapai oleh kelompok pasien yang dikategorikan sebagai early responders, yakni mereka yang telah kehilangan sedikitnya 15 persen berat badan dalam 24 minggu pertama terapi.

Novo Nordisk menjelaskan respons terhadap terapi obesitas berbeda pada setiap individu. Pasien yang menunjukkan respons awal lebih cepat cenderung mempertahankan penurunan berat badan hingga mencapai rata-rata 27,7 persen pada minggu ke-72, sementara kelompok lain mengalami penurunan secara bertahap.

Selain kelompok early responders, penelitian juga mencatat hasil positif pada seluruh peserta yang menerima Wegovy dosis 7,2 miligram. Rata-rata penurunan berat badan mencapai hampir 21 persen setelah 72 minggu terapi, lebih tinggi dibandingkan hasil uji klinis Wegovy dosis 2,4 miligram yang sebelumnya mencatat penurunan rata-rata lebih dari 17 persen dalam periode yang sama.



Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa capaian penurunan berat badan hampir 28 persen tidak dapat dijadikan acuan bagi seluruh pasien. Hanya sekitar satu dari empat peserta penelitian yang masuk dalam kelompok early responders, sedangkan peserta lainnya tetap mencatat rata-rata penurunan berat badan sebesar 15,4 persen hingga akhir terapi.

Menurut Dr. Dicker, hasil tersebut menunjukkan manfaat klinis terapi tetap dapat dirasakan meskipun kecepatan respons setiap pasien berbeda. Oleh karena itu, keberhasilan pengobatan obesitas perlu dinilai secara menyeluruh berdasarkan perkembangan masing-masing pasien, bukan hanya pada kelompok yang mengalami penurunan berat badan paling besar.

Baca Juga: Pil Wegovy Novo Nordisk Pikat Pasar AS, Catat 18.000 Resep di Pekan Pertama

Temuan tersebut juga muncul di tengah persaingan yang semakin ketat dalam pengembangan terapi obesitas global. Novo Nordisk memosisikan Wegovy dosis 7,2 miligram sebagai bagian dari strategi memperkuat portofolio produknya, sekaligus memberikan pilihan terapi tambahan bagi tenaga kesehatan dan pasien yang membutuhkan respons pengobatan lebih optimal.

Meski hasil awal dinilai menjanjikan, para peneliti menilai masih diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui dampak penggunaan Wegovy dosis 7,2 miligram terhadap perkembangan terapi obesitas dan dinamika pasar secara keseluruhan. Hingga kini juga belum tersedia metode yang dapat memprediksi sejak awal pasien yang akan memberikan respons terapi lebih cepat, sehingga pendekatan pengobatan yang bersifat personal tetap menjadi faktor penting dalam penanganan obesitas.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tokopedia Integrasikan...
Tokopedia Integrasikan Layanan Konsultasi Dokter hingga Tebus Obat Daring
Harga Obat di RI Lebih...
Harga Obat di RI Lebih Mahal 400%, Ini Arahan Jokowi ke Kepala BPOM
Nah Loh! McDonalds dan...
Nah Loh! McDonalds dan KFC Cs Waswas dengan Obat yang Tengah Ngetrend
Kemenkes Larang Obat...
Kemenkes Larang Obat Sirup, Pedagang Tekor Ratusan Juta
Tegas! Presiden Jokowi...
Tegas! Presiden Jokowi Ingin Stop Impor Obat hingga Alkes
Mulai Hari Ini, Obat,...
Mulai Hari Ini, Obat, Kosmetik dan Barang Gunaan Wajib Sertifikat Halal
Jamu Aman Bebas Bahan...
Jamu Aman Bebas Bahan Kimia Obat Jadi Kunci Jaga Warisan Budaya Indonesia
ResepGerak.ID Diluncurkan,...
ResepGerak.ID Diluncurkan, Platform Resep Latihan Berbasis Bukti Ilmiah Pertama di Indonesia
Aturan Baru, BPOM Siap...
Aturan Baru, BPOM Siap Tindak Tegas Penjualan Obat Ilegal di Minimarket
Rekomendasi
Gubernur Bushehr Ungkap...
Gubernur Bushehr Ungkap Target Serangan AS, Pemakaman Khamenei Tak Terdampak
Habiburokhman Tegaskan...
Habiburokhman Tegaskan Komisi III DPR Bakal Terus Kawal Kasus Dugaan Korupsi Batu Bara
Gus Falah Mendukung...
Gus Falah Mendukung Polri Usut Kasus Dugaan Korupsi Batu Bara
Berita Terkini
Bidik Pasar Triliunan...
Bidik Pasar Triliunan Dolar, OKX Luncurkan Marketplace Berbasis Agen AI
Cikarang Tumbuh Pesat,...
Cikarang Tumbuh Pesat, Lippoland Luncurkan OAZE Lakeside Homes Hunian Premium
Booth Kopi Koperasi...
Booth Kopi Koperasi Merah Putih Karanganyar Bidik Pasar Gen Z
Bahlil Ancam Akan Tinjau...
Bahlil Ancam Akan Tinjau RKAB Penambang yang Menolak Pakai B50
TikTok Gelontorkan Rp3,6...
TikTok Gelontorkan Rp3,6 Miliar Edukasi Gizi dan Angkat Potensi Pangan Lokal
MNC Sekuritas Sukses...
MNC Sekuritas Sukses Gelar Grand Final MotionTrade Billionaires Games 2026
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved