Ada Nilai Ekonomi Ratusan Triliun, Industri Tembakau Dipandang Diperlakukan Paling Tidak Adil

Senin, 13 Juli 2026 - 18:10 WIB
loading...
Ada Nilai Ekonomi Ratusan...
Ada mata rantai ekonomi yang nilainya Rp300 triliun, industri tembakau dinilai paling diperlakukan tidak adil. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Rencana Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang tengah menggodok Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) terkait Kemasan Produk Tembakau dinilai tidak tepat. Pasalnya jika aturan itu direalisasikan, dampaknya akan sangat besar terhadap industri.

Aturan itu juga berpotensi memukul rantai ekonomi pertembakauan dari hulu hingga hilir. Mengingat kebijakan akan menghilangkan identitas produk, melemahkan daya saing industri legal, sekaligus membuat marak peredaran rokok ilegal.

“Khusus penerimaan negara dari cukai tembakau saat ini telah mencapai Rp221 triliun. Ada enam juta orang yang terlibat, dalam industri tembakau dan hasil tembakau mulai dari pertanian sampai kepada perdagangan,” kata Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR, dikutip Senin (13/7/2026).

Baca Juga: Usulan Rokok Murah Dikhawatirkan Tekan Penerimaan Negara

Menurut Misbakhun, sangat tidak adil jika industri pertembakauan terus ditekan dengan kebijakan-kebijakan yang sangat memberatkan. Padahal, kontribusi industri ini terhadap perekonomian nasional terbilang besar.



"Ada mata rantai ekonomi yang nilainya Rp300 triliun. Industri yang diperlakukan paling tidak adil itu adalah industri tembakau . Pabrik rokok sampai sekarang pengaturan pajaknya ikecualikan dalam pembebanan struktur biayanya," jelas Misbakhun.

Wacana plain packaging bukanlah satu-satunya tantangan yang sedang dihadapi industri hasil tembakau (IHT). Industri ini juga harus menghadapi sejumlah usulan regulasi restriktif lainnya, seperti pembatasan kadar tar dan nikotin serta pelarangan bahan tambahan pada produk tembakau yang dipandang akan mematikan sektor tersebut.

Baca Juga: Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok

Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi FSP RTMM SPSI, Sudarto menambahkan, RPMK (Rancangan Peraturan Menteri Keuangan) dan berbagai aturan akan membawa tekanan terhadap IHT dan turut berdampak pada pekerja. Padahal pihaknya memiliki tugas meningkatkan kesejahteraan para pekerja.

"Tugas kami memberikan ruang kesejahteraan supaya tumbuh, tapi berbagai regulasi justru menghambat perkembangan kesejahteraan tenaga kerja, bahkan risiko pemutusan hubungan kerja," ujar dia.

Sudarto mengungkap, hubungan antara pekerja di sektor kretek adalah upah borong. Para pekerja pun rentan ketika berbagai macam kebijakan berdampak terhadap besarnya penghasilan yang diterima.

"Kalau barang yang dibuat merosot, upah yang diterima pun juga merosot. Turunnya kesejahteraan sampai risiko pemutusan hubungan kerja harus dialami oleh pekerja," tandas Sudarto.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usulan Rokok Murah Dikhawatirkan...
Usulan Rokok Murah Dikhawatirkan Tekan Penerimaan Negara
Rencana Batasan Tar-Nikotin...
Rencana Batasan Tar-Nikotin dan Penyeragaman Kemasan Dinilai Ancam Industri Kretek Nasional
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Bumerang Bagi Penerimaan...
Bumerang Bagi Penerimaan Negara, Usulan Kenaikan Batas Produksi Rokok Tuai Kritik
Lindungi Generasi Muda,...
Lindungi Generasi Muda, Sejumlah Elemen Dukung Standardisasi Kemasan Rokok
Usulan Bikin Rokok Murah...
Usulan Bikin Rokok Murah Khusus Warga Miskin Disebut Sesat Nalar
Lesbumi PBNU Serahkan...
Lesbumi PBNU Serahkan Petisi Penolakan Aturan Turunan PP 28/2024 kepada Kementerian Kesehatan
Bea Cukai Pantoloan...
Bea Cukai Pantoloan Gagalkan Peredaran 224 Ribu Batang Rokok Ilegal di Palu
Belajar dari Inggris,...
Belajar dari Inggris, Tembakau Alternatif Bisa Hentikan Kebiasaan Merokok
Rekomendasi
3 Fakta Kebakaran Bar...
3 Fakta Kebakaran Bar di Bangkok Tewaskan 27 Orang, Pintu Darurat Terhalang
Terjual 800 Unit, Rahasia...
Terjual 800 Unit, Rahasia Jetour T1 Bikin Pembeli Pilih Hybrid Ketimbang Bensin
Yusril Ingatkan Kejagung...
Yusril Ingatkan Kejagung Profesional dan Transparan Tangani Kasus Febrie Adriansyah
Berita Terkini
Danamon Prasmul EduWealth...
Danamon Prasmul EduWealth Menjawab Tren Kenaikan Biaya Pendidikan: Ekosistem Pendanaan dan Proteksi
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
Membuka Pintu Investasi...
Membuka Pintu Investasi dan Kerja Sama Selangor-Jawa Barat lewat SIBS 2026
Eksodus Miliarder: Mengapa...
Eksodus Miliarder: Mengapa Mark Zuckerberg hingga Orang Kaya Inggris Kompak Kabur?
Keamanan Jadi Faktor...
Keamanan Jadi Faktor Utama Nasabah Memilih Bank Digital
Ada Nilai Ekonomi Ratusan...
Ada Nilai Ekonomi Ratusan Triliun, Industri Tembakau Dipandang Diperlakukan Paling Tidak Adil
Infografis
8 Negara dengan Aturan...
8 Negara dengan Aturan Berpakaian Paling Ketat, Ada yang Melarang Sandal Jepit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved