Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Kamis, 23 Juli 2026 - 10:51 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: 10 Miliarder Imigran Teratas di Amerika, Nomor 1 Baru Ketemu Luhut
Sebaliknya, Guatemala harus kehilangan satu-satunya wakil mereka setelah pendiri Duolingo, Luis von Ahn, terdepak dari 'klub tiga koma' akibat anjloknya harga saham perusahaan.
Beberapa pendatang baru asal India yang sukses menembus daftar Forbes tahun ini di antaranya Hemant Taneja dengan venture capitalist. Lalu ada Sanjay Gajendra & Jitendra Mohan, yang merupakan pendiri perusahaan semikonduktor raksasa Astera Labs. Ditambah Shyam Sankar, Chief Technology Officer (CTO) Palantir.
"Awalnya rencana saya sederhana: kuliah S2, bekerja lima tahun, lalu pulang ke India. Semuanya berjalan sesuai rencana, kecuali bagian terakhir. Sekarang saya sudah berada di AS selama 32 tahun," ujar Jitendra Mohan merespons pencapaiannya seperti dilansir Forbes.
"Satu-satunya alasan saya datang ke AS adalah membawa mimpi besar untuk mendirikan perusahaan sendiri. Amerika masih menyediakan peluang luar biasa dan menjadi salah satu tempat paling inovatif di bumi," tambah Sanjay Gajendra dari Astera Labs.
Sebaliknya, Guatemala harus kehilangan satu-satunya wakil mereka setelah pendiri Duolingo, Luis von Ahn, terdepak dari 'klub tiga koma' akibat anjloknya harga saham perusahaan.
India Jadi 'Pabrik' Imigran Terkaya Nomor Satu
Untuk dua tahun berturut-turut, India mengukuhkan posisinya sebagai negara kelahiran imigran miliarder terbanyak di AS dengan rekor 19 orang. Angka tersebut naik drastis dari 12 orang pada tahun lalu. Diikuti oleh Israel dengan 11 miliarder, dan dengan angka serupa ada 11 miliarder kelahiran Taiwan.Beberapa pendatang baru asal India yang sukses menembus daftar Forbes tahun ini di antaranya Hemant Taneja dengan venture capitalist. Lalu ada Sanjay Gajendra & Jitendra Mohan, yang merupakan pendiri perusahaan semikonduktor raksasa Astera Labs. Ditambah Shyam Sankar, Chief Technology Officer (CTO) Palantir.
"Awalnya rencana saya sederhana: kuliah S2, bekerja lima tahun, lalu pulang ke India. Semuanya berjalan sesuai rencana, kecuali bagian terakhir. Sekarang saya sudah berada di AS selama 32 tahun," ujar Jitendra Mohan merespons pencapaiannya seperti dilansir Forbes.
Mitos Pembatasan vs Realita American Dream
Di tengah riuhnya dinamika politik dan retorika pembatasan imigrasi di AS, para miliarder ini membuktikan bahwa peluang untuk membangun bisnis dari nol dan meraih American Dream tetap terbuka lebar. Amjad Masad, miliarder kelahiran Yordania yang mendirikan start-up vibe coding Replit, menegaskan bahwa Amerika Serikat masih menjadi pasar paling dinamis di dunia."Satu-satunya alasan saya datang ke AS adalah membawa mimpi besar untuk mendirikan perusahaan sendiri. Amerika masih menyediakan peluang luar biasa dan menjadi salah satu tempat paling inovatif di bumi," tambah Sanjay Gajendra dari Astera Labs.
(akr)
Lihat Juga :