Redam Perang Dagang dengan AS, China Usul Pangkas Tarif Rp535 triliun
Minggu, 26 Juli 2026 - 16:46 WIB
loading...
Di tengah sengitnya dinamika perdagangan global, China memberikan sinyal perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat (AS). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Di tengah sengitnya dinamika perdagangan global, China memberikan sinyal perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat (AS). Seperti diketahui hubungan antara dua raksasa ekonomi dunia itu naik turun, ditambah belum lama ini AS memberlakukan tarif impor baru.
Sebelumnya pemerintah China membuka aspirasi publik terkait rencana kesepakatan pemotongan tarif timbal balik dengan Amerika Serikat untuk komoditas bernilai sekitar USD30 miliar (sekitar Rp535 triliun).
Baca Juga: Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
Langkah strategis ini dikonfirmasi langsung oleh Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) pada Kamis (23/7) waktu setempat. Rencana ini menyasar pelaku usaha domestik, asosiasi bisnis, pemerintah daerah, hingga asosiasi pengusaha Amerika Serikat yang beroperasi di China.
"China secara luas menyerap aspirasi dari perusahaan domestik, asosiasi bisnis, pemerintah daerah, hingga asosiasi bisnis AS. Di saat bersamaan, pihak AS juga melakukan hal serupa untuk menjaring masukan publik," jelas Meng Huating dalam konferensi pers resmi.
Baca Juga: 60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan
Langkah ini menyusul genjatan senjata perdagangan yang disepakati kedua negara akhir tahun lalu. Kehadiran Board of Trade dirancang khusus sebagai wadah mengeksplorasi pos-pos tarif yang dapat dilonggarkan guna memulihkan volume perdagangan bilateral.
Meng Huating menegaskan bahwa Beijing dan Washington berkomitmen untuk menyelesaikan rincian teknis secepat mungkin agar implementasi pemotongan tarif dapat segera menggairahkan kembali arus perdagangan dunia.
Meski begitu upaya kompromi kerja sama ekonomi AS-China seakan berjalan mundur ketika Amerika Serikat (AS) resmi merilis daftar lengkap 60 negara yang dijatuhi sanksi tarif impor baru mulai Jumat (24/7) pukul 00.01 waktu setempat.
Salah satu kategori diisi oleh negara-negara yang dinilai AS tidak melarang atau tidak secara efektif menindak impor hasil kerja paksa. Raksasa ekonomi seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura masuk dalam barisan ini.
Lalu mampukah upaya kompromi Negeri Tirai Bambu menandai berimbalnya era baru kerja sama ekonomi AS-China, atau sekadar jeda taktis di tengah persaingan geopolitik?.
Sebelumnya pemerintah China membuka aspirasi publik terkait rencana kesepakatan pemotongan tarif timbal balik dengan Amerika Serikat untuk komoditas bernilai sekitar USD30 miliar (sekitar Rp535 triliun).
Baca Juga: Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
Langkah strategis ini dikonfirmasi langsung oleh Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) pada Kamis (23/7) waktu setempat. Rencana ini menyasar pelaku usaha domestik, asosiasi bisnis, pemerintah daerah, hingga asosiasi pengusaha Amerika Serikat yang beroperasi di China.
Tim Negosiasi AS-China Intensifkan Komunikasi Melalui 'Board of Trade'
Pejabat Kementerian Perdagangan China, Meng Huating mengungkapkan, bahwa tim negosiasi dari Washington dan Beijing terus menjalin komunikasi intensif. Fokus utama mereka adalah mematangkan kerangka pemotongan tarif serta merinci fungsi dan model operasional dari lembaga baru bernama Board of Trade."China secara luas menyerap aspirasi dari perusahaan domestik, asosiasi bisnis, pemerintah daerah, hingga asosiasi bisnis AS. Di saat bersamaan, pihak AS juga melakukan hal serupa untuk menjaring masukan publik," jelas Meng Huating dalam konferensi pers resmi.
Produk Pertanian Jadi Senjata Utama Peredaan Tensi
Meskipun daftar rinci barang yang masuk dalam kerangka pemotongan tarif belum dirilis secara penuh, Kementerian Perdagangan China sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa sektor produk pertanian akan menjadi bagian utama dari pemangkasan bea masuk tersebut.Baca Juga: 60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan
Langkah ini menyusul genjatan senjata perdagangan yang disepakati kedua negara akhir tahun lalu. Kehadiran Board of Trade dirancang khusus sebagai wadah mengeksplorasi pos-pos tarif yang dapat dilonggarkan guna memulihkan volume perdagangan bilateral.
Dampak Positif Bagi Rantai Pasok Global
Langkah maju ini disambut hangat oleh para pelaku pasar internasional. Pemangkasan tarif atas barang senilai USD30 miliar diprediksi akan meringankan beban rantai pasok global dan memberikan kepastian hukum bagi para eksportir-importir di kedua negara.Meng Huating menegaskan bahwa Beijing dan Washington berkomitmen untuk menyelesaikan rincian teknis secepat mungkin agar implementasi pemotongan tarif dapat segera menggairahkan kembali arus perdagangan dunia.
Meski begitu upaya kompromi kerja sama ekonomi AS-China seakan berjalan mundur ketika Amerika Serikat (AS) resmi merilis daftar lengkap 60 negara yang dijatuhi sanksi tarif impor baru mulai Jumat (24/7) pukul 00.01 waktu setempat.
Salah satu kategori diisi oleh negara-negara yang dinilai AS tidak melarang atau tidak secara efektif menindak impor hasil kerja paksa. Raksasa ekonomi seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura masuk dalam barisan ini.
Lalu mampukah upaya kompromi Negeri Tirai Bambu menandai berimbalnya era baru kerja sama ekonomi AS-China, atau sekadar jeda taktis di tengah persaingan geopolitik?.
(akr)
Lihat Juga :