AKPY, BPDP dan Ditjenbun Perkuat Kompetensi Pekebun Sawit di Wajo
Senin, 27 Juli 2026 - 13:23 WIB
loading...
Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 149 peserta dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat dinilai tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sarana produksi maupun perluasan lahan, tetapi juga membutuhkan investasi berkelanjutan pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) pekebun. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 149 peserta dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
"SDM yang kuat menjadi salah satu tolok ukur produktivitas kebun. Bukan hanya soal luas lahan, tetapi bagaimana petani terus berkembang dan mau belajar mengikuti perkembangan zaman," kata Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi dalam keterangannya dikutip pada Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 hasil kolaborasi AKPY, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Peserta terdiri atas pekebun swadaya, penyuluh pertanian, dan aparatur pemerintah daerah yang dibekali materi teknis budidaya sawit berkelanjutan.
Idum mengatakan pelatihan dirancang tidak sekadar menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membentuk pekebun yang mampu mengelola kebun secara mandiri, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi maupun tantangan industri. Peserta juga diajak mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan agar mampu mengambil keputusan teknis secara lebih tepat.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas pekebun mencakup peningkatan pemahaman mengenai penggunaan bibit unggul, pengelolaan tanah, pemupukan, hingga strategi menghadapi perubahan iklim. "Kami berharap setelah pelatihan ini petani semakin kuat, didukung sarana prasarana yang baik dan kelembagaan yang semakin kokoh sehingga terwujud petani yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo Andi Pamereni mengatakan pengembangan SDM merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan perkebunan sawit di daerah. Hingga 2026, sekitar 400 pekebun di Kabupaten Wajo telah mengikuti program SDMP untuk meningkatkan kemampuan teknis dan produktivitas kebun.
Baca Juga: AKPY-BPDP Latih Pekebun Sawit di Paser Tingkatkan Nilai Jual TBS
Menurut Andi, sebagian besar kebun sawit swadaya di Wajo masih memerlukan pendampingan dalam penerapan praktik budidaya yang baik, mulai dari pemilihan bibit hingga pemupukan. "Kami berharap peningkatan sumber daya manusia petani sawit akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan pengembangan perkebunan sawit di Kabupaten Wajo," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan Nurul Fitriany Alimuddin menekankan keberhasilan pelatihan harus tercermin dari penerapan ilmu di lapangan. Melalui penguatan SDM secara berkelanjutan, AKPY, BPDP, dan Ditjenbun berharap lahir pekebun sawit yang lebih produktif, berdaya saing, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mendukung keberlanjutan industri sawit nasional.
"SDM yang kuat menjadi salah satu tolok ukur produktivitas kebun. Bukan hanya soal luas lahan, tetapi bagaimana petani terus berkembang dan mau belajar mengikuti perkembangan zaman," kata Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi dalam keterangannya dikutip pada Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 hasil kolaborasi AKPY, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Peserta terdiri atas pekebun swadaya, penyuluh pertanian, dan aparatur pemerintah daerah yang dibekali materi teknis budidaya sawit berkelanjutan.
Idum mengatakan pelatihan dirancang tidak sekadar menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membentuk pekebun yang mampu mengelola kebun secara mandiri, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi maupun tantangan industri. Peserta juga diajak mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan agar mampu mengambil keputusan teknis secara lebih tepat.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas pekebun mencakup peningkatan pemahaman mengenai penggunaan bibit unggul, pengelolaan tanah, pemupukan, hingga strategi menghadapi perubahan iklim. "Kami berharap setelah pelatihan ini petani semakin kuat, didukung sarana prasarana yang baik dan kelembagaan yang semakin kokoh sehingga terwujud petani yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo Andi Pamereni mengatakan pengembangan SDM merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan perkebunan sawit di daerah. Hingga 2026, sekitar 400 pekebun di Kabupaten Wajo telah mengikuti program SDMP untuk meningkatkan kemampuan teknis dan produktivitas kebun.
Baca Juga: AKPY-BPDP Latih Pekebun Sawit di Paser Tingkatkan Nilai Jual TBS
Menurut Andi, sebagian besar kebun sawit swadaya di Wajo masih memerlukan pendampingan dalam penerapan praktik budidaya yang baik, mulai dari pemilihan bibit hingga pemupukan. "Kami berharap peningkatan sumber daya manusia petani sawit akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan pengembangan perkebunan sawit di Kabupaten Wajo," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan Nurul Fitriany Alimuddin menekankan keberhasilan pelatihan harus tercermin dari penerapan ilmu di lapangan. Melalui penguatan SDM secara berkelanjutan, AKPY, BPDP, dan Ditjenbun berharap lahir pekebun sawit yang lebih produktif, berdaya saing, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mendukung keberlanjutan industri sawit nasional.
(nng)
Lihat Juga :