COTTON DAY 2020 Dorong Transformasi Industri Tekstil Saat Pandemi

loading...
COTTON DAY 2020 Dorong Transformasi Industri Tekstil Saat Pandemi
Cotton Council International melalui merek dagang COTTON USA kembali mengadakan agenda tahunan yang mempertemukan para pelaku industri tekstil dan fashion di Indonesia. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Cotton Council International melalui merek dagang COTTON USA kembali mengadakan agenda tahunan yang mempertemukan para pelaku industri tekstildan fashion di Indonesia pada Rabu (23/9/2020). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, agenda COTTON DAY 2020 kali ini menggunakan konsep virtual yang tidak hanya melibatkan pelaku industri di skala nasional melainkan juga hingga skala global.

Menurut Dr. Andy Do selaku representatif CCI di Indonesia, COTTON DAY 2020 membahas berbagai inovasi yang dirancang untuk mendorong bisnis perusahaan di era transformasi, termasuk paska pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia.

“COTTON DAY 2020 - Indonesia ini memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi para pelaku industri tekstil, karena dapat berinteraksi langsung dengan pelaku industri global. Tidak hanya memberikan hal baru, melainkan para pelaku industri tekstil di Indonesia juga bisa memperluas jaringan pasar mereka ke pelaku industri global secara langsung,” terang Andy Do.

(Baca Juga: Lebam Dihajar Pandemi Industri Tekstil Tetap Tak Mau Tutup, Kok?)



Senada dengan Andy, Chairman Cotton Council International Hank Reichle menyampaikan, bahwa terdapat optimisme di kalangan pelaku industri garmen global paska ditetapkannya Covid -19 sebagai pandemi.

Ditambahkan, saat ini, berbagai perusahaan di seluruh dunia mencari cara untuk meneruskan program keberlanjutan mereka selama pandemi berfokus untuk terus berusaha bertahan dengan peningkatan bantuan dari kemitraan luar (62%) sampai mereka mampu berinvestasi kembali dalam inovasi baru yang besar.

“Lebih dari 62% responden survey yang disampaikan para pemimpin perusahaan garmen global menyampaikan bahwa program keberlanjutan produk menjadi fokus utama saat ini. Selain itu, 59% responden juga menyampaikan bahwa mereka melakukan transparansi dalam produksi produk yang ramah lingkungan,” jelas Reichle.



(Baca Juga: Aje Gile, Tekstil Bodong Asal China Bikin Tekor Negara Rp7 Triliun)

Sementara itu, NCC President Gary Adams mengatakan bahwa berdasarkan data independen yang diterbitkan oleh aliansi keberlanjutan yang dikenal sebagai field to market, NCC memiliki rekam jejak 35 tahun dalam mengurangi dampak lingkungan dalam produksi kapas AS.

“Peningkatan efisiensi penggunaan lahan sebesar 31%, pengurangan kehilangan tanah sebesar 44%, penurunan efisiensi air sebesar 82%, energi sebesar 38%, dan emisi gas rumah kaca sebesar 30%. Jadi, ada rekam jejak di mana kami berada ' Kami pernah, tapi kami tahu, sebagai industri, itu tidak cukup," tandasnya.
(akr)
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top