Euforia Tanaman Hias
Sabtu, 03 Oktober 2020 - 05:59 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Buah dan Florikultura Direktoran Jendral Hortikultura Kementrian Pertanian (Kementan) Liferdi Lukman menanggapi positif fenomena tanaman hias yang kini tengah booming karena tentu berimbas secara positif terhadap pemasukan petani dan pelaku usaha tanaman hias. "Tren menanam dan memiliki tanaman hias khususnya pada masa pandemi ini menjadi asupan jiwa di tengah keterbatasan masyarakat,”ungkapnya di Jakarta, kemarin.
Dia memaparkan, sebagian masyarakat meyakini, memiliki dan merawat tanaman bisa membuat hati tenang, rileks dan bahagia. Hal ini menjadi peluang para petani dan tanaman hias untuk berproduksi dan mempromosikan tanaman hiasnya.
Jenis philodendron dan monstera terutama untuk jenis-jenis variegate dengan warna gelap, pink dan velvet harganya bisa sangat mahal hingga menyentuh angka Rp100 juta. Hal ini terjadi karena tanaman-tanaman tersebut menjadi sulit ditemui dipasaran karena keterbatasan stok tanaman. (Baca juga: Din Syamsuddin Minta Moeldoko Tak Mudah Lempar Tuduhan)
Menurut Ronald Bunga Mayang, Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Plt Kepala Seksi Jasa Penelitian Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) mengatakan, tidak dapat dipungkiri heboh tanaman hias hingga harganya yang terus tinggi disebabkan juga munculnya influencer yang memiliki kepentingan tertentu.
"Berbeda dari tren tahun 2000-an yang menaikan Anthurium atau dikenal gelombang cinta. Dulu hanya memenuhi pasar lokal, belum terbuka seperti saat ini. Kalau sekarang lebih terbuka dengan media sosial beserta para influencer di dalamnya," ujarnya.
Tanaman hias jenis daun-daunan ini memang lebih digemari karena daun lebih panjang usia hidupnya. Dibandingkan dengan bunga yang harus menungguh waktu tertentu untuk tumbuh dan kemudian akan cepat gugur.
"Tanaman hias lain yang pernah booming seperti Bonsai atau anggrek permintaannya stabil karena mereka punya pasar sendiri dan kolektor setia sehingga penjualan tidak meredup. Gelombang cinta yang termasuk tanaman daun cantik itu permintaan musiman," jelas Ronald.
Tren musiman ini, diramaikan dengan para kolektor baru sehingga menjadi populer. Geliat bisnis tanaman hias memang sangat bagus. Namun, Balithi selalu meningatkan kepada mitra yakni petani, pengusaha untuk berhati-hati. Sebab, jika tanaman itu mudah untuk diperbanyak, semua orang bisa melakukannya. Popularitas tanaman tidak akan bertahan lama. Seperti yang terjadi pada anthurium jenis gelombang cinta. Pernah langka sehingga menjadi buruan tapi karena sudah banyak yang menanam harga langsung turun. Apalagi jika semakin banyak di pasaran tidak akan ada lagi harganya. (Baca juga: Uni Eropa Sanksi 40 Pejabat Belarusia)
Balithi merupakan lembaga dibawah Kementrian Pertanian (Kementan) yang mempunya teknologi in-vitro. Memperbanyak tanaman menjadi lebih cepat lagi.
Balithi merupakan unit pelaksana teknis bidang penelitian tanaman hias di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan. Balithi sebagai institusi pemerintah menjadi pihak yang tidak bisa terlepas dari fenomena ini. Tingginya permintaan akan tanaman hias daun pot, menyebabkan produsen dituntut untuk dapat menyediakan stok tanaman dalam jumlah banyak secara terus-menerus.
Padahal kondisi saat ini, kebanyakan produsen-produsen lokal belum memiliki kemampuan untuk itu. "Saat ini memperbanyak bahan tanam masih dilakukan secara konvensional, melalui pencacahan atau pemotongan tunas tanaman. Teknik ini tidak bisa diandalkan untuk menyediakan bahan tanam (benih) dalam jumlah banyak dalam waktu singkat secara berkesinambungan," jelas Ronald.
Disini peranan Balithi, dituntut untuk bisa mendukung ketersediaan benih dari jenis-jenis tanaman hias daun yang sedang booming saat ini.
Menyikapi kondisi saat ini, pada 2021, beberapa jenis tanaman hias daun potensial dan bernilai ekonomi tinggi seperti philodendron, dracaena dan monstera akan dimasukan dalam program kegiatan Balai Penelitian Tanaman Hias, termasuk teknologi perbanyakan masal melalui kultur in-vitro.
Melalui teknologi ini diharapkan kendala keterbatasan jumlah benih tanaman hias dan tersebut bisa teratasi, sehingga produsen Indonesia bisa bersaing dengan negara produsen lain dipasaran lokal maupun global.
Pakar tanaman dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Syarifah Iis Aisyah menilai ada trend setter yang menciptakan jenis tanaman hias yang booming di periode tertentu. (Baca juga: Jelang Akhir Tahun, Realisasi PEN Baru Rp316 Triliun)
Dia memaparkan, sebagian masyarakat meyakini, memiliki dan merawat tanaman bisa membuat hati tenang, rileks dan bahagia. Hal ini menjadi peluang para petani dan tanaman hias untuk berproduksi dan mempromosikan tanaman hiasnya.
Jenis philodendron dan monstera terutama untuk jenis-jenis variegate dengan warna gelap, pink dan velvet harganya bisa sangat mahal hingga menyentuh angka Rp100 juta. Hal ini terjadi karena tanaman-tanaman tersebut menjadi sulit ditemui dipasaran karena keterbatasan stok tanaman. (Baca juga: Din Syamsuddin Minta Moeldoko Tak Mudah Lempar Tuduhan)
Menurut Ronald Bunga Mayang, Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Plt Kepala Seksi Jasa Penelitian Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) mengatakan, tidak dapat dipungkiri heboh tanaman hias hingga harganya yang terus tinggi disebabkan juga munculnya influencer yang memiliki kepentingan tertentu.
"Berbeda dari tren tahun 2000-an yang menaikan Anthurium atau dikenal gelombang cinta. Dulu hanya memenuhi pasar lokal, belum terbuka seperti saat ini. Kalau sekarang lebih terbuka dengan media sosial beserta para influencer di dalamnya," ujarnya.
Tanaman hias jenis daun-daunan ini memang lebih digemari karena daun lebih panjang usia hidupnya. Dibandingkan dengan bunga yang harus menungguh waktu tertentu untuk tumbuh dan kemudian akan cepat gugur.
"Tanaman hias lain yang pernah booming seperti Bonsai atau anggrek permintaannya stabil karena mereka punya pasar sendiri dan kolektor setia sehingga penjualan tidak meredup. Gelombang cinta yang termasuk tanaman daun cantik itu permintaan musiman," jelas Ronald.
Tren musiman ini, diramaikan dengan para kolektor baru sehingga menjadi populer. Geliat bisnis tanaman hias memang sangat bagus. Namun, Balithi selalu meningatkan kepada mitra yakni petani, pengusaha untuk berhati-hati. Sebab, jika tanaman itu mudah untuk diperbanyak, semua orang bisa melakukannya. Popularitas tanaman tidak akan bertahan lama. Seperti yang terjadi pada anthurium jenis gelombang cinta. Pernah langka sehingga menjadi buruan tapi karena sudah banyak yang menanam harga langsung turun. Apalagi jika semakin banyak di pasaran tidak akan ada lagi harganya. (Baca juga: Uni Eropa Sanksi 40 Pejabat Belarusia)
Balithi merupakan lembaga dibawah Kementrian Pertanian (Kementan) yang mempunya teknologi in-vitro. Memperbanyak tanaman menjadi lebih cepat lagi.
Balithi merupakan unit pelaksana teknis bidang penelitian tanaman hias di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan. Balithi sebagai institusi pemerintah menjadi pihak yang tidak bisa terlepas dari fenomena ini. Tingginya permintaan akan tanaman hias daun pot, menyebabkan produsen dituntut untuk dapat menyediakan stok tanaman dalam jumlah banyak secara terus-menerus.
Padahal kondisi saat ini, kebanyakan produsen-produsen lokal belum memiliki kemampuan untuk itu. "Saat ini memperbanyak bahan tanam masih dilakukan secara konvensional, melalui pencacahan atau pemotongan tunas tanaman. Teknik ini tidak bisa diandalkan untuk menyediakan bahan tanam (benih) dalam jumlah banyak dalam waktu singkat secara berkesinambungan," jelas Ronald.
Disini peranan Balithi, dituntut untuk bisa mendukung ketersediaan benih dari jenis-jenis tanaman hias daun yang sedang booming saat ini.
Menyikapi kondisi saat ini, pada 2021, beberapa jenis tanaman hias daun potensial dan bernilai ekonomi tinggi seperti philodendron, dracaena dan monstera akan dimasukan dalam program kegiatan Balai Penelitian Tanaman Hias, termasuk teknologi perbanyakan masal melalui kultur in-vitro.
Melalui teknologi ini diharapkan kendala keterbatasan jumlah benih tanaman hias dan tersebut bisa teratasi, sehingga produsen Indonesia bisa bersaing dengan negara produsen lain dipasaran lokal maupun global.
Pakar tanaman dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Syarifah Iis Aisyah menilai ada trend setter yang menciptakan jenis tanaman hias yang booming di periode tertentu. (Baca juga: Jelang Akhir Tahun, Realisasi PEN Baru Rp316 Triliun)
Lihat Juga :