Euforia Tanaman Hias

Sabtu, 03 Oktober 2020 - 05:59 WIB
loading...
A A A
"Tren itu memang dibuat dan diciptakan, masalah harga mahal diserahkan kepada konsumen dan kolektor sebagai penjual yang membuat kesepakatan. Selama tidak merugikan kedua belah pihak," ujarnya.

Syarifah menambahkan, tren tanaman hias ini biasanya tidak lebih dari satu tahun. Harga yang selangit itu akan turun dalam beberapa waktu ke depan. Tanaman hias yang semakin unik penampilannya akan semakin mahal. Meskipun tumbuh tidak normal, lebih kecil tapi karena bentuknya unik beda dari yang lain bisa jadi mahal. Unik terlihat pada daun dan bunga tanaman hias tersebut. Misalnya daun menjadi keriting, berwarba albino membuat tanaman tersebut menjadi spesies yang langka.

"Warna daun albino karena kekurangan kloroplas dalam daunnya. Kalau dia bisa hidup akan bagus sekali. Jenis ini selain mahal memeliharanya lebih sulit. Jadi bagi kolektor baru harus lebih berhati-hati," ungkap dosen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB ini.

Untuk mendapatkan tanaman hias albino ternyata cukup sulit. Seperti Monstera variegata harus didapat dari hasil persilangan atau cara lain seperti mutasi dengan sinar gamma. Ada beberapa program pemulihan yang dapat menciptakan keragaman berupa variegata. Makin aneh penampilannya memang lebih sulit itu juga yang membuat tanaman langka dan membuatnya mahal. (Baca juga: Berwisata Sambil Belajar di Liang Bua)

Maka, beberapa kolektor juga memperbanyak untuk mendapatkan tanaman serupa atau albino. Syarifah menjelaskan, cara memperbanyak dengan vegetatif yakni stek pucuk, stek daun, stek akar. Cara lain dengan generatif atau biji. Jika ingin menghasilkan variasi yang bervariatif tanam kembali dengan biji meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama.

"Kalau kita tidak ingin variasi, sama persis dengan tumbuhan yang ingin kita perbanyak, dapat dengan cara vegetatif. Tingkat kemudahan relatif, ada yang sangat mudah ada juga sulit karena membutuhkan lingkungan yang ketat seperti memperhatikan suhu dan kelembaban," jelasnya.

Tanaman hias yang berbeda dari sesama jenisnya memang diincar para kolektor. Tian seorang penjual tanaman di mengakui hal tersebut. Monstera yang harganya hanya Rp 50 ribu jika daunnya hijau, namun, saat tumbuh diluar kewajaran malah bisa mahal."Saya pernah jual paling mahal monstera variegata Rp 100 juta, satu pot terdiri dari 5 daun warnanya hampir putih. Itu memang impor dari Thailand. Memang belum pernah liat di Indonesia makanya ada yang berani beli dengan harga segitu," jelasnya. (Baca juga: Anies 'Pamer' Baju Batik, Pujian Netizen Bikin Hati Meleleh)

Tian mengatakan, semua tanaman hias daun sedang naik harganya sehingga penjual tidak berani stok banyak. Sistem pre order dilakukan, bila sudah ada pesanan, Tian yang langsung mencarikan. Berkeliling ke banyak petani hingga ke luar Jawa. Perjuangan mendapatkan tanaman sesuai pesanan juga yang membuat harga melambung.

Tian merupakan seorang kolektor yang menjelma menjadi pedagang bila tren tanaman hias sedang menanjak. Dia mengakui, konsumen yang ingin beli dengan harga mahal biasanya mereka para kolektor baru. "Kalau sudah pemain lama biasanya enggan untuk beli dengan harga mahal seperti sekarang karena sudah tahu harga aslinya," ucapnya.

Tanaman hias bagi para kolektor bisa menjadi bisnis dan investasi. Namun bukan bagi para kolektor dadakan yang membeli untuk disimpan dengan harapan harga lebih mahal dikemudian hari. Bisnis jual beli mungkin saja, namun tidak prospektif dalam waktu lama.

"Tahun lalu pernah beli syngonium variegata harga Rp 60 ribu. Saya perbanyak hingga 20 pot, sudah setahun ini tumbuh. Tidak menyangka kalau akan menjadi hits tanaman hias. Sekarang saya jual per pot Rp 250 ribu," ungkapnya.

Sosiolog Sigit Rohadi menilai, euforia tanaman hias memang sesuai ciri masyarakat Indonesia yang reaktif dan emosional. Ciri-ciri itu menandakan seseorang akan mudah tertarik dengan sesuatu yang baru dan bahkan dirinya sendiri belum tahu manfaatnya atau bahkan barangnya. (Lihat videonya: Janda Bolong jadi Primadona Saat Pandemi Harganya Mencapai Ratusan Juta)

Sigit mengenang tren tanaman hias pernah terjadi 30 tahun silam. Dulu tahun 1980- an masyarakat gandrung dengan tanaman bonsai. Tanaman ini pun langsung populer.Kemudian tahun 1990-an booming tanaman kaktus kemudian meledek jenis tanman hias lain pada 2000 an yakni anthurium.

Semua polanya sama ketika suplai melimpah di pasaran harga menurun drastis. Tren datang juga biasanya memang disertai momen tertentu. "Disaat masyarakat sedang bosan atau kelelahan berpikir. Karena Masyarakat sedang dihadapkan pada rutinitas yang berbeda dari keseharian. Tren barang tersebut meledak dengan sendirinya, seperti pada pandemi saat ini," jelasnya. (Ananda Nararya/FW Bahtiar)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wilmar Raih Penghargaan...
Wilmar Raih Penghargaan Setara Institute, Dinilai Mampu Seimbangkan Bisnis dan HAM
Tanaman Hias yang Mengubah...
Tanaman Hias yang Mengubah Hidup Sueb di Tajurhalang Bogor
FLOII Expo 2024 Tingkatkan...
FLOII Expo 2024 Tingkatkan Kolaborasi Industri Tanaman Hias Global
Mantan Mentan Bungaran...
Mantan Mentan Bungaran Saragih Sebut Indonesia Perlu Menko Pangan dan Agribisnis
Pentingnya Membangun...
Pentingnya Membangun Family Business yang Agile di Sektor Agribisnis
Tren Meningkat, Kopi...
Tren Meningkat, Kopi Fest Indonesia 2023 Siap Kunjungi Empat Kota
Sektor Agribisnis Indonesia...
Sektor Agribisnis Indonesia Siap Perkuat Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Saing di Kawasan ASEAN
Gas Tertawa Tren di...
Gas Tertawa Tren di Kalangan Anak Muda, BNN: Sangat Berbahaya
Meghan Markle Ikut Tren...
Meghan Markle Ikut Tren Throwback 2016, Kenang Awal Dekat dengan Pangeran Harry
Rekomendasi
Mengukur Kunci Sukses...
Mengukur Kunci Sukses Daerah, RGSS Resmi Hadir
Pemimpin Hizbullah Kecam...
Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Lebanon-Israel, Dianggap Tidak Tahu Malu
Bripka Dedy Wiratama...
Bripka Dedy Wiratama yang Bekingi Kampung Narkoba Samarinda Dipecat
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
Infografis
Ini Alasan Mengapa Tanaman...
Ini Alasan Mengapa Tanaman Ganja Harus Ditanam di Ketinggian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved