Pengusaha Pede Nasib UU Ciptaker Tak Akan Seapes Paket Kebijakan Ekonomi
Kamis, 15 Oktober 2020 - 17:23 WIB
loading...
A
A
A
"Enggaklah, Insy Allah enggak (enggak sama dengan paket kebijakan ekonomi)," ujar Rosan saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (15/10/2020). ( Baca juga:Sandiaga Uno Dorong Pemerintah Terbitkan Kebijakan Ekonomi Antivirus )
Menurut Rosan, alasan UU Cipta Kerja tidak akan gagal karena semua hal yang berkaitan dan mempersulit investasi sudah dipangkas. Meskipun ada beberapa kekurangan, namun dirinya meyakini hal tersebut akan disempurnakan dalam aturan turunan berupa peraturan pemerintah (PP) ataupun peraturan presiden (perpres).
"Saya rasa secara keseluruhan sudah terakomodasi. Mungkin kalau ada penyempurnaan dalam PP nanti kita lihat saja," ucapnya.
Sebagai gambaran, saat ini saja sudah ada investor dari beberapa negara yang akan merelokasi pabriknya atau perusahaanya dari China. Aksi relokasi ini menyusul perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang belum juga membaik. ( Baca juga:Perang Dagang China-AS dan Pandemi Tunda Aksi BUMN Ini Melantai di Bursa )
"Begitu banyaknya dari negara US, Eropa dan Jepang yang sudah memerintahkan perusahaannya untuk keluar dari China, dari US saja ada 1.000 perusahaan. Jadi itu akan jadi suatu kesempatan yang ditarik," kata Rosan.
Menurut Rosan, alasan UU Cipta Kerja tidak akan gagal karena semua hal yang berkaitan dan mempersulit investasi sudah dipangkas. Meskipun ada beberapa kekurangan, namun dirinya meyakini hal tersebut akan disempurnakan dalam aturan turunan berupa peraturan pemerintah (PP) ataupun peraturan presiden (perpres).
"Saya rasa secara keseluruhan sudah terakomodasi. Mungkin kalau ada penyempurnaan dalam PP nanti kita lihat saja," ucapnya.
Sebagai gambaran, saat ini saja sudah ada investor dari beberapa negara yang akan merelokasi pabriknya atau perusahaanya dari China. Aksi relokasi ini menyusul perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang belum juga membaik. ( Baca juga:Perang Dagang China-AS dan Pandemi Tunda Aksi BUMN Ini Melantai di Bursa )
"Begitu banyaknya dari negara US, Eropa dan Jepang yang sudah memerintahkan perusahaannya untuk keluar dari China, dari US saja ada 1.000 perusahaan. Jadi itu akan jadi suatu kesempatan yang ditarik," kata Rosan.
(uka)
Lihat Juga :