Ketempelan Resesi, Ekonomi RI Diprediksi -1,7 Persen di 2020
Jum'at, 30 Oktober 2020 - 11:53 WIB
loading...
Perekonomian Indonesia tahun ini diproyeksi berada di zona negatif akibat dampak pembatasan mobilitas akibat pandemi Covid-19. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Perekonomian Indonesia di tahun 2020 diprediksi minus akibat dampak pandemi Covid-19 . Organisasi Internasional The ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di zona negatif, yaitu -1,7%.
Ekonom Utama AMRO Sumio Ishikawa mengatakan, perekonomian Indonesia diperkirakan terkontraksi 1,7% pada tahun 2020 karena langkah-langkah pembatasan mobilitas untuk mengekang infeksi Covid-19 telah menekan aktivitas ekonomi domestik.
(Baca Juga: Jangan Panik, Resesi Hanya Stempel untuk Indonesia)
"Meskipun demikian, tingkat kontraksi lebih moderat dibandingkan dengan negara lain di kawasan," kata Ishikawa dalam siaran pers yang diterima, Jakarta, Jumat (30/10/2020).
Menurutnya, kebijakan ulang yang cepat dari bauran kebijakan dan pemberlakuan langkah-langkah stimulus besar telah memberikan dukungan yang tepat kepada rumah tangga, bisnis, dan sektor keuangan yang terkena dampak, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan Indonesia.
(Infografis: Penduduk Miskin Bisa Bertambah 1,2 Juta Akibat Resesi)
"Pihak berwenang segera merespons dengan kalibrasi ulang bauran kebijakan dan paket stimulus besar untuk mendukung rumah tangga dan bisnis yang terkena dampak, serta sektor keuangan. Sinergi kebijakan yang suportif dan berkelanjutan, bersama dengan perkembangan pesat vaksin Covid-19, diharapkan mendukung rebound dalam pertumbuhan menjadi 5,1% pada tahun 2021," katanya.
Ekonom Utama AMRO Sumio Ishikawa mengatakan, perekonomian Indonesia diperkirakan terkontraksi 1,7% pada tahun 2020 karena langkah-langkah pembatasan mobilitas untuk mengekang infeksi Covid-19 telah menekan aktivitas ekonomi domestik.
(Baca Juga: Jangan Panik, Resesi Hanya Stempel untuk Indonesia)
"Meskipun demikian, tingkat kontraksi lebih moderat dibandingkan dengan negara lain di kawasan," kata Ishikawa dalam siaran pers yang diterima, Jakarta, Jumat (30/10/2020).
Menurutnya, kebijakan ulang yang cepat dari bauran kebijakan dan pemberlakuan langkah-langkah stimulus besar telah memberikan dukungan yang tepat kepada rumah tangga, bisnis, dan sektor keuangan yang terkena dampak, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan Indonesia.
(Infografis: Penduduk Miskin Bisa Bertambah 1,2 Juta Akibat Resesi)
"Pihak berwenang segera merespons dengan kalibrasi ulang bauran kebijakan dan paket stimulus besar untuk mendukung rumah tangga dan bisnis yang terkena dampak, serta sektor keuangan. Sinergi kebijakan yang suportif dan berkelanjutan, bersama dengan perkembangan pesat vaksin Covid-19, diharapkan mendukung rebound dalam pertumbuhan menjadi 5,1% pada tahun 2021," katanya.
Lihat Juga :