Menunggu Peran Swasta Dalam Pemulihan Ekonomi
Kamis, 05 November 2020 - 09:05 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan swasta jelas memang paling besar kontribusinya dalam struktur ekonomi Indonesia. Namun, selama pandemi masih berlangsung sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dia menuturkan, tujuan program PEN bukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi, melainkan untuk meningkatkan ketahanan perekonomian, ketahanan masyarakat, dan dunia usaha.
“Saya melihat alokasi program PEN adalah untuk tujuan tersebut. Dalam jangka pendek selama pandemi ini masih berlangsung ukuran efektivitas program PEN bukan dalam bentuk kenaikan pertumbuhan ekonomi, tetapi dari ketahanan pelaku ekonomi sehingga bisa bangkit ketika pandemi berakhir,” katanya di Jakarta kemarin. (Baca juga: Kabar Baik, Pasien Sembuh Covid-19 Terus Meningkat)
Dihubungi terpisah, peneliti Indef Nailul Huda menuturkan, yang paling penting di sini adalah pelibatan swasta dalam pembangunan infrastruktur, SDM, hingga kesehatan nasional. “Kita ambil contoh proyek infrastruktur itu selalu dipegang oleh BUMN, swasta tidak kebagian. Proyek tol, jembatan itu banyak dikerjakan oleh BUMN seperti Adhi Karya, Hutama Karya. Kuenya bagi BUMN doang jadinya,” cetus Huda.
Namun, menurutnya, keterlibatan swasta terutama UMKM dalam pengadaan di instansi pemerintahan terbentur oleh berbagai aturan pengadaan seperti pengalaman usaha, harga, dan sebagainya. Maka itu, pemerintah setidaknya jangan mempersulit proses pengadaan. “Karena spesifikasinya kadang dibuat untuk menguntungkan pihak tertentu,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, saat ini Indonesia telah memasuki masa pemulihan ekonomi. Pemerintah meyakini momentum pemulihan ini akan terus berlangsung hingga 2021.
Keyakinan tersebut muncul dari berbagai indikator kinerja ekonomi nasional yang mulai membaik. “Di tahun 2020 Indonesia akan mencapai pertumbuhan berkisar -1,6% hingga 0,6% sehingga Indonesia akan berada di range pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari negara lain,” ungkapnya pada Indonesia Industry Outlook #IIO2021 secara virtual, Jakarta, kemarin. (Baca juga: Typo di UU Ciptaker, Mensesneg Diharapkan Bisa Lebih Hati-hati)
Airlangga melanjutkan, utilisasi sektor industri juga telah membaik rata-rata di angka 55%. Di samping itu juga terjadi penurunan risiko investasi di mana nilai indeks saham membaik dan kapitalisasi pasar mulai pulih kembali.
Dia menuturkan, tujuan program PEN bukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi, melainkan untuk meningkatkan ketahanan perekonomian, ketahanan masyarakat, dan dunia usaha.
“Saya melihat alokasi program PEN adalah untuk tujuan tersebut. Dalam jangka pendek selama pandemi ini masih berlangsung ukuran efektivitas program PEN bukan dalam bentuk kenaikan pertumbuhan ekonomi, tetapi dari ketahanan pelaku ekonomi sehingga bisa bangkit ketika pandemi berakhir,” katanya di Jakarta kemarin. (Baca juga: Kabar Baik, Pasien Sembuh Covid-19 Terus Meningkat)
Dihubungi terpisah, peneliti Indef Nailul Huda menuturkan, yang paling penting di sini adalah pelibatan swasta dalam pembangunan infrastruktur, SDM, hingga kesehatan nasional. “Kita ambil contoh proyek infrastruktur itu selalu dipegang oleh BUMN, swasta tidak kebagian. Proyek tol, jembatan itu banyak dikerjakan oleh BUMN seperti Adhi Karya, Hutama Karya. Kuenya bagi BUMN doang jadinya,” cetus Huda.
Namun, menurutnya, keterlibatan swasta terutama UMKM dalam pengadaan di instansi pemerintahan terbentur oleh berbagai aturan pengadaan seperti pengalaman usaha, harga, dan sebagainya. Maka itu, pemerintah setidaknya jangan mempersulit proses pengadaan. “Karena spesifikasinya kadang dibuat untuk menguntungkan pihak tertentu,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, saat ini Indonesia telah memasuki masa pemulihan ekonomi. Pemerintah meyakini momentum pemulihan ini akan terus berlangsung hingga 2021.
Keyakinan tersebut muncul dari berbagai indikator kinerja ekonomi nasional yang mulai membaik. “Di tahun 2020 Indonesia akan mencapai pertumbuhan berkisar -1,6% hingga 0,6% sehingga Indonesia akan berada di range pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari negara lain,” ungkapnya pada Indonesia Industry Outlook #IIO2021 secara virtual, Jakarta, kemarin. (Baca juga: Typo di UU Ciptaker, Mensesneg Diharapkan Bisa Lebih Hati-hati)
Airlangga melanjutkan, utilisasi sektor industri juga telah membaik rata-rata di angka 55%. Di samping itu juga terjadi penurunan risiko investasi di mana nilai indeks saham membaik dan kapitalisasi pasar mulai pulih kembali.
Lihat Juga :