Akankah Resesi Berlanjut ke Depresi Ekonomi? Ini Kata Ekonom
Kamis, 05 November 2020 - 12:58 WIB
loading...
A
A
A
"Kekhawatiran untuk belanja di luar rumah masih cukup tinggi sehingga kelas menengah dan atas mengalihkan uang ke simpanan perbankan atau aset aman. Situasi ini sulit mengalami perubahan apabila masalah fundamental gerak masyarakat terbatas karena pandemi belum juga diselesaikan," kata Bhima Saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (5/11/2020).
Di sisi lain, dia menambahkan, belanja pemerintah belum mampu mendorong pemulihan ekonomi. Meskipun ada kenaikan pertumbuhan sebesar 9,76%, namun kontribusi belanja pemerintah baru mencapai 9,69% pada kuartal III atau hanya naik tipis dibanding kuartal II yang sebesar 8,67% dari PDB.
(Baca Juga: Indonesia Engga Sendirian, Kepala BPS: Banyak Negara Alami Resesi)
Penyebab efektivitas belanja program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Rp695 triliun yang rendah menurutnya adalah terdapat kesalahan dalam konsep stimulus. Misalnya, kartu prakerja yang tetap dilanjutkan meskipun target sasaran tidak fokus, dan training secara online belum dibutuhkan dalam situasi masyarakat yang lebih membutuhkan bantuan langsung.
"Masalah lain dari PEN adalah program subsidi bunga yang serapannya relatif rendah, karena pemerintah terlalu mengandalkan jasa keuangan konvensional atau perbankan dalam penyelamatan UMKM, bukan andalkan koperasi atau pelaku keuangan mikro yang lebih memahami karakteristik debitur UMKM," katanya.
Di sisi lain, dia menambahkan, belanja pemerintah belum mampu mendorong pemulihan ekonomi. Meskipun ada kenaikan pertumbuhan sebesar 9,76%, namun kontribusi belanja pemerintah baru mencapai 9,69% pada kuartal III atau hanya naik tipis dibanding kuartal II yang sebesar 8,67% dari PDB.
(Baca Juga: Indonesia Engga Sendirian, Kepala BPS: Banyak Negara Alami Resesi)
Penyebab efektivitas belanja program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Rp695 triliun yang rendah menurutnya adalah terdapat kesalahan dalam konsep stimulus. Misalnya, kartu prakerja yang tetap dilanjutkan meskipun target sasaran tidak fokus, dan training secara online belum dibutuhkan dalam situasi masyarakat yang lebih membutuhkan bantuan langsung.
"Masalah lain dari PEN adalah program subsidi bunga yang serapannya relatif rendah, karena pemerintah terlalu mengandalkan jasa keuangan konvensional atau perbankan dalam penyelamatan UMKM, bukan andalkan koperasi atau pelaku keuangan mikro yang lebih memahami karakteristik debitur UMKM," katanya.
(fai)
Lihat Juga :