Ada Libur Panjang di Desember, Aksi Window Dressing Bisa Lebih Cepat
Jum'at, 06 November 2020 - 22:14 WIB
loading...
Suasana Bursa Efek Indonesia. Foto/Dok SINDOphoto/Yorri Farli
A
A
A
JAKARTA - Technical Analyst Panin Sekuritas, William Hartanto memprediksi aksi window dressing akhir tahun ini akan berlangsung jauh lebih awal. Hal ini disebabkan adanya libur panjang di akhir Desember yang merupakan pengganti libur hari raya Idul Fitri.
"Window dressing sering terjadi setiap kuartal termasuk akhir tahun dan mungkin tahun ini window dressingnya akan jauh lebih awal mengingat bulan Desember nanti liburnya agak lebih banyak karena perpindahan dari Idul Fitri ke Desember. Jadi, window dressing-nya bisa lebih cepet," ujar William dalam acara 2nd Session Closing IDX Channel, Jumat (6/11/2020).
(Baca juga: Sudah Tembus 5.300, IHSG Berpeluang Terus Melaju ke 5.500 )
Mengutip situs MNC Sekuritas, window dressing seringkali dilakukan oleh manajer investasi dan perusahaan terbuka (emiten) untuk mempercantik tampilan portofolio atau performa laporan keuangannya. Dengan strategi tersebut, tampilan portofolio dana yang dikelola atau laporan keuangan perusahaan menjadi semakin menarik di mata investor maupun pemegang saham.
Fenomena window dressing biasanya terjadi pada akhir kuartal saat perusahaan-perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan, tepatnya pada bulan Maret, Juni, September dan Desember. Window dressing yang paling signifikan terjadi pada akhir tahun, dimana biasanya harga saham akan menguat sampai bulan Januari yang dikenal juga dengan sebutan January Effect.
"Window dressing sering terjadi setiap kuartal termasuk akhir tahun dan mungkin tahun ini window dressingnya akan jauh lebih awal mengingat bulan Desember nanti liburnya agak lebih banyak karena perpindahan dari Idul Fitri ke Desember. Jadi, window dressing-nya bisa lebih cepet," ujar William dalam acara 2nd Session Closing IDX Channel, Jumat (6/11/2020).
(Baca juga: Sudah Tembus 5.300, IHSG Berpeluang Terus Melaju ke 5.500 )
Mengutip situs MNC Sekuritas, window dressing seringkali dilakukan oleh manajer investasi dan perusahaan terbuka (emiten) untuk mempercantik tampilan portofolio atau performa laporan keuangannya. Dengan strategi tersebut, tampilan portofolio dana yang dikelola atau laporan keuangan perusahaan menjadi semakin menarik di mata investor maupun pemegang saham.
Fenomena window dressing biasanya terjadi pada akhir kuartal saat perusahaan-perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan, tepatnya pada bulan Maret, Juni, September dan Desember. Window dressing yang paling signifikan terjadi pada akhir tahun, dimana biasanya harga saham akan menguat sampai bulan Januari yang dikenal juga dengan sebutan January Effect.
Lihat Juga :