Ssst...! Demi Beli Sukuk, Kaum Perempuan Rela Kurangi Uang Belanja?
Rabu, 18 November 2020 - 21:42 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan, penjualan produk investasi sukuk ritel seri 13 (SR013) mencapai Rp25,7 triliun. Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan obligasi negara ritel seri 17 (ORI017) yang senilai Rp18,34 triliun pada periode Juni-Juli 2020.
Dia mengungkap data-data pembeli SR013 yang ternyata didominasi oleh kaum perempuan . Pertama dari sisi jumlahnya terdapat 25.222 investor perempuan yang mendominasi atau sebesar 56,3%. Sedangkan secara volumenya perempuan juga mendominasi 50,8% atau mencapai Rp12 Triliun. Kemudian secara usia sebesar 36,59% didominasi usia milenial. ( Baca juga:Menkeu Akui Pemanfaatan Ekonomi Digital Belum Maksimal )
"Para perempuan mendominasi investasi di SR013. Kemungkinan ada pengurangan uang belanja yang dialihkan dengan berinvestasi," ujar Irianti dalam webinar hari ini di Jakarta.
Dia juga mengatakan minat milenial sangat tinggi berinvestasi karena menggunakan platform online. Meskipun secara nominal masih didominasi oleh usia baby boomers yang lebih mapan secara finansial. Strategi pemerintah meluncurkan instrumen tradable ini ternyata cukup berhasil karena minat masyarakat yang tinggi.
"Tujuannya untuk memanfaatkan dana menganggur di masyarakat akibat kondisi ketidakpastian. Namun nanti bila pandemi berakhir instrumen ini juga bisa dijual untuk keperluan lainnya," ujar Dwi.
Dia mengungkap data-data pembeli SR013 yang ternyata didominasi oleh kaum perempuan . Pertama dari sisi jumlahnya terdapat 25.222 investor perempuan yang mendominasi atau sebesar 56,3%. Sedangkan secara volumenya perempuan juga mendominasi 50,8% atau mencapai Rp12 Triliun. Kemudian secara usia sebesar 36,59% didominasi usia milenial. ( Baca juga:Menkeu Akui Pemanfaatan Ekonomi Digital Belum Maksimal )
"Para perempuan mendominasi investasi di SR013. Kemungkinan ada pengurangan uang belanja yang dialihkan dengan berinvestasi," ujar Irianti dalam webinar hari ini di Jakarta.
Dia juga mengatakan minat milenial sangat tinggi berinvestasi karena menggunakan platform online. Meskipun secara nominal masih didominasi oleh usia baby boomers yang lebih mapan secara finansial. Strategi pemerintah meluncurkan instrumen tradable ini ternyata cukup berhasil karena minat masyarakat yang tinggi.
"Tujuannya untuk memanfaatkan dana menganggur di masyarakat akibat kondisi ketidakpastian. Namun nanti bila pandemi berakhir instrumen ini juga bisa dijual untuk keperluan lainnya," ujar Dwi.
Lihat Juga :