Hampir Semua Pengembang Vaksin Covid-19 Digedor Demi Bantu Menkes Terawan

loading...
Hampir Semua Pengembang Vaksin Covid-19 Digedor Demi Bantu Menkes Terawan
Ketua Satgas PEN, Budi Gunadi Sadikin mengaku, telah menghubungi hampir semua pengembang vaksin Covid-19 untuk digunakan Indonesia sesuai permintaan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan. Foto/Dok
JAKARTA - Ketua Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional ( Satgas PEN ), Budi Gunadi Sadikin mengaku, telah menghubungi hampir semua pengembang vaksin Covid-19 untuk digunakan Indonesia. Adapun hal ini dilakukan sesuai permintaan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto untuk membantu solusi pengadaan vaksin.

(Baca Juga: Satgas PEN Target Serap Rp100 Triliun Anggaran Covid di Kuartal IV )

Saat mencoba menghubungi pengembang vaksin, Budi menyebut hal ini telah sesuai arahan dan koordinasi dari Menkes dan pengembang yang dihubungi juga sesuai dengan tertera di list Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Sampai sekarang ada 11 vaksin, yang sudah masuk uji klinikal trial klinis, trial tiga. Semua sudah kita kontak kecuali tiga seingat saya. Satu, Moderna di AS itu belum ada kontak dari kita; dua, Gamalea atau Sputnik di Rusia belum ada kontak formal; dan ketiga ada vaksin baru yang masuk, yang lain sudah ada kontak dari kita," ujar Budi dalam acara CEO Networking 2020 secara virtual, Selasa (24/11/2020).



Wakil Menteri BUMN ini menambahkan, terkait keputusan akhir vaksin yang dipilih, harga dan jenisnya akan diserahkan kepada Menkes. "Tapi kami membantu beliau sudah mengontak tujuh atau delapan perusahaan vaksin ini untuk memberikan opsi mana yang kira-kira cocok dengan Indonesia," katanya.

(Baca Juga: Pakar Ungkap 'Kelemahan' Vaksin-vaksin Covid-19 )

Sementara itu, pendekatan strategi kedua adalah dilakukan secara multilateral, dimana Indonesia akan aktif di WHO-CEPI-GAVI-Unicef yang juga bekerja sama untuk menyediakan akses ke vaksin, terutama ke negara yang tidak memiliki uang untuk pengadaan vaksin, seperti di Afrika dan Amerika Latin.



"Oleh karena itu organ dunia seperti WHO, kerja sama untuk melakukan pendekatan multilateral membantu negara yang kurang mampu. Dari Indonesia, at least membina hubungan dengan mereka, di CEPI dan GAVI ini ada sembilan alternatif vaksin lain yang di antaranya masuk list WHO clinical trial tiga, kita ada akses ke sana," ucapnya.

"Kalau nanti GAVI menentukan ini vaksin yang akan diberikan, indonesia bisa dapat jatah juga berapa persen dari populasi. itu secara garis besar," sambungnya.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top