Ekonomi RI 2021 Diprediksi Bank Dunia Hanya Capai 3,1%
Kamis, 17 Desember 2020 - 10:29 WIB
loading...
World Bank atau Bank Dunia menilai perekonomian Indonesia dan global masih berisiko tinggi mengalami penurunan, dimana untuk Indonesia mungkin turun ke angka 3,1% pada tahun 2021. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - World Bank atau Bank Dunia menilai perekonomian Indonesia dan global masih berisiko tinggi mengalami penurunan. Country Director Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Satu Kahkonen mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mungkin turun ke angka 3,1% pada tahun 2021.
Selanjutnya memasuki tahun 2022 hanya 3,8% di bawah skenario yang menurun akibat diperketatnya pembatasan mobilitas di Indonesia. "Ini melemahnya pertumbuhan dan harga-harga komoditas di tingkat global," ungkap Satu Kahkonen dalam video virtual, Kamis (17/12/2020).
(Baca Juga: Puja Puji UU Cipta Kerja Oleh Bank Dunia Direspons Positif Bursa )
Sambung dia menerangkan, kecepatan pemulihan tidak merata di semua sektor. Sektor-sektor yang membutuhkan kontak fisik secara intensif yang bergantung kepada interaksi tatap-muka dengan pelanggan – termasuk transportasi, perhotelan, perdagangan grosir dan eceran, konstruksi, manufaktur– mengalami hantaman cukup parah dan hanya sebagian saja yang mulai pulih.
"Sektor-sektor yang tidak membutuhkan kontak secara intensif – misalnya keuangan, pendidikan, komunikasi dan telekomunikasi – lebih kuat bertahan. Sektor-sektor dengan permintaan yang tinggi dari luar negeri – seperti pertambangan dan manufaktur sebagian terlindungi oleh mulai pulihnya perdagangan dan harga beberapa komoditas yang mengalami penurunan pada pertengahan tahun 2020," tandasnya.
Selanjutnya memasuki tahun 2022 hanya 3,8% di bawah skenario yang menurun akibat diperketatnya pembatasan mobilitas di Indonesia. "Ini melemahnya pertumbuhan dan harga-harga komoditas di tingkat global," ungkap Satu Kahkonen dalam video virtual, Kamis (17/12/2020).
(Baca Juga: Puja Puji UU Cipta Kerja Oleh Bank Dunia Direspons Positif Bursa )
Sambung dia menerangkan, kecepatan pemulihan tidak merata di semua sektor. Sektor-sektor yang membutuhkan kontak fisik secara intensif yang bergantung kepada interaksi tatap-muka dengan pelanggan – termasuk transportasi, perhotelan, perdagangan grosir dan eceran, konstruksi, manufaktur– mengalami hantaman cukup parah dan hanya sebagian saja yang mulai pulih.
"Sektor-sektor yang tidak membutuhkan kontak secara intensif – misalnya keuangan, pendidikan, komunikasi dan telekomunikasi – lebih kuat bertahan. Sektor-sektor dengan permintaan yang tinggi dari luar negeri – seperti pertambangan dan manufaktur sebagian terlindungi oleh mulai pulihnya perdagangan dan harga beberapa komoditas yang mengalami penurunan pada pertengahan tahun 2020," tandasnya.
Lihat Juga :