Banyak Peluang Usaha di 2021
Sabtu, 02 Januari 2021 - 06:28 WIB
loading...
A
A
A
Contoh lain adalah usaha menjadi vendor yang khusus mengumpulkan supplier beras dari seluruh Indonesia yang ditujukan untuk warteg-warteg di Indonesia. "Jadi warteg di Sumatera bisa dapat beras asli Cianjur. Ini akan mudah jika diatur melalui platform digital," sambung Tom.
Adapun di industri kreatif, usaha desain web atau agensi digital menjadi peluang yang akan mendatangkan keuntungan. Alasannya saat ini banyak seminar dan workshop yang dilakukan melalui platform digital. Namun sebagian besar masyarakat belum menguasai platform yang tersedia. "Seseorang punya skill dan dia bisa mengajukan diri sebagai pengajar. Tidak sulit mencari peserta karena sudah tersedia di platform tersebut," ungkapnya.
Bahkan tren terbaru lagi adalah memberikan edukasi cara memasak atau cooking class secara virtual. Semakin banyak yang senang memasak selama di rumah saja akibagt pandemi ini. Tidak mengherankan bila kebutuhan peralatan masak pun laku di pasaran. Tidak terkecuali kelas memasak virtual, mereka ingin dibimbing secara langsung dalam membuat makanan atau kue sehingga mereka yang ahli masak kini tidak hanya bisa menjadi koki atau pedagang makanan, tetapi juga pengajar cooking class virtual langsung dari dapur mereka sendiri dan bisa memungut biaya dari para peserta.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Endarto menilai fenomena bisnis jasa titip (jastip) ini tidak dapat disebut sebagai bisnis yang menjanjikan dalam skala besar. Untuk para pemula yang ingin menekuni bisnis jastip, Eko menyarankan untuk tidak meninggalkan pekerjaan tetapnya. Usaha jastip sebaiknya dijadikan usaha sampingan. Sebab bisnis ini sangat berisiko untuk jangka panjang karena keuntungan yang didapat dari jastip belum tentu bisa menutupi semua pengeluaran selama bepergian. (Baca juga: Investasi di Kabupaten Musi Banyuasin Tawarkan Peluang Usaha Ekonomi Hijau )
Pelaku wirausaha Dewi Pury yang biasa menjual kebutuhan fashion muslimah dan obat herbal melihat tren obat herbal memang menanjak, tetapi tidak dengan fashion sehingga dia terus mencari produk yang diyakini akan menjadi tren. Sesuai dengan hobinya yang senang mendekorasi ruangan, tercetuslah ide juga untuk menjual keperluan dekorasi ruangan. Mulai wallpaper, gorden hingga pajangan yang biasa Dewi beli untuk hunian sendiri kini dia jual kembali. "Saya suka share foto hasil dekorasi rumah, ternyata banyak yang tanya-tanya. Maka ide bisnis pun muncul. Saya hanya mengirimkan katalog dari toko online langganan, nanti saya pesankan untuk mereka. Tentu harga sudah disesuaikan," ungkap Dewi.
Meskipun banyak motif yang ditawarkan, Dewi dapat memastikan kualitas barang tersebut karena sama dengan yang sering dia beli. Akhirnya selain memikirkan dekorasi rumah sendiri, sering kali Dewi juga ikut memikirkan dekorasi yang sesuai untuk rumah konsumennya. Produk baru yang dijual memang terkadang harus dicari peluangnya dengan melihat tren yang sedang disukai masyarakat.
Adapun Muhammad Aria Yusuf, salah satu penggagas platform digital untuk pemasaran kelapa dan produk turunanya, Inacom.id, terus melakukan kolaborasi dengan para petani kelapa. "Tidak hanya untuk produk kelapa saja, tetapi untuk produk turunannya seperti santan dan batok kelapa. Juga virgin coconut oil (VCO)," ujarnya. Untuk produk santan dijual secara ritel dan dipasok ke rumah makan yang menyajikan masakan khas Sumatera, sedangkan untuk arang dan batok kelapa dipasok ke kedai-kedai makanan maupun restoran di seluruh Indonesia.
Adapun di industri kreatif, usaha desain web atau agensi digital menjadi peluang yang akan mendatangkan keuntungan. Alasannya saat ini banyak seminar dan workshop yang dilakukan melalui platform digital. Namun sebagian besar masyarakat belum menguasai platform yang tersedia. "Seseorang punya skill dan dia bisa mengajukan diri sebagai pengajar. Tidak sulit mencari peserta karena sudah tersedia di platform tersebut," ungkapnya.
Bahkan tren terbaru lagi adalah memberikan edukasi cara memasak atau cooking class secara virtual. Semakin banyak yang senang memasak selama di rumah saja akibagt pandemi ini. Tidak mengherankan bila kebutuhan peralatan masak pun laku di pasaran. Tidak terkecuali kelas memasak virtual, mereka ingin dibimbing secara langsung dalam membuat makanan atau kue sehingga mereka yang ahli masak kini tidak hanya bisa menjadi koki atau pedagang makanan, tetapi juga pengajar cooking class virtual langsung dari dapur mereka sendiri dan bisa memungut biaya dari para peserta.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Endarto menilai fenomena bisnis jasa titip (jastip) ini tidak dapat disebut sebagai bisnis yang menjanjikan dalam skala besar. Untuk para pemula yang ingin menekuni bisnis jastip, Eko menyarankan untuk tidak meninggalkan pekerjaan tetapnya. Usaha jastip sebaiknya dijadikan usaha sampingan. Sebab bisnis ini sangat berisiko untuk jangka panjang karena keuntungan yang didapat dari jastip belum tentu bisa menutupi semua pengeluaran selama bepergian. (Baca juga: Investasi di Kabupaten Musi Banyuasin Tawarkan Peluang Usaha Ekonomi Hijau )
Pelaku wirausaha Dewi Pury yang biasa menjual kebutuhan fashion muslimah dan obat herbal melihat tren obat herbal memang menanjak, tetapi tidak dengan fashion sehingga dia terus mencari produk yang diyakini akan menjadi tren. Sesuai dengan hobinya yang senang mendekorasi ruangan, tercetuslah ide juga untuk menjual keperluan dekorasi ruangan. Mulai wallpaper, gorden hingga pajangan yang biasa Dewi beli untuk hunian sendiri kini dia jual kembali. "Saya suka share foto hasil dekorasi rumah, ternyata banyak yang tanya-tanya. Maka ide bisnis pun muncul. Saya hanya mengirimkan katalog dari toko online langganan, nanti saya pesankan untuk mereka. Tentu harga sudah disesuaikan," ungkap Dewi.
Meskipun banyak motif yang ditawarkan, Dewi dapat memastikan kualitas barang tersebut karena sama dengan yang sering dia beli. Akhirnya selain memikirkan dekorasi rumah sendiri, sering kali Dewi juga ikut memikirkan dekorasi yang sesuai untuk rumah konsumennya. Produk baru yang dijual memang terkadang harus dicari peluangnya dengan melihat tren yang sedang disukai masyarakat.
Adapun Muhammad Aria Yusuf, salah satu penggagas platform digital untuk pemasaran kelapa dan produk turunanya, Inacom.id, terus melakukan kolaborasi dengan para petani kelapa. "Tidak hanya untuk produk kelapa saja, tetapi untuk produk turunannya seperti santan dan batok kelapa. Juga virgin coconut oil (VCO)," ujarnya. Untuk produk santan dijual secara ritel dan dipasok ke rumah makan yang menyajikan masakan khas Sumatera, sedangkan untuk arang dan batok kelapa dipasok ke kedai-kedai makanan maupun restoran di seluruh Indonesia.
Lihat Juga :