Abai dengan Kedelai, Sampai Kapan?
Senin, 04 Januari 2021 - 06:29 WIB
loading...
A
A
A
Diborong China
Kemendag mengungkapkan, kenaikan harga kedelai lebih banyak dipicu keputusan China yang membeli kedelai dalam jumlah besar pada Desember 2020. Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto mengatakan, pada Desember 2020, permintaan kedelai China naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. "Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia," katanya.
Atas kondisi ini, perlu antisipasi pasokan kedelai oleh para importir lantaran, stok saat ini tidak dapat segera ditambah akibat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas. "Penyesuaian harga dimaksud secara psikologis diperkirakan akan berdampak pada harga di tingkat importir pada Desember 2020 sampai beberapa bulan mendatang," bebernya.
Suhanto berharap importir yang masih memiliki stok kedelai untuk dapat terus memasok secara kontinyu kepada anggota Gakoptindo dengan tidak menaikan harga.
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan, harga kedelai impor sudah naik hampir 50% dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini membuat para perajin tahu dan tempe kewalahan.
Gakoptindo memastikan tahu dan tempe akan kembali ada di pasaran mulai hari ini. Namun, diperkirakan harganya akan naik 10-20%. Biasanya harga tahu atau tempe Rp11.000-12.000 per kg. Hari ini, harga tahu dan tempe akan berkisar Rp14.000-15.000 per kg.
Salah satu produsen tahu, Sofia,68, warga Kampung Babakan Sawah, Kelurahan Sindangkasih, Purwakarta menyebutkan, harga kedelai impor kini melambung menjadi Rp9.000/kg. Pada saat normal dirinya mampu membeli dan memproduksi hingga 3 kuintal kedelai. Namun kini dia mengurangi produksi sangat banyak.
Usman, salah satu pedagang tempe dan tahu meminta agar pemerintah bisa segera mencari solusi terbaik. Sebab jika hal ini dibiarkan akan sangat merugikan pedagang. "Kita ingin pemerintah beri keringanan dan bantu kita. Karena kita jualan saja selalu rugi enggak untung karena harga kedelai tinggi," kata Usman. (f.w.bahtiar/rakhmatulloh/michelle natalia)
Kemendag mengungkapkan, kenaikan harga kedelai lebih banyak dipicu keputusan China yang membeli kedelai dalam jumlah besar pada Desember 2020. Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto mengatakan, pada Desember 2020, permintaan kedelai China naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. "Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia," katanya.
Atas kondisi ini, perlu antisipasi pasokan kedelai oleh para importir lantaran, stok saat ini tidak dapat segera ditambah akibat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas. "Penyesuaian harga dimaksud secara psikologis diperkirakan akan berdampak pada harga di tingkat importir pada Desember 2020 sampai beberapa bulan mendatang," bebernya.
Suhanto berharap importir yang masih memiliki stok kedelai untuk dapat terus memasok secara kontinyu kepada anggota Gakoptindo dengan tidak menaikan harga.
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan, harga kedelai impor sudah naik hampir 50% dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini membuat para perajin tahu dan tempe kewalahan.
Gakoptindo memastikan tahu dan tempe akan kembali ada di pasaran mulai hari ini. Namun, diperkirakan harganya akan naik 10-20%. Biasanya harga tahu atau tempe Rp11.000-12.000 per kg. Hari ini, harga tahu dan tempe akan berkisar Rp14.000-15.000 per kg.
Salah satu produsen tahu, Sofia,68, warga Kampung Babakan Sawah, Kelurahan Sindangkasih, Purwakarta menyebutkan, harga kedelai impor kini melambung menjadi Rp9.000/kg. Pada saat normal dirinya mampu membeli dan memproduksi hingga 3 kuintal kedelai. Namun kini dia mengurangi produksi sangat banyak.
Usman, salah satu pedagang tempe dan tahu meminta agar pemerintah bisa segera mencari solusi terbaik. Sebab jika hal ini dibiarkan akan sangat merugikan pedagang. "Kita ingin pemerintah beri keringanan dan bantu kita. Karena kita jualan saja selalu rugi enggak untung karena harga kedelai tinggi," kata Usman. (f.w.bahtiar/rakhmatulloh/michelle natalia)
(poe)
Lihat Juga :