Naiknya Permintaan Daging Ayam, Beri Angin Segar ke Emiten Perunggasan
Kamis, 14 Januari 2021 - 22:11 WIB
loading...
Foto Ilustrasi/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Menguatnya permintaan atau demand daging ayam beserta turunannya menjadi angin segar bagi emiten yang ada di sektor perunggasan atau poultry. Pandemi Covid-19, tidak menyurutkan permintaan atas konsumsi daging ayam, telur, maupun produk olahannya . Bahkan harga ayam broiler di tahun ini saja diproyeksikan akan mengalami kenaikan.
Kepala Riset Praus Kapital, Alfred Nainggolan, mengatakan prospek industri perunggasan masih cukup bagus mengacu pada demand. Kebutuhan daging ayam dan semua yang terkait di sektor unggas masih cukup kuat, bahkan pertumbuhan pendapatan emiten-emiten di sektor unggas pada tahun ini juga masih mencatatkan penguatan. Hanya saja yang menjadi masalah ada di laba bersih yang terpantau turun cukup signifikan dikarenakan depresiasi nilai tukar rupiah. Sebab, penyediaan bahan baku pakan ternak berasal dari impor sehingga menggerus perolehan laba bersih.
Baca Juga : Pendapatan Perusahaan Seret, Pefindo Awasi Emiten yang Keuangannya Rawan
“Kita lihat ekonomi juga cukup bagus ke depannya dan bila faktor kurs rupiah tidak jadi masalah lagi, maka akan mendorong signifikan untuk pemulihan bottom line sektor poultry,” kata Alfred di Jakarta, Kamis (14/1/2021).
Untuk itu, Alfred menegaskan bahwa demand di sektor unggas masih cukup bagus ke depannya, bahkan jika ditarik ke tahun 2020 ketika terjadi perlambatan ekonomi, namun dari sisi permintaan dan pendapatan penurunannya tidak cukup signifikan dan hanya di laba bersih saja. Apalagi isu pemulihan (recovery) pertumbuhan ekonomi yang kuat di tahun 2021, maka dari sisi pendapatan diyakini masih akan tumbuh.
Kepala Riset Praus Kapital, Alfred Nainggolan, mengatakan prospek industri perunggasan masih cukup bagus mengacu pada demand. Kebutuhan daging ayam dan semua yang terkait di sektor unggas masih cukup kuat, bahkan pertumbuhan pendapatan emiten-emiten di sektor unggas pada tahun ini juga masih mencatatkan penguatan. Hanya saja yang menjadi masalah ada di laba bersih yang terpantau turun cukup signifikan dikarenakan depresiasi nilai tukar rupiah. Sebab, penyediaan bahan baku pakan ternak berasal dari impor sehingga menggerus perolehan laba bersih.
Baca Juga : Pendapatan Perusahaan Seret, Pefindo Awasi Emiten yang Keuangannya Rawan
“Kita lihat ekonomi juga cukup bagus ke depannya dan bila faktor kurs rupiah tidak jadi masalah lagi, maka akan mendorong signifikan untuk pemulihan bottom line sektor poultry,” kata Alfred di Jakarta, Kamis (14/1/2021).
Untuk itu, Alfred menegaskan bahwa demand di sektor unggas masih cukup bagus ke depannya, bahkan jika ditarik ke tahun 2020 ketika terjadi perlambatan ekonomi, namun dari sisi permintaan dan pendapatan penurunannya tidak cukup signifikan dan hanya di laba bersih saja. Apalagi isu pemulihan (recovery) pertumbuhan ekonomi yang kuat di tahun 2021, maka dari sisi pendapatan diyakini masih akan tumbuh.
Lihat Juga :