Di Tengah Ekonomi Lesu, BUMN Malah Rame-Rame Cari Utangan
Jum'at, 15 Mei 2020 - 14:41 WIB
loading...
A
A
A
Rata-rata kebutuhan investasi PLN mencapai Rp 100 triliun per tahun. Oleh karena itu, kebutuhan investasi perusahaan hingga 2024 diperkirakan mencapai sekitar Rp 400 triliun. Tahun ini saja, kata Zulkifli, perseroan menganggarkan dana investasi sebesar Rp 90 triliun.
Dana itu bakal dialokasikan untuk belanja modal pembangunan infrastruktur transmisi distribusi serta sejumlah pembangkit listrik. " Jadi kami memang cari alternatif untuk pembiayaan investasi PLN," ujarnya. Sebagai perbandingan tahun lalu, PLN juga menganggarkan belanja modal sebesar Rp 90 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan transmisi, gardu induk, dan pembangkit listrik.
Toto Pranoto, Associate Director BUMN Research Group (BRG) mengatakan, obligasi yang diterbitkan BUMN akhir-akhir ini memiliki banyak tujuan. Tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan BUMN. Seperti misalnya untuk memperkuat strukrur modal seperti yang terjadi di Bank Mandiri dan BNI) .
Untuk Inalum dan Hutama Karya beda lagi tujuannya, yakni memperkuat modal kerja. Menyoroti keberhasilan Inalum yang mampu meraup dana US$2,5 miliar dari menerbitkan obligasi, Toto mengatakan, sekitar US$ 1 miliar akan digunakan untuk menutup hutang jatuh tempo perusahaan. Sisanya digunakan untuk investasi dan modal kerja. Seperti menyelesaikan proyek smelter di Mempawah . “Tenor obligasi yang panjang , 10 tahun dan 30 tahun akan sangat membantu arus cash flow perusahaan saat pembayarannya nanti,”ujar Toto kepada SINDOnews .
BUMN memang harus menerbitkan global bonds jika ingin mendapatkan pendaan yang besar. Sebab, pasar di dalam negeri tak akan mampu memberikan dana se besar itu. Toto pun mengingatkan kepada BUMN yang akan menerbitkan obligasi, apalagi global bonds, harus benar-benar bisa menjaga kriteria kesehatan keuangan perusahaan. Misalnya saja, ratio debt to equity mesti ada dalam batas yang relatif aman.
Tak kalah pentingnya adalah soal pengawasan. Toto berharap, publik harus mengawasi dengan ketat BUMN yang menerbitkan surat hutang dalam jumlah besar. Tujuanya agar dana dari hutang itu memang digunakan untuk alokasi yang tepat.
Dana itu bakal dialokasikan untuk belanja modal pembangunan infrastruktur transmisi distribusi serta sejumlah pembangkit listrik. " Jadi kami memang cari alternatif untuk pembiayaan investasi PLN," ujarnya. Sebagai perbandingan tahun lalu, PLN juga menganggarkan belanja modal sebesar Rp 90 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan transmisi, gardu induk, dan pembangkit listrik.
Toto Pranoto, Associate Director BUMN Research Group (BRG) mengatakan, obligasi yang diterbitkan BUMN akhir-akhir ini memiliki banyak tujuan. Tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan BUMN. Seperti misalnya untuk memperkuat strukrur modal seperti yang terjadi di Bank Mandiri dan BNI) .
Untuk Inalum dan Hutama Karya beda lagi tujuannya, yakni memperkuat modal kerja. Menyoroti keberhasilan Inalum yang mampu meraup dana US$2,5 miliar dari menerbitkan obligasi, Toto mengatakan, sekitar US$ 1 miliar akan digunakan untuk menutup hutang jatuh tempo perusahaan. Sisanya digunakan untuk investasi dan modal kerja. Seperti menyelesaikan proyek smelter di Mempawah . “Tenor obligasi yang panjang , 10 tahun dan 30 tahun akan sangat membantu arus cash flow perusahaan saat pembayarannya nanti,”ujar Toto kepada SINDOnews .
BUMN memang harus menerbitkan global bonds jika ingin mendapatkan pendaan yang besar. Sebab, pasar di dalam negeri tak akan mampu memberikan dana se besar itu. Toto pun mengingatkan kepada BUMN yang akan menerbitkan obligasi, apalagi global bonds, harus benar-benar bisa menjaga kriteria kesehatan keuangan perusahaan. Misalnya saja, ratio debt to equity mesti ada dalam batas yang relatif aman.
Tak kalah pentingnya adalah soal pengawasan. Toto berharap, publik harus mengawasi dengan ketat BUMN yang menerbitkan surat hutang dalam jumlah besar. Tujuanya agar dana dari hutang itu memang digunakan untuk alokasi yang tepat.
(eko)
Lihat Juga :