Perdagangan Cetak Surplus, Tapi Mendag Luthfi Sebut Sangat Mengkhawatirkan
Selasa, 26 Januari 2021 - 13:49 WIB
loading...
A
A
A
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada tahun 2020 Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan hingga USD21,74 miliar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, nilai perdagangan sepanjang tahun 2020 tersebut merupakan yang tertinggi dalam sembilan tahun terakhir. Sebab pada tahun 2011 lalu, nilai neraca perdagangan sepanjang tahun mengalami surplus hingga USD26,06 miliar.
Surplus neraca perdagangan terjadi lantaran nilai ekspor Indonesia yang lebih besar dibandingkan dengan nilai impor. BPS juga mencatat, selama tahun 2020 nilai ekspor Indonesia mencapai USD163,3 miliar.
Baca Juga: Pedes! Ekonom Ini Sebut Surplus Neraca Perdagangan Cuma Beruntung
Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, total nilai ekspor tersebut mengalami kontraksi 2,61%. Sementara untuk total impor selama 2020 mencapai USD141,5 miliar. Jumlah tersebut mengalami kontraksi 17,34% bila dibandingkan dengan tahun 2019 lalu.
"Sehingga selama 2020 nilai neraca perdagangan surplus 21,74 miliar dollar AS. Total nilai ekspor 2020 itu negatif 2,61 persen tapi impor kontraksinya jauh lebih dalam, 17,34 persen," ujar Suhariyanto.
Secara rinci, ekspor secara tahunan untuk migas turun 29,52%, pertanian naik 13,98%, industri pengolahan naik 2,95%, dan pertambangan turun 20,7%. Sedangkan impor bila dilihat berdasarkan penggunaan barang terdiri atas impor barang konsumsi yang turun 10,93%, bahan baku penolong minus 18,32%, dan barang modal melorot 16,73%.
Surplus neraca perdagangan terjadi lantaran nilai ekspor Indonesia yang lebih besar dibandingkan dengan nilai impor. BPS juga mencatat, selama tahun 2020 nilai ekspor Indonesia mencapai USD163,3 miliar.
Baca Juga: Pedes! Ekonom Ini Sebut Surplus Neraca Perdagangan Cuma Beruntung
Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, total nilai ekspor tersebut mengalami kontraksi 2,61%. Sementara untuk total impor selama 2020 mencapai USD141,5 miliar. Jumlah tersebut mengalami kontraksi 17,34% bila dibandingkan dengan tahun 2019 lalu.
"Sehingga selama 2020 nilai neraca perdagangan surplus 21,74 miliar dollar AS. Total nilai ekspor 2020 itu negatif 2,61 persen tapi impor kontraksinya jauh lebih dalam, 17,34 persen," ujar Suhariyanto.
Secara rinci, ekspor secara tahunan untuk migas turun 29,52%, pertanian naik 13,98%, industri pengolahan naik 2,95%, dan pertambangan turun 20,7%. Sedangkan impor bila dilihat berdasarkan penggunaan barang terdiri atas impor barang konsumsi yang turun 10,93%, bahan baku penolong minus 18,32%, dan barang modal melorot 16,73%.
(akr)
Lihat Juga :