Gurita Bisnis Keluarga
Sabtu, 06 Februari 2021 - 17:23 WIB
loading...
A
A
A
Terkait sistem pengendalian, Temy menjelaskan siapa pun yang memimpin atau melanjutkan perusahaan, tinggal menjalankan sistem yang sudah terbangun hingga puluhan tahun. Namun, bukan berarti sistem tersebut tidak berubah, melainkan bisa dinamis mengikuti perkembangan zaman.
“Tidak begitu saja. Jadi, perlu dinamis juga karena sistem ini dimulai dari visi perusahaan, strategi yang diambil, bagaimana sistem itu mengendalikan karyawan dan hasil yang diharapkan. Begitu juga culture (budaya) yang dibuat dari generasi pertama dan diturunkan temurun ke generasi berikutnya,” jelasnya. Baca juga: Australia Buat Mobil Balap Terbang Pertama di Dunia
Ketika sistem berjalan, produk dan jasa juga harus relevan dengan kebutuhan konsumen. Temy melihat Kodak sukses dan terkenal dengan produk kameranya hingga dikenal sampai era 90-an. Setelah era 2000-an hingga 2010, kamera film tersebut sudah mulai ditinggalkan hingga akhirnya perusahaan menjadi bangkrut.
“Artinya, produk dan jasa yang diberikan harus adaptif, bisa menyelaraskan dengan konsumen. Indomie misalnya, sudah ada produk Mieghetti seperti spaghetti ala makanan Barat. Bahkan, produk mienya sudah mendunia. Artinya, research and development (RnD) mereka berjalan,” terang konsultan bisnis di beberapa perusahaan itu.
Di sisi lain, dosen Universitas Bunda Mulia itu menekankan kegagalan sebuah perusahaan ditengarai karena tidak ada keinginan atau pemikiran inovasi untuk berubah. Mereka kerap mempertahankan filosofi seperti masa lalu ketika usaha tersebut mulai dibentuk.
“Perkembangan itu harus bisa diadaptasi. Misalnya, pendirinya itu membangun bisnis ketika usia 25 tahun. Lalu, dia menyerahkan bisnis saat anaknya di usia 25 tahun. Artinya sudah 50 tahun. Masih mau pakai filosofi yang sama? Makanya, adaptif itu dimulai dari pola pikir antargenerasi, apakah mau beradaptasi mengikuti perkembangan budaya, peradaban manusia, dan perkembangan teknologi, serta memiliki keyakinan atau trust bahwa kemajuan itu menuju pada hal yang positif,” ujarnya.
“Tidak begitu saja. Jadi, perlu dinamis juga karena sistem ini dimulai dari visi perusahaan, strategi yang diambil, bagaimana sistem itu mengendalikan karyawan dan hasil yang diharapkan. Begitu juga culture (budaya) yang dibuat dari generasi pertama dan diturunkan temurun ke generasi berikutnya,” jelasnya. Baca juga: Australia Buat Mobil Balap Terbang Pertama di Dunia
Ketika sistem berjalan, produk dan jasa juga harus relevan dengan kebutuhan konsumen. Temy melihat Kodak sukses dan terkenal dengan produk kameranya hingga dikenal sampai era 90-an. Setelah era 2000-an hingga 2010, kamera film tersebut sudah mulai ditinggalkan hingga akhirnya perusahaan menjadi bangkrut.
“Artinya, produk dan jasa yang diberikan harus adaptif, bisa menyelaraskan dengan konsumen. Indomie misalnya, sudah ada produk Mieghetti seperti spaghetti ala makanan Barat. Bahkan, produk mienya sudah mendunia. Artinya, research and development (RnD) mereka berjalan,” terang konsultan bisnis di beberapa perusahaan itu.
Di sisi lain, dosen Universitas Bunda Mulia itu menekankan kegagalan sebuah perusahaan ditengarai karena tidak ada keinginan atau pemikiran inovasi untuk berubah. Mereka kerap mempertahankan filosofi seperti masa lalu ketika usaha tersebut mulai dibentuk.
“Perkembangan itu harus bisa diadaptasi. Misalnya, pendirinya itu membangun bisnis ketika usia 25 tahun. Lalu, dia menyerahkan bisnis saat anaknya di usia 25 tahun. Artinya sudah 50 tahun. Masih mau pakai filosofi yang sama? Makanya, adaptif itu dimulai dari pola pikir antargenerasi, apakah mau beradaptasi mengikuti perkembangan budaya, peradaban manusia, dan perkembangan teknologi, serta memiliki keyakinan atau trust bahwa kemajuan itu menuju pada hal yang positif,” ujarnya.
Lihat Juga :