Duh! Ribuan Restoran Bangkrut, Tutup Forever
Rabu, 10 Februari 2021 - 13:40 WIB
loading...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta Sutrisno Iwantono mengatakan, pandemi Covid-19 menyulitkan industri hotel dan restoran di Jakarta. Akibat pandemi yang kemudian diikuti dengan adanya PSBB dan PPKM ini menyebabkan mobilitas orang semakin berkurang.
"Tentu itu semua dampaknya adalah penurunan dari tamu. Apalagi khusus restoran, sebelumnya terakhir ini kan hanya boleh buka sampai jam 07.00 malam itu pun hanya 25% dari kapasitas. Ini tentu sangat menyulitkan kan terutama bagi restoran," katanyaMarket Review IDX Channel,Rabu (10/2/2021).
Baca Juga: Duh! Kos-kosan di Jogja Bangkrut, Ribuan Dijual Online
Menurut Iwan, tutupnya 1000 restoran secara permanen ini merupakan konsekuensi logis dari pandemi Covid-19 dan juga dampak dari berbagai macam pembatasan aktivitas yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Terutama restoran dan hotel di berbagai daerah tujuan wisata seperti Bali dan Jogja termasuk juga DKI Jakarta.
“Karena turis asing tidak ada yang datang ke Indonesia, sejak Januari lalu sudah ditutup untuk WNA yang masuk. Sementara harapannya tentu berasal turis domestik. Tapi turis domestik ini kan tidak mudah juga karena yang bisa menjadi turis itu orang yang punya uang, sementara kelompok-kelompok ini kan sangat memahami risiko dari penyakit itu,” ujarnya.
"Tentu itu semua dampaknya adalah penurunan dari tamu. Apalagi khusus restoran, sebelumnya terakhir ini kan hanya boleh buka sampai jam 07.00 malam itu pun hanya 25% dari kapasitas. Ini tentu sangat menyulitkan kan terutama bagi restoran," katanyaMarket Review IDX Channel,Rabu (10/2/2021).
Baca Juga: Duh! Kos-kosan di Jogja Bangkrut, Ribuan Dijual Online
Menurut Iwan, tutupnya 1000 restoran secara permanen ini merupakan konsekuensi logis dari pandemi Covid-19 dan juga dampak dari berbagai macam pembatasan aktivitas yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Terutama restoran dan hotel di berbagai daerah tujuan wisata seperti Bali dan Jogja termasuk juga DKI Jakarta.
“Karena turis asing tidak ada yang datang ke Indonesia, sejak Januari lalu sudah ditutup untuk WNA yang masuk. Sementara harapannya tentu berasal turis domestik. Tapi turis domestik ini kan tidak mudah juga karena yang bisa menjadi turis itu orang yang punya uang, sementara kelompok-kelompok ini kan sangat memahami risiko dari penyakit itu,” ujarnya.
Lihat Juga :