Proyek Infrastruktur Jalan Terus dengan Terobosan Pembiayaan
Selasa, 16 Februari 2021 - 06:04 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, Hutama Karya juga sedang menggarap Tol Simpang Indralaya–Muara Enim (119 Km) dengan progres konstruksi 22%, serta Tol Binjai–Langsa seksi Binjai–Pangkalan Brandan (58 Km) dengan progres konstruksi 27%.
“Ada juga Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat (143 km) dengan progres konstruksi 59% dan Tol Kisaran – Indrapura (48 Km) dengan progres konstruksi 17%;” kata EVP of Corporate Secretary PT Hutama Karya (Persero) Muhammad Fauzan kemarin.
Dalam membangun dan mengerjakan JTSS, kata Fauzan, Hutama Karya berpatokan pada skema yang ada. Sehingga proses pembangunan tidak terkendala dalam bidang pembiayaan.
"Kami melaksanakan pembangunan konstruksi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sesuai dengan PMN (penyertaan modal negara) yang telah diberikan oleh Pemerintah sehingga tidak ada kendala terutama dalam pembiayaan,” ungkapnya.
Bahkan, kata Fauzan, pihaknya mendapat dukungan dan bantuan dari pemerintah dalam pengerjaan JTSS. Sehingga untuk likuiditas Hutama Karya (persero) masih dapat ditanggulangi dan belum pada level memprihatinkan.
“Likuiditas kami terjaga pada level yang manageable. Dalam pembangunan proyek JTTS, kami mendapat dukungan dari pemerintah dengan penambahan PMN sebesar Rp11 triliun pada 2020 serta construction support,” tambahnya.
Selain mendapat bantuan dari pemerintah, pihaknya juga melakukan berbagai upaya alternatif pendanaan melalui creative financing untuk menjaga likuiditas. Misalnya pendanaan perbankan nasional maupun multinasional hingga penerbitan obligasi.
“Dengan kondisi saat ini, perusahaan berharap Pemerintah dapat terus mendukung kebutuhan pendanaan tersebut sehingga Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dapat rampung sesuai dengan target yang telah ditentukan,” pungkasnya.
Pengamat bisnis dari Universitas Indonesia (UI) Deni Denial Kesa menilai kinerja perusahaan BUMN di masa pandemi mengalami tekanan. Imbasnya, sejumlah perusahaan ada yang melakukan restrukturisasi dan efisiensi.
“Mau tidak mau mereka melakukan restrukturisasi utang serta efisiensi belanja modal,” katanya kepada KORAN SINDO kemarin.
Kendati dengan kondisi terbebani pademi, namun Deni optimistis BUMN masih bisa bangkit kendati akan memerlukan waktu. Untuk membantu BUMN dalam menghadapi penugasan di tengah keterbatasan sumber daya, pemerintah diimbau untuk lebih berbenah. Misalnya, dengan memfasilitasi restrukturisasi dalam skala besar sebagaian pinjaman.
“Pemerintah juga harus bisa melalukan proses pengawasan dan audit berkelanjutan yang tepat sasaran. Langkah Menteri BUMN Erick Tohir dalam mengelola Krakatau Steel dan merestrukturisasi hutang perlu dicontoh meski belum memperlihatkan produktifitas secara maksimal tapi paling tidak kemampuan membayar utangnya meningkat secara signifikan,” ucapnya.
“Ada juga Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat (143 km) dengan progres konstruksi 59% dan Tol Kisaran – Indrapura (48 Km) dengan progres konstruksi 17%;” kata EVP of Corporate Secretary PT Hutama Karya (Persero) Muhammad Fauzan kemarin.
Dalam membangun dan mengerjakan JTSS, kata Fauzan, Hutama Karya berpatokan pada skema yang ada. Sehingga proses pembangunan tidak terkendala dalam bidang pembiayaan.
"Kami melaksanakan pembangunan konstruksi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sesuai dengan PMN (penyertaan modal negara) yang telah diberikan oleh Pemerintah sehingga tidak ada kendala terutama dalam pembiayaan,” ungkapnya.
Bahkan, kata Fauzan, pihaknya mendapat dukungan dan bantuan dari pemerintah dalam pengerjaan JTSS. Sehingga untuk likuiditas Hutama Karya (persero) masih dapat ditanggulangi dan belum pada level memprihatinkan.
“Likuiditas kami terjaga pada level yang manageable. Dalam pembangunan proyek JTTS, kami mendapat dukungan dari pemerintah dengan penambahan PMN sebesar Rp11 triliun pada 2020 serta construction support,” tambahnya.
Selain mendapat bantuan dari pemerintah, pihaknya juga melakukan berbagai upaya alternatif pendanaan melalui creative financing untuk menjaga likuiditas. Misalnya pendanaan perbankan nasional maupun multinasional hingga penerbitan obligasi.
“Dengan kondisi saat ini, perusahaan berharap Pemerintah dapat terus mendukung kebutuhan pendanaan tersebut sehingga Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dapat rampung sesuai dengan target yang telah ditentukan,” pungkasnya.
Pengamat bisnis dari Universitas Indonesia (UI) Deni Denial Kesa menilai kinerja perusahaan BUMN di masa pandemi mengalami tekanan. Imbasnya, sejumlah perusahaan ada yang melakukan restrukturisasi dan efisiensi.
“Mau tidak mau mereka melakukan restrukturisasi utang serta efisiensi belanja modal,” katanya kepada KORAN SINDO kemarin.
Kendati dengan kondisi terbebani pademi, namun Deni optimistis BUMN masih bisa bangkit kendati akan memerlukan waktu. Untuk membantu BUMN dalam menghadapi penugasan di tengah keterbatasan sumber daya, pemerintah diimbau untuk lebih berbenah. Misalnya, dengan memfasilitasi restrukturisasi dalam skala besar sebagaian pinjaman.
“Pemerintah juga harus bisa melalukan proses pengawasan dan audit berkelanjutan yang tepat sasaran. Langkah Menteri BUMN Erick Tohir dalam mengelola Krakatau Steel dan merestrukturisasi hutang perlu dicontoh meski belum memperlihatkan produktifitas secara maksimal tapi paling tidak kemampuan membayar utangnya meningkat secara signifikan,” ucapnya.
(ynt)
Lihat Juga :