Investor Pemula Perlu Memperkuat Literasi

loading...
Investor Pemula Perlu Memperkuat Literasi
Melesatnya harga saham beberapa perusahaan di pasar perlu disikapi secara bijak oleh investor pemula. Foto/Dok.
JAKARTA - Pasar modal nasional terus menunjukkan pertumbuhan positif. Jumlah investor pun meningkat pesat terutama investor pemula dari kalangan milenial. Namun demikian, maraknya investor pemula di pasar modal perlu diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan dan pasar modal . Gelembung (bubble) pasar saham nampak ketika terjadi lonjakan harga saham bahkan melebihi kondisi fundamental perusahaan. Gelembung ini akan terus berlangsung, harga saham terus naik, hingga pada suatu saat diakhiri dengan 'meletusnya' gelembung itu.

(Baca Juga : Setuju Saham Bir Dicabut, PKS: Miras Sumber Kejahatan )

Perencana Keuangan Andreas Fredy Piellor mengungkapkan, kalangan milenial maupun investor pemula harus bijak dalam menyikapi fenomena yang terjadi saat ini. "Sebaiknya belajar dulu dan jangan terlalu agresif menempatkan dana di instrumen saham,"ujarnya kepada Koran SINDO di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Dia mengungkapkan, idealnya seorang investor pemula menempatkan 80% dana investasinya di saham-saham bluechip.

Sedangkan sisanya bisa digunakan untuk melakukan trading. "Cukup berisiko jika semuanya digunakan sebagai instrumen trading. Apalagi jika tidak tahu kondisi pasar secara keseluruhan,''katanya. Menurut dia, euforia yang terjadi di pasar saham saat ini harus disikapi dengan bijak. Para investor pemula, kata dia, harus meningkatkan literasi agar tidak menderita kerugian. Andreas juga menyarankan agar para stakeholder termasuk perusahaan sekuritas agar terbuka kepada nasabahnya dan memberikan edukasi cara bijak berinvestasi.



(Baca Juga : Hati-Hati Fenomena Pom-Pom Saham dan FOMO di Kalangan Investor Pemula )

''Keterbukaan itu penting,''katanya. Kasus-kasus yang terjadi di pasar modal, kata Andreas, meskipun tak berpengaruh terhadap aktivitas investasi individu, namun bisa dipetik pelajaran dari masalah tersebut. "Misalnya kasus sedang ramai menyangkut Jiwasraya, Jamsostek atau lainnya,''tuturnya. Kolaborasi para pemangku kepentingan dinilai penting agar kasus pengelolaan dana investasi tidak merugikan masyarakat secara langsung. Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) menilai tren melonjaknya laporan transaksi keuangan mencurigakan (LTKM) di pasar modal perlu diwaspadai. Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang belum lama ini dirilis menunjukkan sampai Desember 2020 lalu, transaksi mencurigakan di pasar modal menembus angka 443 kasus.

ASPEK Indonesia juga menduga ada pihak dengan latar belakang yang sama, antara lain oknum perusahaan efek/sekuritas dan oknum manajer investasi yang terlibat dalam serangkain kasus di pasar modali. "Kami mendukung Kejaksaan Agung untuk serius dan transparan dalam membongkar tuntas kasus yang merugikan masyarakat, khususnya para pekerja di Indonesia," tegas Presiden ASPEK Mirah Sumirat di Jakarta, belum lama ini. Dalam beberapa kasus, Kejaksaan Agung (Kejagung) telah memeriksa beberapa pihak.

(Baca Juga : Kasus Rp20 Triliun di BPJS Ketenagakerjaan Diduga Melibatkan Mafia Pasar Modal )

Di kasus BP Jamsostek misalnya, Kejagung telah memeriksa Presdir Mirae Aset Sekuritas Tae Yong Shim, warga negara Korea sebagai saksi. Juga Irwanti, Direktur Schroder Investment Management. Isna dari PT Samuel Asset Management, dan Direktur UOB Kay Hian Sekuritas, Yacinta. ASPEK Indonesia menilai, pemerintah melalui Kejaksaan Agung, Badan Pemeriksa Keuangan, PPATK, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta menjalankan kewenangannya secara maksimal agar kejahatan yang terorganisasi di pasar modal ini tidak lagi terjadi.

Sementara itu, Praktisi Investasi Frisca Devi Choirina mengatakan di pasar modal jauh dari modus penipuan. Sebab semua investor mengeksekusi secara mandiri investasinya. Namun, sering terlihat ada saham ''gorengan'' yang nampak seperti memberi janji menguntungkan namun belum tentu sesuai ekspektasi. Dia menjelaskan, saham “gorengan” umumnya saham berasal dari perusahaan atau emiten yang kapitalisasi pasarnya kecil, kinerjanya pun cenderung negatif.



"Memang lebih mudah dilihat dari kapitalisasi pasar, semakin kecil semakin mudah untuk 'digoreng' oleh market maker atau yang kerap disebut bandar," ungkapnya. Market maker itu biasanya orang atau sekumpulan orang yang bermodal besar. Sebab jika bukan investor dengan dana besar tidak mungkin dapat menaikan atau menurunkan saham dalam waktu singkat secara drastis. Berbeda dengan saham biasa yang tergantung permintaan dan penawaran pasar. Frisca yang kerap memberikan edukasi mengenai saham di komunitas @ngertisaham dan @investorsahampemula juga turut memberikan edukasi mengenai fenomena saham gorengan ini.

"Pastinya saya selalu memberi informasi agar mereka paham mana sebaiknya emiten yang dipilih karena kami membeberkan risiko yang ada karena tidak semua saham perusahaan di bursa layak dan bagus untuk dibeli," tutur Frisca. Dia menambahkan, pihaknya tetap menyarankan untuk memilih saham yang sehat saja kinerjanya. “Investor tentunya ingin menaruh dana di perusahaan yang benar tidak mungkin ingin di perusahaan yang bobrok," sebutnya. (anton c/ananda nararya)
(ton)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top