Nasib Para Penyandang Disabilitas pada Era Ekonomi Digital

loading...
Nasib Para Penyandang Disabilitas pada Era Ekonomi Digital
Fajar Shiddiq, pemuda asal Bandung, menjadi mitra pengemudi salah satu transportasi online, dan diterima sebagai teman tuli pertama yang menjadi mitra pengemudi GrabCar di Bandung.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Begitulah bunyi sila kelima Pancasila. Namun, benarkah ini juga berlaku bagi para penyandang disabilitas?

Kita tahu bahwa semua orang berhak mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, termasuk orang dengan keterbatasan fisik atau penyandang disabilitas. Di tengah ekonomi digital yang kian berkembang, belum banyak teknologi yang bersifat inklusif, yang bisa melibatkan para penyandang disabilitas di dalam prosesnya.

Padahal, penyandang disabilitas, menurut data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2019, telah mencapai 8,56 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 21,84 juta jiwa. Di samping itu, tidak banyak juga perusahaan yang bisa menerima pegawai penyandang disabilitas. Namun dibalik itu semua, ada beberapa kisah inspiratif dari para penyandang disabilitas yang terus mau berjuang di tengah keterbatasan yang mereka miliki.

Salah satunya adalah Fajar Shiddiq, pemuda asal Bandung yang mengaku kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal, meski tidak bisa mendengar, Fajar tahu dia masih memiliki kemampuan agar hidupnya mandiri. Oleh karena itu, dia selalu mencari cara untuk menghidupi diri sendiri dan membantu perekonomian orang tuanya.

Berbekal keahlian mengemudi, ia memberanikan diri untuk melamar menjadi mitra pengemudi salah satu transportasi online, dan diterima sebagai teman tuli pertama yang menjadi mitra pengemudi GrabCar di Bandung.
Nasib Para Penyandang Disabilitas pada Era Ekonomi Digital

“Awalnya saya sudah mencari kerja ke banyak tempat, tapi selalu ditolak. Saya bingung. Kemudian, waktu itu, saya dapat info dari Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) soal kesempatan kerja di Grab. Mereka tahu kemampuan menyetir saya sangat baik, dan bisa berkendara dengan aman,” ujarnya dengan menggunakan bahasa isyarat.



Fajar bersyukur bahwa sebagai penyandang disabilitas seperti dirinya diberikan kesempatan bekerja menjadi mitra pengemudi. Setelah bekerja sebagai mitra GrabCar, ia mengaku mengalami perubahan, terutama keberanian untuk berkomunikasi.

“Dulu, waktu saya belum kerja, kadang-kadang saya merasa kurang percaya diri. Kalau bertemu orang juga khawatir salah ngomong, takut salah paham. Tapi, setelah jadi mitra pengemudi, saya jadi berpikir, tidak apa-apa, meskipun saya tuli, saya tetap harus berani untuk berkomunikasi. Apalagi saya punya tanggung jawab agar customer selamat sampai tujuan, jadi saya harus berani,” tutur lelaki yang senang berolahraga ini.

Kini, ia sedang berupaya mewujudkan salah satu mimpinya, yakni membuat Kopi Tuli. Nantinya, selain menjadi tempat ngopi, tempat tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar bahasa isyarat.

Bekerja menjadi mitra pengemudi GrabCar membawa Fajar ke berbagai pengalaman menarik. Tidak sedikit yang terkejut ketika bertemu dengannya, banyak juga yang membuat dia terkejut atas sikap para penumpangnya.

“Dulu ada customer. Dia sadar bahwa saya tuli. Jadi, selama perjalanan, dia hanya diam. Akhirnya saya coba komunikasi. Customer-nya kaget. Akhirnya kami komunikasi, tapi saya minta komunikasinya pelan-pelan. Setelah sampai di tujuan, dia bilang terima kasih menggunakan bahasa isyarat. Saya kaget. ‘Kok bisa?’ tanya saya, dia bilang, ‘Kan saya melihat posternya’,” tuturnya sembari tersenyum.



Hal itu membuat Fajar terharu dan senang karena penumpangnya berusaha mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengannya. Dia pun berharap semakin banyak orang yang mau mempelajari bahasa isyarat.
Nasib Para Penyandang Disabilitas pada Era Ekonomi Digital

Bantu Teman Tuli Kejar dan Wujudkan Impian
Selain Fajar, ada teman tuli lain yang kini bisa produktif dan mengejar mimpi, yaitu Bonar Bangun Simanjuntak. Dia merupakan teman tuli pertama yang jadi mitra pengemudi GrabBike di Indonesia, sejak April 2017.

Bonar penuh semangat dan menolak dibatasi keterbatasan fisik yang dimilikinya. Dia mendobrak persepsi bahwa teman tuli berbeda dengan mereka yang tidak tuli. Salah satu buktinya ia tak punya kendala menjadi mitra pengemudi yang produktif dan terus berkarya.

“Saya tidak merasa minder. Saya berani. Saya merasa percaya diri dan merasa kuat juga,” ujar lelaki 30 tahun itu menggunakan bahasa isyarat.

Bonar bekerja mulai pukul 04.00 hingga 10.00 malam. Hal itu dilakukannya setiap hari. Tapi menurutnya keluarganya pun senang karena dia diberikan kesempatan untuk menafkahi mereka. Dia ingin bisa terus membiayai pendidikan putrinya yang kini berusia lima tahun hingga jenjang paling tinggi.

Maka, dia bertekad untuk menabung dan mengasuransikan hasil jerih payahnya sejak dini. “Hasil kerja ini untuk keluarga, menabung, asuransi untuk masa depan anak saya. Saya ingin anak saya kuliah. Jadi, saya menabung dari sekarang,” katanya.

Sebagai teman tuli, Bonar tidak pernah merasa berbeda dengan mitra GrabBike lainnya. “Saya juga merasa harus giat bekerja, saya harus bisa mandiri, jadi saya narik terus.” ujarnya.

Tapi banyak juga yang memujinya. Dia pun menjadi inspirasi banyak orang di sekitarnya. Setiap pulang bekerja, Bonar menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan keluarga.

Dia bercerita, sebelum bergabung sebagai mitra pengemudi GrabBike dia pernah ditolak empat kali waktu melamar di empat tempat berbeda. Lalu dia melamar untuk menjadi mitra pengemudi transportasi online, dan bikin foto dengan tulisan di kertas. “Saya minta agar bisa bekerja di Grab.
"Akhirnya foto saya viral, tahun 2017 kalau tidak salah. Saya juga kaget. Orang-orang banyak berkomentar. Akhirnya, Bos Grab dari Jakarta telepon saya. Dia bilang, ‘Ayo kamu lamar, Insyaallah kamu diterima.’ Ketika buka WhatsApp, Alhamdulillah saya diterima, seneng banget. Akhirnya saya diterima,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, teman tuli lainnya pun mengikuti jejak Bonar. Mereka mendapatkan kesempatan yang sama menjadi mitra GrabBike. Menurutnya, ada lebih dari puluhan teman tuli yang sudah menjadi mitra GrabBike di Bandung. Tidak jarang mereka berkumpul dan saling mentraktir.

Dia senang karena semakin banyak teman tuli yang mendapatkan kesempatan kerja di Grab. Sebagai teman tuli, dia merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan pelanggan. Dia sudah terbiasa menggunakan fitur berkirim pesan untuk memberitahukan bahwa dirinya tuli sejak awal.

“Biasanya customer pada ramah ke saya ketika tahu saya tuli. Kerja di Grab juga mudah. Ketika sudah sampai di tempat menjemput, saya chat customer, terus saya konfirmasi. Setelah itu saya kasih helm dan jalan seperti biasa. Kalau mau jalan pintas, mereka bisa tepuk pundak saya, misalnya kalau mau ke kanan tepuk pundak kanan dan sebaliknya,” ujarnya.

Meski dihadapkan dengan berbagai kendala dan kekurangan, Bonar selalu menganggap hal itu mudah dan bisa diatasi. Dia tidak pernah memanfaatkan kekurangannya untuk lebih menonjol dibandingkan dengan yang lain.

Selain itu, Bonar mengaku selalu menghormati penumpang dan mengutamakan keselamatan selama berkendara, karena dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan penumpang. Sejauh itu pula, dia merasa senang bekerja sebagai mitra layanan roda dua tersebut.
Dia pun berharap semakin banyak orang yang belajar tentang tuli.

“Sehingga tahu tuli itu seperti apa. Jadi semuanya saling mengetahui dan bekerja sama. Saya juga ingin bilang kepada orang-orang, kita harus tahu bahwa tuli dan dengar itu sama-sama berjuang, bekerja.”

Setelah bekerja sebagai mitra dari Grab, Bonar mengaku senang karena kebutuhan dia dan keluarga terpenuhi. Selain itu, dia mengaku karena orang sepertinya tidak dibedakan dengan orang-orang normal.

Soal rencana ke depan, Bonar mengaku akan tetap bekerja sebagai mitra GrabBike. “Saya masih akan tetap bekerja di Grab, lagian saya sudah 3 tahun,” ujarnya sambil tertawa.

Mendobrak Sunyi
Untuk memastikan platform Grab lebih inklusif dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, Grab telah bekerja sama dengan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) pada September 2019 lalu, dengan menawarkan kesempatan bagi teman tuli menjadi mitra pengemudi Grab.

Grab ingin memberikan kesempatan bagi teman tuli dan orang dengan keterbatasan pendengaran untuk dapat berpartisipasi lebih baik dalam ekonomi digital melalui ekosistem Grab. Ada banyak pembaharuan dari sistem teknologi Grab seperti fitur bantuan khusus, materi pelatihan menggunakan subtitle dan juga alat bantu komunikasi di dalam mobil dan di atas motor.
(ars)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top