Milenial pun Gandrung Bercocok Tanam
Senin, 05 April 2021 - 19:30 WIB
loading...
A
A
A
Gibran mengakui, di situasi pandemi sekarang ini urban farming menjadi salah satu aktivitas paling masuk akal untuk menjaga kesehatan. "Olahraga membuat sehat. Tapi makanan yang dikonsumsi juga harus sehat. Maka banyak masyarakat kota yang mulai menanam sendiri untuk meyakinkan diri mereka, bahwa yang mereka konsumsi menyehatkan.
Hasil menanam sendiri memang jelas akan lebih sehat karena untuk dikonsumsi sendiri. Sehingga kita menjadi lebih tahu apa yang terjadi pada tanaman yang kita tanam. Adanya kekhawatiran bahwa hasil panen dari urban farming tidak sehatkarena di perkotaan banyak polusi, hujan asam dan lainnya. Menurut Gibran itu hanya kekhawatiran tak mendasar. “Jika dibandingkan dengan sayuran yang kita tidak tahu di mana ditanamnya dan siapa yang menanam, itu yang seharusnya membuat kita lebih khawatir. Bisa saja penggunaaan pestisida yang sangat banyak. Sementara, jika menanam sendiri dipastikan kita tidak mungkin akan menggunakan bahan seperti itu. Soal polusi, dapat disiasati oleh para pelaku urban farming ini dengan selalu mengontrol posisi tanaman agar jauh dari polusi,” ulasnya.
Adapun tanaman favorit para petani kota ini biasanya dimulai dari tanaman yang mudah ditanam dan dikonsumsi sehari-hari seperti bayam dan kangkung.Di Sendalu Permaculture fokus di tanaman tahunan, sehingga tidak perlu ditanam berkali-kali karena dapat dipanen terus menerus setelah 8 bulan masa penanaman selama ekosistemnya terjaga. Tanaman tahunan ini yaitu katuk, serai, pandan, bunga telang, singkong, bayam brazil, daun papaya jepang atau gedi, pepaya, dan beberapa jenis empon-emponan.
"Tapi sebenarnya masih banyak lagi (komoditas yang ditanam di urban farming) seperti daun mint. Kami juga ingin mereka yang melakukan urban farming dapat mengonsumsi sayuran yang lebih beragam. Banyak bibit juga yang kami mulai jual untuk memudahkan mereka yang ingin mencoba banyak jenis sayuran," ungkap Gibran.
Merambah Pertanian Skala Besar
Urban farming ini juga sangat besar prospek bisnisnya. Bahkan di komunitas besar seperti Indonesia Berkebun ada pasar kebun keliling. Sama seperti pasar tani yang dibuat oleh pemerintah, namun pasar kebun yang digagas komunitas urban farming masih dalam lingkup kecil. “Persediaan juga masih terbatas karena lahan kecil. Namun setidaknya hasil bercocok tanam dari para anggota dapat langsung dijual. Misalnya kolang kaling, teh rosela dan lainnya. Secara ekonomi memang tidak terlalu besar karena produk tidak banyak. Tapi yang saya lihat menarik, ketika kita mulai jualan suatu produk. Itu menjadi inspirasi bagi anggota lainnya. Semua dapat dimulai dari rumah misalnya buat teh rosela, dapat rosela dari menanam di rumah sendiri," jelas Gibran.
Direktur Utama Pandu Tani Indonesia (Patani) Sarjan Tahir mengatakan, tren urban farming saat pandemi bisa dijadikan momentum bagi masyarakat terutama kalangan milenial menyalurkan hobi bercocok tanam dan ke depannya sangat komersial. Bisnis urban farming, ujar Sarjan, sangat berpeluang karena di komunitas saling berbagi dan menginpirasi untuk sama-sama menekuni hobi yang dapat menambah penghasilan.
“Secara komersial (urban farming) sangat menjanjikan. Di beberapa tempat terutama kediaman (halaman rumah) bisa jadi lahan pertanian sekaligus store untuk jualan bibit, tanaman, ikan dan lain-lain. Pola seperti ini ini sangat menguntungkan bagi kaum muda mengisi waktu yang produktif. Ini bisa masuk kategori ekonomi kreatif, karena seni bisnis yang dijalankan anak muda ini unik dan penuh kreasi olahan. Seperti menanam tanaman hias dan komoditi pelengkap dapur mulai sayur-sayuran, cabe, dan banyak lagi, termasuk variasi tanaman organik yang terintegrasi dengan budidaya ikan,” kata Sarjan.
Hasil menanam sendiri memang jelas akan lebih sehat karena untuk dikonsumsi sendiri. Sehingga kita menjadi lebih tahu apa yang terjadi pada tanaman yang kita tanam. Adanya kekhawatiran bahwa hasil panen dari urban farming tidak sehatkarena di perkotaan banyak polusi, hujan asam dan lainnya. Menurut Gibran itu hanya kekhawatiran tak mendasar. “Jika dibandingkan dengan sayuran yang kita tidak tahu di mana ditanamnya dan siapa yang menanam, itu yang seharusnya membuat kita lebih khawatir. Bisa saja penggunaaan pestisida yang sangat banyak. Sementara, jika menanam sendiri dipastikan kita tidak mungkin akan menggunakan bahan seperti itu. Soal polusi, dapat disiasati oleh para pelaku urban farming ini dengan selalu mengontrol posisi tanaman agar jauh dari polusi,” ulasnya.
Adapun tanaman favorit para petani kota ini biasanya dimulai dari tanaman yang mudah ditanam dan dikonsumsi sehari-hari seperti bayam dan kangkung.Di Sendalu Permaculture fokus di tanaman tahunan, sehingga tidak perlu ditanam berkali-kali karena dapat dipanen terus menerus setelah 8 bulan masa penanaman selama ekosistemnya terjaga. Tanaman tahunan ini yaitu katuk, serai, pandan, bunga telang, singkong, bayam brazil, daun papaya jepang atau gedi, pepaya, dan beberapa jenis empon-emponan.
"Tapi sebenarnya masih banyak lagi (komoditas yang ditanam di urban farming) seperti daun mint. Kami juga ingin mereka yang melakukan urban farming dapat mengonsumsi sayuran yang lebih beragam. Banyak bibit juga yang kami mulai jual untuk memudahkan mereka yang ingin mencoba banyak jenis sayuran," ungkap Gibran.
Merambah Pertanian Skala Besar
Urban farming ini juga sangat besar prospek bisnisnya. Bahkan di komunitas besar seperti Indonesia Berkebun ada pasar kebun keliling. Sama seperti pasar tani yang dibuat oleh pemerintah, namun pasar kebun yang digagas komunitas urban farming masih dalam lingkup kecil. “Persediaan juga masih terbatas karena lahan kecil. Namun setidaknya hasil bercocok tanam dari para anggota dapat langsung dijual. Misalnya kolang kaling, teh rosela dan lainnya. Secara ekonomi memang tidak terlalu besar karena produk tidak banyak. Tapi yang saya lihat menarik, ketika kita mulai jualan suatu produk. Itu menjadi inspirasi bagi anggota lainnya. Semua dapat dimulai dari rumah misalnya buat teh rosela, dapat rosela dari menanam di rumah sendiri," jelas Gibran.
Direktur Utama Pandu Tani Indonesia (Patani) Sarjan Tahir mengatakan, tren urban farming saat pandemi bisa dijadikan momentum bagi masyarakat terutama kalangan milenial menyalurkan hobi bercocok tanam dan ke depannya sangat komersial. Bisnis urban farming, ujar Sarjan, sangat berpeluang karena di komunitas saling berbagi dan menginpirasi untuk sama-sama menekuni hobi yang dapat menambah penghasilan.
“Secara komersial (urban farming) sangat menjanjikan. Di beberapa tempat terutama kediaman (halaman rumah) bisa jadi lahan pertanian sekaligus store untuk jualan bibit, tanaman, ikan dan lain-lain. Pola seperti ini ini sangat menguntungkan bagi kaum muda mengisi waktu yang produktif. Ini bisa masuk kategori ekonomi kreatif, karena seni bisnis yang dijalankan anak muda ini unik dan penuh kreasi olahan. Seperti menanam tanaman hias dan komoditi pelengkap dapur mulai sayur-sayuran, cabe, dan banyak lagi, termasuk variasi tanaman organik yang terintegrasi dengan budidaya ikan,” kata Sarjan.
Lihat Juga :