Pacu Ekspor Biomassa ke Jepang, Kemendag Gelar Business Matching Virtual
Kamis, 08 April 2021 - 23:15 WIB
loading...
A
A
A
Pada pelaksanaan business matching pertama tersebut, terjadi kontrak dagang oleh PT Prima yang menerima pemesanan pertama dari Jepang. Rencananya, pada bulan Mei mendatang PT Prima akan mengirimkan 10.000 ton cangkang sawit.
Di masa mendatang, pemesanan diperkirakan dapat bertambah menjadi 150.000 ton per tahun. Direktur Pengembangan Kerja Sama Ekspor Marolop Nainggolan menambahkan, pemerintah Jepang tengah membangun 90 pembangkit listrik tenaga biomassa di Jepang.
Namun, masalah utama yang dihadapi yaitu dibutuhkannya pasokan bahan bakar yang stabil dalam jangka waktu lama. Produk turunan dari kayu seperti cangkang sawit (palm kernel shell), tangkai kelapa sawit (palm husk), dan kayu pelet (woodpellet) berpotensi sebagai bahan bakar yang baik dalam industri biomassa. ( Baca juga:54 Perusahaan Nasional Bakal Hadir dalam Ajang Hannover Messe 2021 )
Di samping peluang yang begitu besar,lanjut Marolop, harga yang diberikan pelaku usaha Indonesia masih kurang kompetitif akibat besarnya pungutan ekspor yang fluktuatif. Hal itu mengakibatkan eksportir cangkang sawit kesulitan menandatangani kontrak penjualan yang umumnya dilakukan dalam jangka panjang.
“Untuk itu, pemerintah berkomitmen mencari solusi dalam menjadikan sektor cangkang sawit sebagai komoditas siap ekspor dan berdaya saing dengan menghapus pungutan ekspor sebagai salah satu alternatif solusi,”tutup Marolop.
Di masa mendatang, pemesanan diperkirakan dapat bertambah menjadi 150.000 ton per tahun. Direktur Pengembangan Kerja Sama Ekspor Marolop Nainggolan menambahkan, pemerintah Jepang tengah membangun 90 pembangkit listrik tenaga biomassa di Jepang.
Namun, masalah utama yang dihadapi yaitu dibutuhkannya pasokan bahan bakar yang stabil dalam jangka waktu lama. Produk turunan dari kayu seperti cangkang sawit (palm kernel shell), tangkai kelapa sawit (palm husk), dan kayu pelet (woodpellet) berpotensi sebagai bahan bakar yang baik dalam industri biomassa. ( Baca juga:54 Perusahaan Nasional Bakal Hadir dalam Ajang Hannover Messe 2021 )
Di samping peluang yang begitu besar,lanjut Marolop, harga yang diberikan pelaku usaha Indonesia masih kurang kompetitif akibat besarnya pungutan ekspor yang fluktuatif. Hal itu mengakibatkan eksportir cangkang sawit kesulitan menandatangani kontrak penjualan yang umumnya dilakukan dalam jangka panjang.
“Untuk itu, pemerintah berkomitmen mencari solusi dalam menjadikan sektor cangkang sawit sebagai komoditas siap ekspor dan berdaya saing dengan menghapus pungutan ekspor sebagai salah satu alternatif solusi,”tutup Marolop.
(uka)
Lihat Juga :