Banyak Miliarder Berbondong-bondong Ingin Tinggalkan India
Kamis, 15 April 2021 - 10:14 WIB
loading...
A
A
A
"Saya pikir mereka (klien) menyadari bahwa mereka tidak ingin menunggu gelombang kedua atau ketiga pandemi. Mereka ingin memiliki surat-surat mereka sekarang, saat mereka duduk di rumah. Kami menyebutnya sebagai polis asuransi atau Rencana B," ujar Dominic Volek, Group Head of Private di Henley & Partners kepada BBC melalui panggilan video dari Dubai.
Baca Juga: Intip 18 Miliarder Asal Indonesia dalam Daftar Orang Terkaya di Dunia Versi Forbes
Menurut Volek, pandemi bisa menjadi pengubah permainan, karena itu membuat orang kaya berpikir tentang migrasi dengan cara yang lebih holistik. Ini bukan lagi hanya tentang perjalanan bebas visa, atau kemudahan akses ke pasar global, tetapi tentang diversifikasi kekayaan, perawatan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, untuk melindungi dari ketidakpastian yang dibawa oleh pandemi.
Negara-negara seperti Portugal, yang menjalankan program 'visa emas' serta negara-negara seperti Malta dan Siprus menjadi tujuan yang lebih disukai oleh orang kaya India menurut H&P.
Eksodus uang dalam jumlah besar diyakini tidak permanen, orang hanya menginvestasikan uang di negara lain sebagai pilihan. Tapi itu tidak menjadi pertanda baik bagi negara berkembang seperti India, kata para ahli.
Baca Juga: Intip 18 Miliarder Asal Indonesia dalam Daftar Orang Terkaya di Dunia Versi Forbes
Menurut Volek, pandemi bisa menjadi pengubah permainan, karena itu membuat orang kaya berpikir tentang migrasi dengan cara yang lebih holistik. Ini bukan lagi hanya tentang perjalanan bebas visa, atau kemudahan akses ke pasar global, tetapi tentang diversifikasi kekayaan, perawatan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, untuk melindungi dari ketidakpastian yang dibawa oleh pandemi.
Negara-negara seperti Portugal, yang menjalankan program 'visa emas' serta negara-negara seperti Malta dan Siprus menjadi tujuan yang lebih disukai oleh orang kaya India menurut H&P.
Eksodus uang dalam jumlah besar diyakini tidak permanen, orang hanya menginvestasikan uang di negara lain sebagai pilihan. Tapi itu tidak menjadi pertanda baik bagi negara berkembang seperti India, kata para ahli.
(akr)
Lihat Juga :