Minyak Jelantah Mau Masuk Program Biodiesel? Ntar Dulu...!

Minggu, 18 April 2021 - 09:30 WIB
loading...
Minyak Jelantah Mau...
Foto/AdamErlangga/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melihat semua potensi dari berbagai bahan baku untuk bisa dikembangkan secara komersial. Untuk bisa berkontribusi dalam program B30 , ada dua prinsip yang perlu dipenuhi oleh biodiesel.

Analis Kebijakan Ahli Muda, Subkoordinator Keteknikan Bioenergi Kementerian ESDM, Hudha Wijayanto mengatakan, prinsip pertama adalah secara kualitas harus mencapai standar spesifikasi biodesel. Prinsip kedua, secara keekonomian juga harus dapat terimplementasi. Dia menyebut, biodiesel berpotensi mengurangi 91,7% emisi karbon dibandingkan solar. ( Baca juga:Kisah Pemuda Raup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Biodiesel )

"Jika kedua prinsip tersebut bisa dipenuhi oleh biodiesel dari jelantah, maka potensi jelantah sebesar 3 juta kiloliter per tahun akan dapat memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional,” ujar Hudha dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/4/2021).

Hudha menuturkan, terdapat tantangan lain terkait minyak jelantah, karena dari sisi teknis terdapat karakteristik bawaan dari minyak jelantah yang akan sulit memenuhi tuntutan tinggi kualitas biodiesel untuk B30. Sedangkan, dari dari sisi bisnis, keberadaan minyak jelantah sebagai bahan baku yang tersebar dan tidak terpusat akan menyulitkan membangun pengolahan biodiesel dengan kapasitas yang besar untuk mendapatkan skala keekonomian terbaiknya.

"Mungkin solusi yang baik adalah mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati dari minyak jelantah melalui skema niaga langsung ke end user (skema tertutup) di luar dari skema B30 yang berlaku secara nasional," kata dia.

Dia menjelaskan, dari data empiris yang dimiliki Kementerian ESDM tentang pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan bakar nabati biodiesel menunjukkan, masih sedikit dari potensi minyak jelantah yang ada tersebut untuk bisa dimanfaatkan sebagai biodiesel, yang memenuhi sisi standar kualitas spesifikasi dan sisi harga keekonomiannya. ( Baca juga:Iran Identifikasi Pria di Balik Ledakan Fasilitas Nuklir Natanz )

Menurutnya, program sosialisasi minyak jelantah membutuhkan kesiapan industri pengolahan dan produksinya terlebih dahulu. Jika di masa mendatang bahan bakar dari minyak jelantah terbukti secara masif dapat dikembangkan, Kementerian ESDM dipastikan juga akan mengalokasikan sumber daya untuk mensosialisasikan penggunaan bahan bakar dari minyak jelantah kepada masyarakat.

"Karena pada beberapa hal bahan bakar nabati dari jelantah punya sejumlah keunggulan dibandingkan bahan bakar dari bahan baku lain,” ucapnya.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Harga Batu Bara Acuan...
Harga Batu Bara Acuan Periode II Juli Naik Lagi, Kini Jadi USD131,85 per Ton
Blok Masela Ditargetkan...
Blok Masela Ditargetkan Produksi 2029, Alokasi Gas Domestik Capai 60%
Indonesia Targetkan...
Indonesia Targetkan 50% Bahan Bakar Pesawat Pakai Minyak Jelantah di 2060
Elnusa Petrofin Salurkan...
Elnusa Petrofin Salurkan Perdana Biosolar B50 untuk Sektor Industri
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
Tata Kelola RKAB Perlu...
Tata Kelola RKAB Perlu Dibenahi demi Menjaga Pasokan Batu Bara
UB Gandeng CNGR-Kementerian...
UB Gandeng CNGR-Kementerian ESDM, Perkuat Hilirisasi Industri dan Siapkan SDM Unggul
Polri Bakal Periksa...
Polri Bakal Periksa Kementerian ESDM Terkait Korupsi Pengadaan Batu Bara PLTU
Transisi Energi, Prabowo...
Transisi Energi, Prabowo Akan Luncurkan BBM B50 pada 9 Juli 2026
Rekomendasi
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
Mutasi Kejagung, Dirdik...
Mutasi Kejagung, Dirdik Jampidsus hingga Dirdik III Jamintel Diganti
Sah! Nathalie Holscher...
Sah! Nathalie Holscher Resmi Menikah dengan Arief Fadli, Jawaban Doa Umrah
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
Infografis
34 PTS yang Masuk THE...
34 PTS yang Masuk THE Sustainability Impact Ratings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved