Duh! Ada Ancaman Baru yang Bisa Bikin Ekonomi RI Demam Lagi
Kamis, 20 Mei 2021 - 14:07 WIB
loading...
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. Foto/Dok. SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Memasuki tahun 2021, semua negara di dunia masih sibuk berjuang memerangi pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Sembari melawan pandemi, negara-negara di dunia juga terus berupaya memulihkan perekonomiannya seperti sedia kala.
Di tengah situasi yang masih menantang tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengisyaratkan agar semua tetap waspada. Menurutnya, ada ancaman baru yang bisa membuat pemulihan ekonomi mandek kembali.
Baca Juga: Kesehatan Ekonomi Jadi Fokus di Tahun Kedua Covid-19, Sri Mulyani Ajak Semua Pihak Mengawal
Sri Mulyani mengatakan, proyeksi kenaikan inflasi yang meningkat di Amerika Serikat (AS) perlu diwaspadai. Pasalnya, hal itu berpotensi mengancam momentum pemulihan ekonomi Negeri Adi Daya tersebut apabila diikuti dengan pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed.
"Ini dapat menciptakan efek rambatan (spillover), volatilitas dan ketidakpastian di sektor keuangan, serta dinamika arus modal global seperti saat terjadinya taper tantrum," jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (20/5/2021).
Untungnya, kata dia, sejauh ini pasar keuangan global cenderung stabil. Hal ini terlihat dari turunnya indeks volatilitas di pasar saham dan pasar obligasi global. Selain itu, aliran modal ke negara-negara berkembangn (emerging markets) juga masih terus menunjukkan tren positif.
Karena itu, Sri Mulyani meminta upaya pengendalian pandemi jangan berhenti. Sebab, hal itu turut mendukung pemulihan ekonomi di dalam negeri.
Di tengah situasi yang masih menantang tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengisyaratkan agar semua tetap waspada. Menurutnya, ada ancaman baru yang bisa membuat pemulihan ekonomi mandek kembali.
Baca Juga: Kesehatan Ekonomi Jadi Fokus di Tahun Kedua Covid-19, Sri Mulyani Ajak Semua Pihak Mengawal
Sri Mulyani mengatakan, proyeksi kenaikan inflasi yang meningkat di Amerika Serikat (AS) perlu diwaspadai. Pasalnya, hal itu berpotensi mengancam momentum pemulihan ekonomi Negeri Adi Daya tersebut apabila diikuti dengan pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed.
"Ini dapat menciptakan efek rambatan (spillover), volatilitas dan ketidakpastian di sektor keuangan, serta dinamika arus modal global seperti saat terjadinya taper tantrum," jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (20/5/2021).
Untungnya, kata dia, sejauh ini pasar keuangan global cenderung stabil. Hal ini terlihat dari turunnya indeks volatilitas di pasar saham dan pasar obligasi global. Selain itu, aliran modal ke negara-negara berkembangn (emerging markets) juga masih terus menunjukkan tren positif.
Karena itu, Sri Mulyani meminta upaya pengendalian pandemi jangan berhenti. Sebab, hal itu turut mendukung pemulihan ekonomi di dalam negeri.
Lihat Juga :