Produksi Blok Rokan Jadi Taruhan, Pasokan Listrik-Uap Harus Segera Dipastikan
Senin, 24 Mei 2021 - 06:29 WIB
loading...
A
A
A
Namun, imbuh dia, agar skenario ini mulus, PLN perlu mengakuisisi PLTGU NDC dengan efisien. Namun, harga yang ditawarkan yang disebut-sebut mencapai USD300 juta (sekitar Rp4,2 triliun dengan kurs Rp14.000/USD) dinilai kemahalan. Sementara, PLN hanya akan menggunakan PLTGU NDC milik MCTN itu selama tiga tahun.
Baca Juga: Pakar Hukum: Transisi Blok Rokan dari Chevron ke Pertamina Jangan Menyisakan Masalah
Sebagai informasi, MCTN mengoperasikan PLTGU NDC sejak tahun 2000. Nilai investasi MCTN saat membangun PLTGU NDC adalah sekitar USD190 juta.
Di bagian lain, Direktur Eksekutif ‎Institute for Essential Services Reform (IESR) Faby Tumiwa, mengatakan bahwa ada nilai strategis dari kontrak yang dimiliki MTCN dengan CPI. Karena nilai strategis itu, Chevron menurutnya enggan menjual murah aset tersebut dan melakukan lelang. Dia menilai, Chevron mencoba mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari kondisi tersebut.
"Apapun motif sebenarnya hanya pihak Chevron yang tahu. Yang jelas produksi Rokan tidak boleh turun dan tidak boleh berhenti beroperasi untuk menjamin kontinuitas produksi. Kalau berhenti beroperasi, waktu dan biaya untuk meningkatkan produksi cukup besar dan lama. Bagi Pertamina, risiko ini yang harus dihindari," jelasnya.
Baca Juga: Pakar Hukum: Transisi Blok Rokan dari Chevron ke Pertamina Jangan Menyisakan Masalah
Sebagai informasi, MCTN mengoperasikan PLTGU NDC sejak tahun 2000. Nilai investasi MCTN saat membangun PLTGU NDC adalah sekitar USD190 juta.
Di bagian lain, Direktur Eksekutif ‎Institute for Essential Services Reform (IESR) Faby Tumiwa, mengatakan bahwa ada nilai strategis dari kontrak yang dimiliki MTCN dengan CPI. Karena nilai strategis itu, Chevron menurutnya enggan menjual murah aset tersebut dan melakukan lelang. Dia menilai, Chevron mencoba mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari kondisi tersebut.
"Apapun motif sebenarnya hanya pihak Chevron yang tahu. Yang jelas produksi Rokan tidak boleh turun dan tidak boleh berhenti beroperasi untuk menjamin kontinuitas produksi. Kalau berhenti beroperasi, waktu dan biaya untuk meningkatkan produksi cukup besar dan lama. Bagi Pertamina, risiko ini yang harus dihindari," jelasnya.
(fai)
Lihat Juga :