Belajar dari Krisis 2008, BI Andalkan Kebijakan Makroprudensial
Jum'at, 28 Mei 2021 - 11:00 WIB
loading...
Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia Destry Damayanti. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari krisis ekonomi yang menimpa dunia di tahun 2008.
"Krisis ekonomi global di tahun 2008-2009 menyadarkan bank sentral di seluruh dunia untuk mengembangkan implementasi kebijakan makroprudensial. Kebijakan itu dianggap mampu menjaga stabilitas keuangan," ujar Destry dalam peluncuran buku 'Kebijakan Makroprudensial di Indonesia' secara virtual di Jakarta, Jumat (28/5/2021).
Baca Juga: Airlangga: Perusahaan Perlu Menyiapkan Tameng Hadapi Krisis
Dari krisis tersebut, bisa dilihat macro financial linkage yang semakin menguat dan risikonya yang belum bisa dimitigasi secara optimal oleh kebijakan moneter konvensional. "Kebijakan makroprudensial dipercaya lebih baik dibandingkan kebijakan moneter klasik yang hanya menargetkan stabilitas makro ekonomi dan stabilitas harga," tambahnya.
Dia menilai, kebijakan ini mampu memberikan efek ke berbagai industri keuangan dan pembayaran. Dalam situasi sekarang, hubungan sektor keuangan, pembayaran fintech, dan sektor riil sangat erat dan kompleks. "Oleh karena itu implementasi makroprudensial yang bersifat countercyclical dapat menjaga stabilitas makro ekonomi dan menghindari systemic crisis," imbuhnya.
"Krisis ekonomi global di tahun 2008-2009 menyadarkan bank sentral di seluruh dunia untuk mengembangkan implementasi kebijakan makroprudensial. Kebijakan itu dianggap mampu menjaga stabilitas keuangan," ujar Destry dalam peluncuran buku 'Kebijakan Makroprudensial di Indonesia' secara virtual di Jakarta, Jumat (28/5/2021).
Baca Juga: Airlangga: Perusahaan Perlu Menyiapkan Tameng Hadapi Krisis
Dari krisis tersebut, bisa dilihat macro financial linkage yang semakin menguat dan risikonya yang belum bisa dimitigasi secara optimal oleh kebijakan moneter konvensional. "Kebijakan makroprudensial dipercaya lebih baik dibandingkan kebijakan moneter klasik yang hanya menargetkan stabilitas makro ekonomi dan stabilitas harga," tambahnya.
Dia menilai, kebijakan ini mampu memberikan efek ke berbagai industri keuangan dan pembayaran. Dalam situasi sekarang, hubungan sektor keuangan, pembayaran fintech, dan sektor riil sangat erat dan kompleks. "Oleh karena itu implementasi makroprudensial yang bersifat countercyclical dapat menjaga stabilitas makro ekonomi dan menghindari systemic crisis," imbuhnya.
Lihat Juga :