Proyek Pergudangan Mencari Celah di Tengah Menjamurnya Bisnis Online

Kamis, 10 Juni 2021 - 15:11 WIB
loading...
Proyek Pergudangan Mencari Celah di Tengah Menjamurnya Bisnis Online
Kioson akan membangun sebanyak 100 Fulfillment Centre yang akan mengakomodir 200.000 pelaku UMKM yang spesifik warung kelontong di Yogyakarta, Solo, Semarang dan sekitarnya. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Laju pertumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan pada triwulan 4 – 2020 yang dilansir oleh BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat adanya kenaikan hingga 13,42 %. Data tersebut berbanding lurus dengan lonjakan transaksi e-commerce yang dirilis oleh Menkominfo yakni sebesar 26,9% dari Rp205,5 triliun pada 2019 menjadi Rp266,3 triliun.

Salah satu faktor pertumbuhan ini terjadi akibat dampak pandemi Covid-19 yang merubah perilaku masyarakat Indonesia dalam bertransaksi antara lain offline to online, jaga jarak sosial dan cashless (tidak menggunakan uang tunai).

Baca Juga: Suburnya Bisnis Online di Tengah Pandemi COVID-19, Jadi Potensi Baru Proyek Pergudangan

PT Kioson Komersial Indonesia Tbk., perusahaan berbasis teknologi-aplikasi yang pertama kali melakukan IPO pada tahun 2017 lalu, melalui inovasi terbarunya GudangPintar.id membidik bidang Logistik Pintar dan Pergudangan sebagai salah satu strategi dalam mengakomodir kebutuhan transaksi e-commerce yang semakin naik dengan meresmikan fulfillment Centre di Yogyakarta, Kabupaten Bantul.

GudangPintar.id diyakini oleh Kioson dapat membuka akses penjual daring dan konsumen menjadi lebih mudah, seperti yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Kioson Komersial Indonesia Tbk, Reginald Trisna. Diterangkan GudangPintar.id merupakan inisiasi perusahaan untuk memenuhi celah siklus dari belanja daring yakni logistik, peran dan pengemasan.

Pembangunan fulfillment centre di wilayah Yogyakarta kabupaten Bantul merupakan fullfilment pertama untuk GudangPintar.id yang akan tersebar di seluruh Indonesia.

Pemilihan Yogyakarta sebagai debutan pembangunan fulfilment center bukan tanpa alasan. Berdasarkan yang dirilis oleh databoks, kota Gudeg merupakan wilayah di Indonesia yang memiliki pelaku e-commerce terbesar di Indonesia dengan persentase 27%.

“Yogyakarta kami yakini masyarakatnya memiliki literasi yang cukup baik tentang e-commerce, belanja daring dan transaksi non tunai. Menurut informasi yang kami terima dari beberapa media, pemerintah daerah dan regulator keuangan ingin mendorong masyarakat Yogyakarta untuk secara aktif menghadapi transisi dari offline ke online,” Lanjut Reginald Trisna.

Rencananya Kioson akan membangun sebanyak 100 Fulfillment Centre yang akan mengakomodir 200.000 pelaku UMKM yang spesifik warung kelontong di Yogyakarta, Solo, Semarang dan sekitarnya. Satu lokasi Fulfillment Centre GudangPintar.id dengan luas bangunan 350m2 dan luas tanah hingga 1.500 m2 akan menjangkau 1.000 Warung Kelontong yang akan menjadi layer terakhir dari GudangPintar.id.

“Fungsi dari GudangPintar.id antara lain adalah penyimpanan (storage), pengemasan (packing) dan pengiriman (transportasi) yang akan dikelola oleh sistem manajemen yang dikembangkan oleh Kioson, sehingga penjual daring dapat mengelola stok dan pengiriman produk menjadi lebih mudah,” kata Direktur Kioson, Ornela Bartin.

Baca Juga: Pergerakan Logistik Nasional Meningkat 7% Dibanding Tahun Lalu

Setelah Yogyakarta Kioson akan fokus membangun fulfillment Centre di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Saat ini Kioson sudah menandatangani MOU untuk 100 gudang di Jawa Tengah, saat rilis ini disebar total pembangunan Gudang sudah mencapai 5 gudang dan dijadwalkan 100 gudang akan selesai pada Agustus 2021.

“Target kami setelah membangun 100 fulfillment centre, kami dapat memfasilitasi 200.000 warung kelontong. Proyek ini diharapkan akan menjadi proses dan evaluasi untuk pengembangan GudangPintar.id di wilayah lain yang mana saat ini Kioson memiliki mitra warung kelontong sebanyak 2.000.000 dari seluruh Indonesia,” tutup Ornela Bartin.
(akr)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1905 seconds (10.55#12.26)