Harga Batu Bara Terkerek Kenaikan Permintaan China

Senin, 14 Juni 2021 - 17:45 WIB
loading...
Harga Batu Bara Terkerek...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Head of Corporate Ratings PT PEFINDO, Niken Indriarsih, mengatakan harga batu bara global menunjukkan penguatan yang signifikan. Penguatan itu disebabkan oleh spekulasi kenaikan permintaan di China .

Naiknya permintaan China karena pemulihan ekonomi negara itu mulai menggeliat. Pemulihan itu karena vaksinasi yang dijalankan sehingga kondisi ekonominya jauh lebih baik dibandingkan 2020.

“Kemajuan yang terjadi di China itu memicu naiknya permintaan. Terutama permintaan meningkat dari sektor rumah tangga,” ujarnya dalam Market Review di IDX Channel, Senin (14/6/2021).

Baca juga:Bacaan dan Keutamaan Zikir Hauqolah

Terkait hal tersebut, akan memicu pendapatan dari para pemain di sektor batu bara. Niken menerangkan, perlu adanya perhatian lebih rinci lagi dari sisi penjualan. Apakah banyak diperoleh dari porsi spot atau kontrak.

“Kalau penjualan secara kontrak, harga sudah ditentukan sebelumnya. Sementara porsi spot yang lebih besar bisa diuntungkan dengan potensi kenaikan pendapatan yang lebih besar pada tahun ini. Walaupun tentunya akan ada risiko tambahan pada saat harga batu bara mengalami penurunan,” jelas Niken.

Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkap Indonesia berencana mengurangi penggunaan batu bara hingga 60% pada tahun 2050. Kebijakan dilakukan untuk menekan dampak krisis iklim dan sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca yang berperan besar dalam peningkatan suhu global.

Merujuk pada wacana pemerintah tersebut, Niken menilai kebijakan itu adalah suatu langkah yang baik untuk mengamankan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, kemudian juga untuk mengurangi dampak buruk yang dihasilkan dari industri pertambangan bagi lingkungan.

Niken memprediksi rencana pemerintah baru dapat terealisasikan dalam jangka panjang, lantaran perlu mempertimbangkan infrastruktur dan kebijakan pendukung. Baginya semua rencana tersebut perlu dipersiapkan dengan baik.

Baca juga:Jelang Bigmatch Lawan Jerman, Mbappe dan Giroud Malah Bertengkar

“Dan juga dari kontrak yang masih berlaku antara perusahaan listrik negara dengan penyedia listrik pihak ketiga,” tambahnya.

Selanjutnya, Niken menyampaikan bahwa PLN akan mengkaji rencana pemerintah begitu juga kontrak-kontrak tersebut kapan berakhirnya. Dalam hal ini, ia memprediksikan paling cepat sekitar tahun 2030 kontrak berakhir.

“Sambil menunggu proses berlangsung, dalam jangka panjang PLN akan melakukan pengurangan konsumsi tenaga uap dengan pembangkit listrik yang memakai tenaga terbarukan,” terangnya.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
ESDM Menjawab Isu Pasokan...
ESDM Menjawab Isu Pasokan Batubara Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Pulau Jawa
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Rekomendasi
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved