RI Disarankan Gandeng Malaysia untuk Stabilkan Harga Minyak Sawit
Kamis, 01 Juli 2021 - 22:45 WIB
loading...
A
A
A
Kendati demikian, Fadhil menekankan bahwa Indonesia bukanlah satu-satunya negara penghasil CPO di dunia. Masih ada negara lain yang menjadi produsen CPO dan dapat digandeng untuk berkolaborasi guna menjaga harga di pasar internasional supaya stabil.
“Walaupun negara kita penghasil sawit yang terbesar, tapi kita bukan satu-satunya negara penghasil CPO. Untuk bisa menstabilisasi harga di pasar internasional, kita harus bekerja sama contohnya dengan Malaysia. Sebab, Malaysia juga punya peranan penting dalam menstabilkan harga,” ucapnya.
Di Malaysia program biodiesel masih berkisar di B10. Menurut dia, Malaysia masih bisa berkesempatan untuk meningkatkan pada program B30 yang sama seperti di Indonesia sehingga dapat membantu stabilitas harga di dalam negeri.
Baca juga: Menko Luhut: Tidak Ada Mal yang Buka Sampai Tanggal 20 Juli
Sementara itu, Fadhil mengungkapkan terkait pungutan ekspor yang terlalu besar di Indonesia, sehingga negara kehilangan daya saing dibandingkan dengan Malaysia. “Beberapa bulan yang lalu kita diambil alih di pasar India oleh Malaysia,” tukasnya. Namun, lanjut Fadhil, sekarang ini sudah dilakukan koreksi resisi dari pungutan ekspor tersebut sehingga diharapkan Indonesia bisa lebih kompetitif.
“Walaupun negara kita penghasil sawit yang terbesar, tapi kita bukan satu-satunya negara penghasil CPO. Untuk bisa menstabilisasi harga di pasar internasional, kita harus bekerja sama contohnya dengan Malaysia. Sebab, Malaysia juga punya peranan penting dalam menstabilkan harga,” ucapnya.
Di Malaysia program biodiesel masih berkisar di B10. Menurut dia, Malaysia masih bisa berkesempatan untuk meningkatkan pada program B30 yang sama seperti di Indonesia sehingga dapat membantu stabilitas harga di dalam negeri.
Baca juga: Menko Luhut: Tidak Ada Mal yang Buka Sampai Tanggal 20 Juli
Sementara itu, Fadhil mengungkapkan terkait pungutan ekspor yang terlalu besar di Indonesia, sehingga negara kehilangan daya saing dibandingkan dengan Malaysia. “Beberapa bulan yang lalu kita diambil alih di pasar India oleh Malaysia,” tukasnya. Namun, lanjut Fadhil, sekarang ini sudah dilakukan koreksi resisi dari pungutan ekspor tersebut sehingga diharapkan Indonesia bisa lebih kompetitif.
(ind)
Lihat Juga :