Hingga Juni, Penjualan Domestik Indocement Tumbuh 8,8%

loading...
Hingga Juni, Penjualan Domestik Indocement Tumbuh 8,8%
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) saat menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta belum lama ini. Foto/Ist
JAKARTA - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) membukukan volume penjualan domestik (semen dan klinker) secara keseluruhan sebesar 8 juta ton pada semester I/2021 meningkat 642.000 ton atau 8,8% dari periode yang sama tahun lalu yang menetapkan pangsa pasar perseroan menjadi 25,6% untuk semester I/2021.

Direktur dan Corporate Secretary Indocement Tunggal Prakarsa Antonius Marcos mengatakan volume penjualan perseroan di luar Jawa tumbuh sebesar 10,6% (pangsa pasar 15,7%) lebih tinggi dari pertumbuhan di Jawa sebesar 3% (pangsa pasar 34,3%). Peningkatan di luar Jawa terutama berada di Sulawesi dengan pertumbuhan volume penjualan sebesar 61,3% (pangsa pasar 8,9%) didukung oleh proyek smelter di Konawe, serta diikuti pertumbuhan penjualan di Kalimantan sebesar 15,7% (pangsa pasar 22,3%) dan Sumatera sebesar 10,8% (pangsa pasar 13,1%).

“Pendapatan neto perseroan meningkat 8% menjadi Rp6,6 triliun dibandingkan semester I/2020 sebesar Rp6,1 triliun yang terutama disebabkan oleh peningkatan volume penjualan,” kata Antonius dalam keterangan rilisnya di Jakarta, Selasa (3/8/2021).

Baca Juga : Greysia/Apriyani Dapat Hadiah Rumah dari Agung Sedayu Group

Sementara itu, laba periode berjalan meningkat tajam 24,8% menjadi Rp586,6 miliar pada semester I/2021 dibandingkan Rp470,0 miliar dari periode yang sama tahun lalu. Emiten berkode INTP ini juga membukukan posisi kas bersih dengan Kas dan Setara Kas sebesar Rp8,1 triliun pada tanggal 30 Juni 2021. Arus kas yang kuat dihasilkan dari kegiatan operasi dan upaya berkelanjutan yang dilakukan manajemen untuk meningkatkan modal kerja adalah kunci untuk mempertahankan neraca perseroan yang tangguh.



“Pembayaran dividen sebesar Rp500 per saham yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Juli 2021 akan dibagikan di Agustus 2021 sehingga dengan dividen interim Rp225 per saham yang telah dibayarkan di Desember 2020, total dividen tahun 2020 adalah Rp725 per saham,” jelasnya.

Menurutnya, dengan posisi neraca yang kuat dan tanpa utang pada bank, Indocement siap melakukan investasi baik untuk program digitalisasi dan otomatisasi operasional perseroan mulai dari cara penjualan semen sampai operasional pabrik. Investasi juga dilakukan untuk mengkonversi pabrik agar dapat menggunakan bahan bakar alternatif dan memproduksi produk-produk yang lebih ramah lingkungan serta untuk ekspansi pada bidang logistik dan distribusi. Indocement juga siap untuk berpartisipasi untuk kemungkinan konsolidasi pada industri semen di masa depan.

Corporate Finance Manager Indocement Tunggal Prakarsa David Halim menambahkan semester pertama tahun ini telah memberikan signal yang positif terhadap pemulihan ekonomi namun sejak Juli dimana Indonesia kembali mengalami gelombang pandemi kedua yang diikuti oleh pembatasan mobilitas yang ketat dari pemerintah, Covid-19 merupakan faktor ketidakpastian yang berkelanjutan pada pemulihan ekonomi.

“Namun demikian Indocement tetap optimis terhadap konsumsi semen domestik pada tahun 2021 ini dengan perkiraan pertumbuhan 5%. Dari tahun-tahun sebelumnya, konsumsi semen di semester kedua telah bertumbuh lebih dari 30% dibandingkan semester pertama,” kata David.

Baca Juga : Saham Emiten Perhotelan dan Pariwisata Limbung Dihantam Pandemi

Tren yang sama diperkirakan akan berlanjut disebabkan oleh penyelesaian anggaran belanja pada akhir tahun pada proyek-proyek yang sedang berjalan, lebih banyaknya proyek-proyek infrastruktur dan swasta yang akan mulai di semester kedua, serta sektor perumahan yang mendapat keuntungan dari insentif PPN untuk rumah baru, suku bunga yang lebih rendah, termasuk relaksasi pada rasio LTV/ FTV.

“Tentunya harapan akan pemulihan konsumsi semen tersebut pada akhirnya akan banyak bergantung pada tingkat penyebaran Covid-19 yang dapat dikendalikan dengan baik,” harapnya.



Faktor lain yang juga membuat ketidakpastian berkenaan dengan tingginya kenaikan biaya energi baik harga pembelian batu bara maupun harga bahan bakar. Hal ini akan membutuhkan Perseroan untuk terus melakukan efisiensi baik dalam biaya produksinya maupun dengan berbagai inovasi untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif di kemudian hari.
(dar)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top