alexametrics

Rupiah Diprediksi Tertekan Diterpa Sentimen Negatif Global

loading...
Rupiah Diprediksi Tertekan Diterpa Sentimen Negatif Global
Nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini diperkirakan bakal tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) seiring peningkatan ketegangan AS dan China. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini diperkirakan bakal tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, kelihatannya sentimen negatif peningkatan ketegangan AS dan China mulai menguat sehingga menekan turun harga aset-aset berisiko.

Tapi di sisi lain, peningkatan ketegangan AS dan China kelihatannya turut memicu pelemahan nilai tukar dollar AS terhadap nilai tukar lainnya karena hubungan AS dan China yang memburuk bisa mendorong pelemahan ekonomi AS.

"Nilai tukar rupiah bisa turut tertekan terhadap dollar AS mengikuti sentimen negatif tersebut," kata Ariston di Jakarta, Jumat (29/5/2020).



Dia melanjutkan, pelemahan juga tidak terlalu dalam karena dollar AS sebenarnya juga mendapatkan sentimen negatif dari ketegangan hubungan AS dan China. "Potensi pergerakan rupiah hari ini di kisaran Rp14.650 hingga Rp14.780 per USD," katanya.

Di sisi lain Wall Street berakhir lebih rendah pada perdagangan, Kamis waktu setempat untuk berbalik jatuh usai sempat mencuatkan sinyal kebangkitan. Sentimen negatif datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan siap mengetatkan regulasi dan bahkan mengancam menutup media sosial seperti Twitter dan Facebook karena dinilai membungkam suara kaum konservatif.

Selain itu kekhawatiran lain muncul terkait hubungan AS dan China yang kemungkinan mendorong perlambatan. Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow mengatakan bahwa Hong Kong saat ini mungkin akan diperlakukan seperti China terkait soal perdagangan dan hal lain. China sendiri telah menyetujui proposal untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru untuk Hong Kong
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top